Inibaru.id - Selepas salat berjemaah zuhur, Masjid Agung Kauman Semarang sepi seperti biasanya. Selama Ramadan, alih-alih pulang, sebagian jemaah akan bergeser ke serambi masjid. Mereka duduk bersila, menanti tradisi Semaan Al-Qur’an yang diselenggarakan pengelola masjid kebanggaan warga Kota Lunpia ini.
Baik jemaah perempuan maupun laki-laki duduk setara, menyimak bacaan Al-Qur'an, termasuk makna dan kajian tajwidnya. Dipimpin seorang kiai, kegiatan ini menjadi tadarus yang sekaligus mengajak para jemaah belajar tentang tafsir dan fadilah ayat suci.
Ratusan orang hadir tiap harinya. Nggak hanya warga Semarang yang memenuhi serambi. Dari yang muda hingga yang sudah lanjut usia, mereka menyimak setiap rangkain kegiatan itu hingga tuntas.
Salah seorang warga Semarang Utara, Agung Wibowo, mengaku sudah empat tahun mengikuti tradisi Semaan Al-Qur'an. Dia mengaku tertarik mengikuti semaan karena pengin belajar agama dengan lebih baik. Dia sadar, usianya sudah nggak muda lagi, jadi pengin lebih fokus beribadah.
"Dulu saya merasa Islam saya abangan. Tapi sejak ikut Semaan Al-Qur’an, saya bisa bermujahadah bareng saudara-saudara muslim, belajar isi Al-Qur’an, sekaligus memahami maknanya," ujarnya saat ditemui Inibaru.id Sabtu (21/2) siang.
Karena pekerjaannya nggak terlalu padat, Agung berencana mengikuti semaan selama sebulan penuh. Menurutnya, Ramadan menjadi lebih bermakna lewat kegiatan ini, yang nggak sekadar membaca, tapi juga mengerti tafsirnya.
"Kalau biasanya tadarus cuma baca Al-Qur’an, di sini ada tafsirnya. Jadi, kami bisa memahami isi dan kandungan kitab suci," paparnya.
Sejarah Tradisi Semaan
Sekretaris Takmir Masjid Agung Kauman, Muhaimin menjelaskan, tradisi Semaan Al-Qur’an bermula dari gagasan ulama Abdullah Umar pada 1970-an. Kegiatan yang semula hanya diikuti santri yang mondok di pesantrennya di Kauman akhirnya berkembang menjadi tradisi rutin setiap Ramadan.
"Semaan Al-Qur'an memang sudah menjadi kegiatan rutin selama puluhan tahun. Bahkan, saya yang asli Kauman, sejak kecil sudah terbiasa mengikuti tradisi ini," akunya.
Muhaimin memaparkan, Semaan Al-Qur’an nggak sekadar membaca ayat. Kiai yang memimpin semaan juga mengajarkan tafsir dan fadilah kitab suci umat Islam tersebut. Secara keseluruhan, kegiatan ini mencakup tiga aspek utama: semaan, tafsir dan fadilah.
"Dulu banyak peserta dari luar kota datang khusus untuk ikut semaan sebulan penuh. Mereka ingin belajar hukum bacaan Al-Qur’an, termasuk tajwid dan cara membaca yang benar," ungkapnya.
Saat ini, Abdullah Umar telah meninggal dunia, tapi tradisi semaan selama Ramadan tetap dilestarikan. Sepeninggalnya, tradisi ini diteruskan oleh Ahmad Naqib Noor, muridnya yang dikenal dengan cara penyampaian tafsirnya yang unik dan nggak kalah menarik.
Menurut Muhaimin, Ahmad Naqib Noor dikenal luas karena sering menyelipkan kisah-kisah inspiratif saat menafsirkan ayat. Kala itu, dia mengenang, kajian terasa hidup lantaran jamaah lebih antusias. Jumlah peserta semaan juga mencapai ribuan orang.
Setelah Ahmad Naqib Noor, tradisi semaan dilanjutkan oleh Abdul Hakim, santri terakhir Abdullah Umar di Masjid Agung Kauman, hingga kini. Kegiatan tersebut bakal digelar selama Ramadan, dengan jumlah jemaah yang nggak dibatasi. Muhaimin mengatakan, siapa pun bisa ambil bagian.
Hm, kegiatan yang menarik ya, Gez? Senang rasanya melihat tradisi membumikan Al-Qur'an tetap hidup dan menghidupkan para jemaah selama Ramadan di Masjid Agung Kauman Semarang. (Sundara/E10)
