BerandaHits
Kamis, 29 Jul 2026 11:33

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

Penemuan 18 individu Coelacanth di Pulau Talise menjadi bukti pentingnya Indonesia dalam upaya konservasi salah satu ikan purba paling langka di dunia. (Alexis Chappuis/Scientific Reports)

Penemuan 18 individu ikan purba Coelacanth (Latimeria menadoensis) di perairan Pulau Talise, Sulawesi Utara, memperkuat posisi Indonesia sebagai habitat penting spesies laut langka berusia sekitar 400 juta tahun.

Inibaru.id – Indonesia kembali menorehkan pencapaian penting dalam dunia konservasi laut. Tim peneliti berhasil mendokumentasikan 18 individu ikan purba Coelacanth (Latimeria menadoensis) di perairan Pulau Talise, Sulawesi Utara. Temuan ini semakin mengukuhkan Indonesia sebagai salah satu habitat utama bagi spesies laut paling langka di dunia yang telah bertahan sejak sekitar 400 juta tahun lalu.

Mengutip dari Kompas, temuan tersebut dipaparkan oleh Prof. Alex Masengi dari Universitas Sam Ratulangi bersama Prof. Augy Syahailatua, peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, dalam Simposium Marine Futures Unlocked 2: From Insight to Impact di Jakarta.

Coelacanth sering dijuluki sebagai "fosil hidup" karena bentuk tubuhnya hampir tidak mengalami perubahan sejak zaman prasejarah. Selama bertahun-tahun, ikan ini bahkan sempat diyakini telah punah bersama dinosaurus sekitar 66 juta tahun lalu, hingga akhirnya ditemukan kembali di lepas pantai Afrika Selatan pada 1938.

Indonesia sendiri menjadi rumah bagi spesies Latimeria menadoensis, yang kali pertama diidentifikasi pada 1997 di perairan Sulawesi Utara. Sejak saat itu, keberadaan ikan purba ini terus menjadi perhatian para ilmuwan dunia karena populasinya yang sangat terbatas dan habitatnya yang sulit dijangkau.

Penelitian mengenai Coelacanth di Indonesia telah berlangsung sejak 2004. Selama lebih dari 20 tahun, para peneliti berhasil mengidentifikasi sedikitnya 52 individu Coelacanth di perairan Indonesia, serta empat individu lainnya di Afrika Selatan melalui kolaborasi internasional.

"Selama 20 tahun penelitian, kami terus berupaya memahami kehidupan Coelacanth di habitat alaminya. Temuan-temuan terbaru menunjukkan bahwa Indonesia memiliki peran yang sangat penting dalam upaya konservasi spesies ini," ujar Prof. Alex Masengi, seperti dilansir dari Kompas.

Salah satu pencapaian terbesar diperoleh melalui ekspedisi kolaboratif BRIN, OceanX, dan NHK yang kembali mengeksplorasi gua bawah laut di Pulau Talise. Lokasi yang sebelumnya hanya mencatat empat individu pada 2009 itu kini menyimpan kejutan besar.

Dalam survei terbaru, tim berhasil mendokumentasikan 18 individu Coelacanth, termasuk 11 ekor yang hidup bersama di dalam satu gua bawah laut. Jumlah tersebut menjadi salah satu konsentrasi Coelacanth terbesar yang pernah didokumentasikan di Indonesia.

Tak hanya itu, tim juga menemukan seekor Coelacanth juvenil berukuran sekitar 26 sentimeter di Teluk Amurang. Kehadiran individu muda ini menjadi petunjuk bahwa spesies tersebut masih berkembang biak secara alami di perairan Indonesia.

Karena hidup di kedalaman laut dan sangat jarang terlihat, banyak aspek kehidupan Coelacanth yang masih menjadi misteri. Untuk mengungkapnya, para peneliti memanfaatkan berbagai teknologi modern.

Salah satunya adalah metode environmental DNA (eDNA), yaitu teknik yang memungkinkan ilmuwan mendeteksi keberadaan suatu spesies hanya melalui jejak materi genetik yang tertinggal di lingkungan perairan.

Selain itu, pemindaian menggunakan CT Scan terhadap salah satu spesimen menghasilkan temuan menarik. Peneliti menemukan 22 butir telur di dalam tubuh ikan tersebut, memberikan informasi baru mengenai proses reproduksi Coelacanth yang selama ini sangat sedikit diketahui.

"Keberhasilan menemukan 11 individu Coelacanth dalam satu gua dan hasil CT Scan yang menunjukkan adanya 22 telur merupakan pencapaian yang sangat berharga untuk memahami biologi dan reproduksi spesies ini," jelas Alex.

Temuan ini menjadi langkah penting dalam memahami siklus hidup spesies purba tersebut sekaligus mendukung penyusunan strategi konservasi yang lebih tepat.

Menurut Prof. Augy Syahailatua, hasil penelitian selama dua dekade menunjukkan bahwa Pulau Talise memiliki nilai ekologis yang sangat tinggi bagi kelangsungan hidup Coelacanth.

Karena itu, kawasan tersebut kini tengah dipersiapkan menjadi kawasan konservasi khusus atau taman suaka habitat Coelacanth. Prosesnya telah memasuki tahap konsultasi publik, pembahasan bersama pemerintah daerah, hingga koordinasi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Pada Juli 2026, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara juga telah menyerahkan dokumen persetujuan kepada KKP sebagai bagian dari proses penetapan kawasan konservasi tersebut.

Langkah ini tidak hanya bertujuan melindungi ikan purba yang langka, tetapi juga membuka peluang bagi pengembangan riset, pendidikan, serta ekowisata berbasis konservasi.

Berpeluang Jadi Situs Warisan Dunia UNESCO

Setelah status kawasan konservasi nasional ditetapkan, pemerintah bersama para peneliti berencana mengusulkan habitat Coelacanth di Pulau Talise sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.

Usulan tersebut dinilai memiliki peluang besar karena kawasan ini berada di wilayah Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle), salah satu pusat keanekaragaman hayati laut terkaya di dunia.

Apabila berhasil, pengakuan tersebut bukan hanya akan memperkuat perlindungan habitat Coelacanth, tetapi juga semakin menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu pusat biodiversitas laut dunia yang memiliki kekayaan hayati luar biasa.

Temuan terbaru ini menunjukkan bahwa riset jangka panjang mampu menghasilkan bukti ilmiah yang sangat berharga. Bukan hanya untuk memahami kehidupan salah satu spesies laut tertua di Bumi, tetapi juga menjadi dasar penting dalam menjaga kelestarian ekosistem laut Indonesia bagi generasi mendatang. (Ning/E01)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

4 Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Makanan Berbahan Tepung Tapioka Terbaik 2026 Versi Taste Atlas

15 Jul 2026

Istana Kepresidenan Yogyakarta Kini Bisa Dikunjungi Gratis, Ini Syarat dan Cara Daftarnya

16 Jul 2026

Mengenal Kalender Aboge, Sistem Penanggalan Jawa-Islam yang Masih Bertahan hingga Kini

17 Jul 2026

OSC Award 2026 Umumkan 116 Penerima Beasiswa S1 Penuh, Pendaftar Tembus 7.600 Peserta

17 Jul 2026

Ragam Upacara Adat Jawa dari Kehamilan hingga Kematian, Sarat Makna dan Nilai Kehidupan

18 Jul 2026

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: