BerandaAdventurial
Rabu, 24 Feb 2026 13:08

Menyusuri Peran Para Tionghoa di Kudus via Walking Tour 'Jejak Naga di Timur Kota'

Peserta Jejak Naga di Timur Kota, Walking Tour Cerita Kudus Tuwa sedang melihat peta yang dibagikan. (Dok Cerita Kudus Tuwa)

Walking Tour 'Jejak Naga di Timur Kota' banyak mengunjungi titik-titik penting di Pecinan Wetan, tempat komunitas Tionghoa ambil peran untuk Kudus, baik dalam keseharian, spiritual, pergulatan sosial, hingga perputaran ekonomi.

Inibaru.id – Memasuki akhir pekan kedua Februari, untuk ke sekian kali kami kembali mengikuti walking tour Cerita Kudus Tuwa (CKT), menyusuri gang-gang sempit dan bangunan tua di Kota Kretek untuk membuka lagi arsip lama yang tertumpuk ditelan waktu.

Kali ini, kami melancong menyusuri lorong tua di sisi selatan alun-alun kota untuk menunaikan cerita tentang "Naga di Timur Kota" yang diikuti oleh belasan peserta. Melalui tema tersebut, CKT mencoba mengajak kami menembus lapisan sejarah Pecinan Wetan.

Pecinan Wetan adalah kawasan yang sudah sejak ratusan tahun lalu menjadi ruang hidup, niaga, iman, dan pergulatan sosial komunitas Tionghoa di Kudus. Nova David, storyteller cum pemandu memandu tur, membuka kisah dari satu nama yang selalu hadir di awal cerita Kudus, yaitu Kiai Telingsing.

Dialah sosok Tionghoa Muslim yang, jauh sebelum Kudus dimaknai sebagai kota suci, telah membuka lahan, menanam jejak, dan menautkan kebudayaan Tionghoa dengan Islam Jawa. “Dari sini kita belajar bahwa Kudus sejak awal bukan kota satu warna,” ujar Nova kepada kami untuk mengawali tur.

Peserta Jejak Naga di Timur Kota, Walking Tour Cerita Kudus Tuwa. (Dok. Cerita Kudus Tuwa)

Dari Tanjung hingga Pecinan Wetan, Nova menuntun rombongan memahami bagaimana permukiman Tionghoa tumbuh mengikuti denyut kekuasaan dan ekonomi kota. Sembari berjalan, dia menunjukkan peta-peta lama berangka tahun 1914 dan 1944.

Bukti-bukti sejarah itu yang dia ceritakan ulang lewat bahasa tutur, tentang bagaimana rumah-rumah Tionghoa mengilung alun-alun, menyusuri Jalan Raya Pos, dan memadat di Sleko, Bitingan, hingga gang-gang sempit yang kini dikenal sebagai Sidodadi, Hadirekso, dan Notosari.

Di gang-gang itulah, cerita naga menjelma metafora. Tak hanya hadir sebagai simbol kebudayaan Tionghoa, berdasarkan cerita Nova yang saya simak, naga juga menjadi gambaran tentang daya hidup liuk-liuk sejarah yang kadang naik, kadang tertekan.

Dengan gaya bertutur yang lugas, dia mengisahkan bagaimana segregasi kolonial memaksa orang-orang Tionghoa hidup terpisah, dijaga oleh struktur Letnan Tionghoa dan wijkmeester, sekaligus dijauhkan dari kemungkinan bersatu dengan bumiputera.

Nova sedang menjelaskan kepada peserta Jejak Naga di Timur Kota, Walking Tour Cerita Kudus Tuwa. (Dok. Cerita Kudus Tuwa)

Namun, sejarah Kudus juga menyimpan kisah perlawanan yang melampaui batas etnis. Dari wilayah Tanjung, pada April 1741, Tan Sin Ko memimpin pemberontakan besar yang mempertemukan orang-orang Tionghoa dan Jawa miskin melawan VOC.

“Ini ironi sejarah; bahwa Kudus pernah jadi titik temu perlawanan bersama, tapi kemudian juga jadi ladang luka akibat politik adu domba,” kata Nova.

Tur berlanjut ke kisah-kisah ekonomi yang membumi. Nama Tan Tjip Siang si “Matjan Tionghoa Koedoes” dihadirkan sebagai contoh bagaimana etos niaga berjalan beriringan dengan kepedulian sosial.

Dari pabrik sigaret NV Moeria hingga sumbangan untuk masjid dan pondokan peziarah Sunan Muria, Nova menekankan bahwa sejarah ekonomi Kudus nggak pernah berdiri di ruang hampa.

Di titik lain, peserta diajak mengenang Nyah Bancan, penjual jamu yang namanya diwariskan lintas generasi perempuan. “Ini sejarah yang sering luput dari buku,” ujar Nova.

Rasa, Ramuan, dan Kepercayaan

Peserta Jejak Naga di Timur Kota, Walking Tour Cerita Kudus Tuwa sedang berfoto bersama di depan bekas gedung CHTH. (Dok. Cerita Kudus Tuwa)

Cerita jamu, susu OIB, hingga rumah sakit CHTH (kini RSIA Miriam) membuktikan bahwa kontribusi komunitas Tionghoa di Kudus nggak melulu berkutat di dunia dagang dan jual-beli, tetapi juga perawatan tubuh dan kehidupan.

Walking tour ini ditutup di Hok Hien Bio, kelenteng tua yang berdiri dalam kesunyian, tapi tampak teguh. Di ruang sembahyang Tri Dharma itu, Nova mengajak peserta hening sejenak; berefleksi tentang sejarah yang seringkali bertahan bukan lewat arsip, melainkan cerita yang dituturkan ulang.

“Cerita naga di timur kota ini bukan dongeng,” simpul Nova setelahnya, sebelum menutup tur pagi itu. "Inilah cara kita membaca kota tentang daya hidup, luka, dan kebajikan yang terus bergerak dari satu generasi ke generasi lain."

Peserta Jejak Naga di Timur Kota, Walking Tour Cerita Kudus Tuwa berada di toko roti lama banyak kue keranjang. (Dok. Cerita Kudus Tuwa)

Melalui walking tour ini, yang dilalui dengan langkah kaki dan cerita lisan, CKT memang berharap bisa menjadikan menjadikan jalanan sebagai halaman buku terbuka, seolah-oleh di timur kota "sang naga" masih bergerak dalam ingatan, cerita, dan keberanian untuk mengingat bersama.

Sejarah memang acapkali nggak ditunjukkan melalui monumen proper yang megah, melainkan bersemayam dalam gedung yang berganti fungsi, dapur yang terus mengepul, dan rasa yang bertahan lintas generasi.

Di Kudus, jejak itu hidup dalam cerita-cerita kecil yang disatukan oleh ingatan kolektif masyarakat Tionghoa sebagaimana dituturkan oleh Yusak Maulana, penelusur sejarah lokal Kudus sekaligus penggawa CKT. Salah satu simpul pentingnya adalah CHTH.

Peserta Jejak Naga di Timur Kota, Walking Tour Cerita Kudus Tuwa sedang berfoto bersama di depan rumah sakit CHTH kini RSIA Miriam. (Dok. Cerita Kudus Tuwa)

CHTH adalah kependekan dari Chung Hua Tsung Hui, organisasi persatuan masyarakat Tionghoa yang secara nasional berdiri pada 10 Maret 1946. Namun, menurut Yusak, kesadaran berserikat masyarakat Tionghoa telah tumbuh jauh sebelumnya.

“Sebelum CHTH, ada Tjin Tjay Hwee yang berdiri pada tahun 1937. Itu menunjukkan bahwa gagasan persatuan sudah lama hidup,” ujarnya.

Pada masa pendudukan Jepang, seluruh perkumpulan Tionghoa dilebur dalam organisasi resmi bentukan Jepang bernama Kakyo Shokai (Hua Chiao Chung Hui). Namun, setelah militer Negeri Samurai Biru angkat kaki dari Nusantara, masyarakat Tionghoa berinisiatif membentuk CHTH.

Fungsinya adalah sebagai payung baru; bukan hanya untuk bertahan, tetapi juga berkontribusi dalam perjuangan bangsa yang baru lahir. CHTH resmi berdiri di Kudus pada 20 Mei 1946, setahun setelah kemerdekaan Indonesia.

Nasionalisme Warga Tionghoa

Peserta Jejak Naga di Timur Kota, Walking Tour Cerita Kudus Tuwa sedang mendengarkan cerita dari tim walking tour. (Dok. Cerita Kudus Tuwa)

CHTH Kudus menempati gedung di Jalan Bitingan Baru No 60 yang kini dikenal sebagai Toko Roti Han’s. Gedung itu, kata Yusak, dibeli dari sumbangan masyarakat Tionghoa Kudus dan dana pasar malam amal. Dari situlah mereka mulai menciptakan banyak hal.

"Mereka membentuk sekolah, balai pengobatan dan rumah bersalin (kini RS Miriam), klub olahraga, hingga kegiatan seni dan sandiwara," jelasnya. “CHTH bukan organisasi eksklusif. Ia hadir di wilayah sosial pendidikan, kesehatan, kebudayaan."

Bahkan ketika Revolusi berkecamuk, CHTH Kudus mengambil sikap tegas. Saat Agresi Militer Belanda I dan II, mereka menolak bujukan Belanda untuk bergabung dengan Pao An Tui, pasukan bela diri pro-Belanda.

“Itu sikap politik yang penting: memilih Indonesia sebagai Tanah Air,” katanya.

Kue keranjang yang ada di toko lama pembuat kue keranjang yang dikunjungi peserta. (Dok. Cerita Kudus Tuwa)

Namun, sejarah nggak selalu berjalan lurus. Tahun 1966, gedung CHTH diambil alih dan berganti fungsi. Pada akhirnya, kawasan itu berubah total menjadi deretan pertokoan yang kini dikenal sebagai Ruko A Yani. Kini, Yusak berkata dengan nada bergetar, yang tersisa dari CHTH hanyalah ingatan, bukan bangunannya.

Ingatan serupa juga hidup di dapur-dapur tua Kudus; salah satunya Kecap Ny Biek di Jalan A Yani No 30. Usaha keluarga ini nyaris nggak punya angka pasti terkait kapan ia didirikan. Itulah yang menurut Yusak justru menarik, karena kekuatannya bukan karena usia, tapi rasa yang konsisten setelah sekian lama.

Jenama kecap Ny Biek berasal dari nama perintisnya yang kala itu memang dikenal luas sebagai peracik kecap dan pembuat tahu. Nyonya Biek kemudian melimpahkan estafet usaha ini ke anaknya, menjadi bisnis turun-temurun hingga kini berada di tangan generasi keempat.

Konsistensi Rasa adalah Kunci

Peserta Jejak Naga di Timur Kota, Walking Tour Cerita Kudus Tuwa sedang mendenarkan cerita di depan pabrik kecap Ny. Biek. (Dok. Cerita Kudus Tuwa)

Dari pergantian generasi itu saja kita bisa mengira-ira, sudah berapa lama usaha lintas generasi tersebut menjadi bagian dari masyarakat Kudus. Yusak mengatakan, konsistensi rasa menjadi alasan kenapa bisnis keluarga ini tetap bertahan hingga sekarang.

"Proses pembuatannya nyaris tak berubah; kedelai hitam difermentasi hampir sebulan dalam guci-guci tua, direbus dengan gula merah Kebumen di atas tungku kayu bakar," terangnya. “Itu bukan sekadar produksi, tapi ritual kesabaran.”

Sedari awal, usaha kecap ini nggak mengejar pasar yang luas. Pelanggannya adalah para pemilik warung lokal seperti nasi tahu, soto kudus, dan ikan bakar. Mereka setia pada Kecap Ny Biek karena bisa memesan tingkat kemanisan atau keasinan sesuai selera. Di tengah industri massal, cara ini tentu saja menarik.

Kesetiaan pada resep juga dijumpai di Es Buah Nusantara yang berlokasi Jalan KH Wahid Hasyim. Usaha ini diyakini telah berdiri sejak era 1970-an. Usaha yang dirintis Yoe Soe Ban ini sejak awal menyajikan es buah tradisional Tionghoa, menu yang dulu hanya hadir di resepsi-resepsi.

“Dulu, harganya Rp10 (sepuluh rupiah) per porsi,” kata Yusak sambil tersenyum, menyebut detail yang menandai perubahan zaman.

Es Nusantara yang dijajalkan kepada peserta Jejak Naga di Timur Kota, Walking Tour Cerita Kudus Tuwa. (Dok. Cerita Kudus Tuwa)

Kini, usaha itu dikelola generasi kedua dan ketiga, dengan menu yang hampir nggak berubah, yakni es buah, es kolak, dan es kacang ijo. Sirop masih diracik sendiri, buah disiapkan mandiri. Hanya bahan pengental yang berganti dari hunkwe ke agar-agar.

Bagi Yusak Maulana, CHTH, Kecap Ny Biek, dan Es Buah Nusantara adalah tiga wajah dari satu cerita besar: bagaimana masyarakat Tionghoa Kudus merawat identitasnya sambil menjejakkan kaki kuat di tanah tempat mereka hidup.

“Sejarah itu tidak selalu tercatat di buku,” katanya. “Kadang, ia tinggal di gedung yang hilang, guci yang tua, dan rasa manis yang bertahan.”

Menurut saya, sudah benar jika Kudus disebut kota multikultural; karena ia dibangun oleh orang-orang dari berbagai etnis yang hidup dalam harmoni dan berkolaborasi membentuk sejarah kota yang relevan untuk terus diperbincangkan hingga sekarang. (Imam Khanafi/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Desa Giyombong Pernah Jadi Ibu Kota Jawa Tengah pada 1948, Ini Kisahnya

10 Agu 2026

Tari Lengger Banyumas: Warisan Budaya Penuh Makna yang Tetap Menari Melintasi Zaman

11 Agu 2026

AI Factory Terbesar di Asia Tenggara Bakal Dibangun di Indonesia, Kapasitas Capai 1 GW

12 Agu 2026

Pelajar SD-SMP di Yogyakarta Bakal Wajib Berbahasa Jawa Krama Inggil Sehari dalam Sepekan

13 Agu 2026

Temuan Situs Bongal Geser Linimasa Masuknya Islam ke Nusantara hingga Tujuh Abad

14 Agu 2026

HUT ke-81 RI, KAI Beri Diskon Tiket 17 Persen

14 Agu 2026

Pertalite Bakal Dibatasi untuk Desil 9-10, Siapa Saja yang Masuk Kelompok Ini?

15 Agu 2026

Rerie Dorong Situs Patiayam Terus Dijaga sebagai Warisan Peradaban

16 Agu 2026

Unik! Upacara HUT RI di Gang Presiden Puntan Diramaikan Kostum Daur Ulang Sampah

17 Agu 2026

Motor Bensin Bisa Ditukar Motor Listrik, Pemerintah Siapkan Skema Baru

18 Agu 2026

Bukan Rekaman Asli 17 Agustus 1945, Ini Sejarah Suara Proklamasi Bung Karno

19 Agu 2026

Negara Pertama yang Mengakui Indonesia Merdeka

20 Agu 2026

Sinewara, Bioskop BUMN Besutan PFN Siap Meluncur 2027

21 Agu 2026

Garuda Indonesia Uji Internet Cepat di Udara, Video Call dari Ketinggian 30 Ribu Kaki

22 Agu 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: