BerandaHits
Senin, 22 Feb 2026 17:36

Manisnya Buah Tanpa Biji dan Perampokan Kemandirian

Semangka tanpa biji. (Ist via Detik)

Makan anggur atau semangka tanpa biji memang praktis dan nggak bikin ribet, Millens. Tapi pernah terpikir nggak, kalau hilangnya biji itu bukan sekadar soal kenyamanan, melainkan cara industri buat bikin kita terus ketergantungan? Yuk, bedah kaitan antara seedless fruit dengan hilangnya koneksi kita terhadap alam!

Inibaru.id - Pernah nggak sih kamu lagi asyik makan anggur atau semangka, terus tiba-tiba merasa bersyukur banget karena nggak perlu repot-repot lepeh bijinya? Buah seedless atau tanpa biji memang jadi primadona di supermarket karena dianggap praktis dan nggak bikin ribet. Tapi, di balik kemudahannya, ternyata ada diskusi menarik yang lagi ramai nih: apakah hilangnya biji dari buah kita cuma soal kenyamanan, atau ada sesuatu yang lebih besar yang "dirampas" dari kita?

Baru-baru ini, sebuah unggahan dari akun Instagram @ikigai.mom memicu obrolan hangat mengenai makna filosofis dan kesehatan di balik buah tanpa biji. Dalam unggahan tersebut, ditekankan bahwa biji sebenarnya adalah simbol kehidupan dan kemandirian.

Biji Lebih dari Sekadar 'Pengganggu' saat Makan

Bagi sebagian orang, biji mungkin cuma bagian buah yang mengganggu tekstur. Padahal, biji adalah pembawa energi, kecerdasan hayati, dan kemampuan untuk beregenerasi. Biji mengandung senyawa yang sangat kuat bagi tanaman, mulai dari antioksidan hingga mineral. Komponen inilah yang sebenarnya mendukung penyembuhan dan kekuatan seluler pada tubuh manusia.

Unggahan tersebut menyebut buah berbiji sebagai high-frequency food alias makanan yang utuh, hidup, dan reproduktif. Sementara itu, buah tanpa biji dianggap hanya menawarkan kenyamanan, namun kehilangan "kekuatan" alaminya.

Urusan Kemandirian

Tanpa biji, kita akan kesulitan menanamnya kembali. (via Bibit Bunga)

Poin paling menohok dari diskusi ini adalah soal ketergantungan kita sebagai konsumen. Gez, coba bayangkan kalau buah nggak punya biji, gimana caranya kita menanamnya kembali di halaman rumah? Ketika biji-biji itu menghilang dari piring kita, hilang juga kemampuan kita untuk menanam makanan sendiri.

Inilah yang disebut sebagai hilangnya independensi. Jika kita nggak bisa menanamnya, kita dipaksa untuk terus membelinya. Lagi, lagi, dan lagi. Hubungan kita dengan alam yang tadinya bersifat timbal balik (menanam dan memanen), kini bergeser menjadi hubungan transaksional antara pembeli dan supermarket.

Pergeseran Gaya Hidup

Tanpa kita sadari, kenyamanan telah menggantikan koneksi kita dengan tanah. Supermarket telah menggantikan kebun, dan kontrol industri telah menggantikan peran kita sebagai penjaga alam. Mengonsumsi buah tanpa biji memang praktis, tapi ada harga yang harus dibayar, yaitu ketergantungan penuh pada rantai pasok komersial.

Tentu saja, buah tanpa biji hasil pemuliaan tanaman nggak lantas jadi "racun". Namun, diskusi ini mengajak kita untuk lebih conscious atau sadar terhadap apa yang kita makan. Apakah kita hanya mengejar praktisnya saja, atau kita masih peduli dengan aspek keberlanjutan dan kemandirian pangan?

Jadi, gimana menurut kamu, Gez? Masih tim praktis buah tanpa biji, atau mulai rindu menanam bibit anggur sendiri dari bijinya di pot teras rumah? Yang pasti, sehat itu berawal dari kesadaran kita terhadap apa yang masuk ke dalam tubuh! (Siti Zumrokhatun/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Blok GM, Surga Anak Skena, dan Wajah Baru Kota Semarang saat Malam

9 Apr 2026

Puting Beliung Terjang Banyumanik, Pemkot Semarang Akan Perbaiki Rumah Warga Terdampak

9 Apr 2026

Kembalikan Ruh, Tiket Masuk Resmi Ditiadakan dalam Tradisi Bulusan

9 Apr 2026

Pecinan Semarang Bakal Dikelilingi Arak-arakan 50 Kelenteng Akhir Pekan Ini!

10 Apr 2026

30 Persen Jemaah Haji asal Semarang Masuk Kategori Muda, Puluhan di Antaranya Gen Z

10 Apr 2026

Kolaborasi AMSI dan Meta untuk Dukung Jurnalisme Berkualitas

10 Apr 2026

Jaga Produksi, Pengusaha Tahu Semarang Putar Otak saat Harga Kedelai dan Plastik Naik

10 Apr 2026

Ogah Cuma Jadi Formalitas, Sumanto Pengin Bedah LKPJ 2025 Hasilkan Solusi Nyata buat Jateng

11 Apr 2026

Investasi buat Anak Cucu, Sumanto Ajak Relawan Jaga Kali-Rawat Bumi

12 Apr 2026

Kecelakaan (Lagi) di Silayur Semarang, Mau sampai Kapan?

12 Apr 2026

Bernuansa Spiritual, Tradisi Kirab Kelenteng di Pecinan Semarang

13 Apr 2026

Lansia Dominasi Calhaj Asal Semarang, Kesehatan jadi Tantangan Serius

13 Apr 2026

ASN Jateng WFH Tiap Jumat, Sumanto: Jangan Sampai Pelayanan Publik Malah Libur

13 Apr 2026

Dishub Perketat Akses Masuk ke Silayur, Dua Portal Disiapkan untuk Batasi Truk Tronton

14 Apr 2026

Forbasi Matangkan Struktur Organisasi via Rakernas dan Sertifikasi Juri-Pelatih

14 Apr 2026

Ikhtiar Warga Silayur, Kembalikan Tradisi Ruwatan untuk Keselamatan Pengguna Jalan

14 Apr 2026

Grup Cowok: Batas Tipis antara Bercanda dan Pelecehan Seksual

15 Apr 2026

Menanti Surpres, Nasib RUU PPRT Kini di Tangan Presiden

15 Apr 2026

Temuan Fosil Purba di Bumiayu, Diduga Lebih Tua dari Sangiran

16 Apr 2026

Pemprov Jateng Pastikan Stok BBM dan Elpiji Aman, Jangan Panic Buying!

3 Apr 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: