BerandaKulinary
Minggu, 25 Jul 2026 14:43

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

Putu Bambu dan Putu Ayu merupakan dua jajanan pasar tradisional yang kerap tertukar, padahal keduanya memiliki bahan, bentuk, serta cita rasa yang berbeda. (Chatgpt AI)

Meski sama-sama berwarna hijau dan bertabur kelapa parut, Putu Bambu dan Putu Ayu memiliki perbedaan dari bahan, cara pembuatan, penyajian, hingga sejarah asal-usulnya.

Inibaru.id - Sekilas, Putu Bambu dan Putu Ayu memang tampak mirip. Sama-sama berwarna hijau, menggunakan kelapa parut, dan termasuk jajanan tradisional yang mudah dijumpai di pasar. Tak heran jika masih banyak orang yang mengira keduanya adalah kue yang sama.

Padahal, Putu Bambu dan Putu Ayu memiliki perbedaan cukup mencolok, mulai dari bahan baku, cara pembuatan, hingga sejarahnya. Berikut beberapa perbedaannya.

1. Bahan Dasar Berbeda

Perbedaan paling mendasar terletak pada bahan utama pembuatannya.

Putu Bambu dibuat dari tepung beras yang dicampur air dan pewarna alami pandan hingga membentuk butiran-butiran kasar. Adonan ini kemudian dikukus sebelum dimasukkan ke dalam cetakan bambu.

Sementara itu, Putu Ayu menggunakan tepung terigu yang dicampur santan, gula, air, dan pewarna pandan hingga menjadi adonan yang lebih lembut sebelum dikukus.

2. Isian dan Rasa

Putu Bambu identik dengan isian gula merah atau gula kelapa yang akan meleleh saat matang. Setelah dikukus, kue ini disajikan dengan taburan kelapa parut sehingga menghasilkan perpaduan rasa manis dan gurih.

Sebaliknya, Putu Ayu tidak memiliki isian. Gula sudah dicampurkan langsung ke dalam adonan, sedangkan kelapa parut ditempatkan di bagian atas cetakan sehingga menyatu dengan kue setelah dikukus.

3. Cetakan yang Digunakan

Sesuai namanya, Putu Bambu dicetak menggunakan potongan bambu berongga. Cetakan tradisional ini menjadi ciri khas yang sulit dipisahkan dari kue putu.

Adapun Putu Ayu menggunakan cetakan berbentuk bunga yang umumnya terbuat dari plastik atau logam. Bentuk inilah yang membuat tampilannya lebih menarik dan rapi.

4. Cara Memasak

Salah satu ciri khas pedagang Putu Bambu adalah suara uap yang melengking dari alat kukusnya. Suara tersebut bahkan menjadi penanda yang akrab di telinga masyarakat saat pedagang berkeliling.

Putu Bambu dikukus menggunakan alat khusus berbahan kaleng dengan lubang-lubang tempat meletakkan bambu cetakan.

Sementara itu, Putu Ayu cukup dikukus menggunakan panci kukusan biasa hingga matang.

5. Cara Menikmati

Putu Bambu paling nikmat disantap saat masih hangat karena gula merah di dalamnya masih meleleh. Kue ini biasanya menjadi teman minum teh atau kopi di pagi maupun sore hari.

Berbeda dengan itu, Putu Ayu tetap lezat dinikmati meski sudah dingin. Teksturnya yang lembut membuatnya cocok dijadikan camilan kapan saja.

6. Ketersediaan di Pasaran

Saat ini, pedagang Putu Bambu semakin sulit ditemukan. Selain proses pembuatannya yang cukup rumit, biaya produksi dan tenaga yang dibutuhkan juga relatif lebih besar.

Sebaliknya, Putu Ayu masih mudah dijumpai di pasar tradisional, toko kue, hingga swalayan karena proses pembuatannya lebih praktis dan mudah diproduksi dalam jumlah banyak.

Ternyata Punya Sejarah Berbeda

Di balik kelezatannya, kedua jajanan ini juga memiliki sejarah yang berbeda.

Putu Bambu dipercaya berasal dari makanan yang dikenal sebagai XianRoe Xiao Long pada masa Dinasti Ming di Tiongkok. Kala itu, isian kue menggunakan kacang hijau. Saat masuk ke Nusantara, khususnya pada masa Kerajaan Mataram, isiannya kemudian berubah menjadi gula Jawa yang lebih mudah diperoleh masyarakat.

Sementara itu, Putu Ayu diyakini berkembang di Kudus, Jawa Tengah, sejak masa kolonial Belanda. Kue ini kerap disajikan dalam berbagai perayaan maupun acara keluarga.

Nama Putu Ayu sendiri memiliki makna yang indah. Kata putu berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti bunga atau puspa, sedangkan ayu dalam bahasa Jawa berarti cantik. Tak heran jika bentuk kue ini menyerupai bunga yang cantik dan menjadi salah satu jajanan pasar favorit hingga sekarang.

Meski berbeda dalam banyak hal, baik Putu Bambu maupun Putu Ayu sama-sama menjadi bagian dari kekayaan kuliner tradisional Indonesia yang patut terus dilestarikan. Jadi, lain kali saat melihat jajanan berwarna hijau di pasar, Kawan Inibaru sudah tidak akan tertukar lagi, bukan? (Ning/E01)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengenal Sekaten, Tradisi Maulid Nabi Warisan Dakwah Wali Songo

25 Agu 2026

Indonesia Mulai Program PLTS, 14 Proyek Jadi Tahap Awal

26 Agu 2026

Wayang Klithik, Wayang Kayu Pipih yang Lahir dari Tradisi Jawa dan Bunyi "Klithik"

27 Agu 2026

DPR Targetkan RUU Perampasan Aset Disahkan 15 Desember 2026

28 Agu 2026

ARTOTEL Gajahmada Semarang Hadirkan “Layers of Living”, Pameran Dua Seniman dengan Perspektif Berbeda

28 Agu 2026

Berburu Barang Antik di Solo? Ini 3 Tempat Favorit yang Wajib Dikunjungi Kolektor

29 Agu 2026

Komdigi Larang Operator Hanguskan Sisa Kuota Internet Pelanggan

31 Agu 2026

Manuskrip Al-Qur’an Berusia 180 Tahun dari Aceh Mulai Didigitalisasi

1 Sep 2026

Transaksi Indonesia-Singapura Bisa Pakai Rupiah dan Dolar Singapura Tanpa US$

2 Sep 2026

Prabowo Targetkan Tutup 700 BUMN hingga Akhir 2026

3 Sep 2026

Saat Serayu Jadi Pengantin dalam Prosesi Manten Gethek

4 Sep 2026

Kali Odo Semarang, Sungai yang Justru Deras saat Kemarau

7 Sep 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: