Inibaru.id - Terjangan angin puting beliung di Kota Semarang pada 30 Maret 2026 lalu menyisakan cerita kerusakan sekaligus upaya pemulihan. Di Kampung Gunung Tugel, Kecamatan Banyumanik, salah satu rumah warga terdampak cukup parah, terutama di bagian atap yang hingga kini belum sepenuhnya diperbaiki.
Istiadi adalah sosok yang merasakan langsung dahsyatnya angin tersebut. Genteng rumahnya yang beterbangan bahkan masih terlihat berserakan di area dapur, menjadi sisa kejadian yang berlangsung singkat tapi berdampak besar tersebut.
Lelaki 40 tahun itu menceritakan peristiwa tersebut, yang menurutnya bermula dari hujan deras yang disertai angin kencang. Tanpa diduga, angin puting beliung terbentuk di dekat rumahnya, menghantam permukiman warga, serta membuat rumahnya porak poranda.
"Kejadiannya sekitar jam empat sore, berlangsung singkat. Saat itu, saya fokus menyelamatkan istri dan anak untuk keluar dari rumah," ucap Istiadi saat ditemui Inibaru.id, Rabu (8/4).
Mengalami Keterbatasan Biaya
Akibat kejadian tersebut, atap rumah Istiadi mengalami kerusakan. Yang terparah adalah bagian kamar depan dan dapur. Namun, karena mengalami keterbatasan biaya, hingga kini dia mengaku belum bisa melakukan perbaikan secara menyeluruh.
"Ini adalah kejadian puting beliung pertama yang saya alami. Sempat kaget, tapi tidak sampai trauma karena warga bersama pemerintah setempat langsung melakukan langkah antisipasi, termasuk memangkas pohon yang rawan tumban," sebutnya.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, Endro P Martanto menyebut, dampak angin puting beliung pada akhir Maret 2026 itu cukup luas. Meski nggak menimbulkan korban jiwa, puluhan rumah warga tercatat mengalami kerusakan, terutama pada bagian atapnya.
"Setelah kami asesmen, ditemukan 65 rumah huni yang atapnya rusak. Tingkat kerusakan akibat puting beliung itu sekitar 80 persen," ucap Endro. "Dalam catatan kami, di wilayah ini belum pernah terjadi peristiwa angin puting beliung."
Pemkot Akan Turun Tangan
Berdasarkan data dari BPBD Kota Semarang, bencana di Kota Semarang sepanjang 2026 didominasi oleh bencana angin puting beliung yang mencapai 140 kejadian, kemudian disusul oleh 139 kasus pohon tumbang yang juga berdampak pada permukiman warga.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti menegaskan bahwa Pemkot akan turun tangan dalam proses pemulihan pascabencana. Setelah melakukan peninjauan, perbaikan rumah warga terdampak akan segera ditindaklanjuti.
"Bantuan darurat seperti sembako sudah kami bagikan. Rumah yang perlu direnovasi akan masuk dalam daftar Dinas Perkim melalui program RTLH. Kami berharap tim survei dapat segera bekerja dan mengambil keputusan tanpa ragu, karena ini memang sebuah kebutuhan," imbuh Agustina.
Sembari menyampaikan rasa prihatin atas musibah yang menimpa warga Banyumanik, perempuan 54 tahun itu juga meminta BPBD untuk melakukan analisis lebih mendalam terkait fenomena puting beliung tersebut serta menyusun langkah mitigasi agar kejadian serupa bisa diantisipasi dengan lebih baik.
Buka Kolaborasi Swasta
Selain mengandalkan anggaran APBD, Pemkot Semarang juga membuka peluang kolaborasi dengan pihak swasta. Menurut Agustin, program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) akan sangat membantu percepatan perbaikan puluhan rumah warga yang terdampak bencana tersebut.
"Yang terdampak angin puting beliung ada 65 rumah. Tapi yang cukup parah ada 29 rumah, itu satu putaran angin cerita yang kami dengar dari warga," tukas Agustina.
Kejadian ini jadi alarm kalau cuaca ekstrem makin tak bisa diprediksi, proses pemulihan memang penting, tapi langkah antisipasi ke depan jauh lebih penting.
Nah, buat para pemilik perusahaan yang memiliki program CSR yang sejalan dengan perbaikan rumah korban bencana tersebut, feel free to join ya! (Sundara/E10)
