BerandaHits
Jumat, 26 Mar 2026 17:07

Raksasa Ritel Pangan Asia Disorot: Jago Jualan Daging, tapi Loyo Tekan Emisi Metana!

Ritel di Asia masih belum serius mengurangi metana. (Shutterstock)

Metana mungkin nggak sepopuler Karbon Dioksida (CO2), tapi daya rusaknya terhadap bumi nggak main-main. Studi terbaru dari Mighty Earth mengungkap fakta pahit. Supermarket besar di Asia ternyata masih minim komitmen buat memangkas emisi metana dari produk daging, susu, dan beras yang mereka jual. Padahal, konsumsi daging di Asia lagi meroket tajam, lo!

Inibaru.id - Sering belanja daging, susu, atau beras di supermarket langganan? Pasti yang kamu lihat pertama kali adalah kesegaran dan harganya, kan? Tapi, ada satu hal "gaib" yang luput dari pandangan kita yaitu Emisi Metana.

Ternyata, raksasa ritel pangan di Asia lagi kena semprot aktivis lingkungan karena dianggap kurang serius mengurus polusi gas rumah kaca yang satu ini.

Berdasarkan laporan yang dirilis pada Kamis (26/3/2026) ini meneliti beberapa pemain besar seperti DFI Retail Group (Hong Kong), Walmart (China), Aeon dan Seven & i Holdings (Jepang), FairPrice Group (Singapura), hingga Lotte Shopping (Korea Selatan).

Hasilnya? Mengecewakan. Belum ada satu pun dari peritel tersebut yang secara terbuka melaporkan berapa banyak emisi metana yang dihasilkan dari rantai pasok produk mereka.

Metana: Gas "Pendek Umur" yang Mematikan

Peternakan sapi menyumbang emisi metana. (Pixabay)

Kenapa sih kita harus peduli sama metana? Menurut data International Energy Agency (IEA), metana cuma bertahan sekitar 12 tahun di atmosfer—jauh lebih singkat dibanding CO2.

Tapi masalahnya, metana itu kayak spons raksasa yang menyerap energi jauh lebih banyak. Konsentrasinya di atmosfer sekarang sudah melampaui 2,5 kali lipat dari tingkat pra-industri. Kalau peritel nggak gerak cepat, target Global Methane Pledge buat memangkas emisi 30 persen pada 2030 cuma bakal jadi mimpi di siang bolong.

Rapor Merah Peritel Asia

Dari hasil studi tersebut, cuma Aeon asal Jepang yang performanya lumayan menonjol, meskipun skornya cuma 20,5 dari 100 poin. Angka ini menunjukkan kalau ambisi peritel di wilayah kita buat jaga iklim masih "minimalis" banget.

Yang paling tragis, jaringan supermarket terbesar di Singapura, FairPrice Group, malah dapat skor nol besar! Mereka dianggap mengabaikan total polusi metana.

Meski begitu, pihak FairPrice membela diri. Mereka bilang fokus utamanya adalah menjaga ketahanan pangan Singapura yang 90 persen impor. Mereka juga berjanji lagi menyusun peta jalan buat menekan emisi di seluruh rantai pasok mereka (Scope 3).

Solusinya: Perbanyak Protein Nabati!

Terus, apa yang bisa dilakukan supermarket buat menyelamatkan bumi? Mighty Earth punya rekomendasi yang cukup berani:

  • Ubah Rasio Penjualan: Supermarket disarankan menargetkan rasio penjualan 60 persen protein nabati dan 40 persen protein hewani pada 2030.
  • Perbanyak Pilihan Daging Nabati: Dengan memperluas produk plant-based, supermarket bisa membantu konsumen pelan-pelan beralih ke pola makan yang lebih ramah iklim.

Bayangkan, kalau protein alternatif bisa menguasai 11 persen pasar global pada 2035, penurunan emisi gas rumah kacanya bakal setara dengan kalau kita berhasil "menghijaukan" seluruh sektor penerbangan di dunia!

O ya, sebagai konsumen, kita juga punya power, Gez! Dengan lebih bijak memilih apa yang masuk ke keranjang belanja, kita bisa ikut "menekan" para peritel ini supaya lebih peduli lingkungan. Jadi, mulai sekarang, yuk lebih sering lirik rak produk nabati!

Gimana menurutmu, sudah saatnya nggak sih supermarket kita lebih jujur soal jejak karbon produk mereka? (Siti Zumrokhatun/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

15 Jun 2026

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

15 Jun 2026

TikTok Jadi Media Sosial Paling Sering Diakses Warganet Indonesia pada 2026

16 Jun 2026

Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, Warga Jateng Diminta Sambut Petugas dengan Baik

17 Jun 2026

Keraton Solo Keluarkan 14 Pusaka dan Kebo Bule dalam Kirab Malam 1 Suro

17 Jun 2026

Temuan Prasasti di Klaten Bukan yang Pertama, Diduga Terhubung dengan Dua Prasasti Era Kolonial

18 Jun 2026

AMSI Dorong Kolaborasi Media untuk Menghadirkan Informasi Iklim yang Lebih Kredibel

19 Jun 2026

Kenapa Harga Pertamax Belum Turun Meski Ada Penurunan Harga Minyak Dunia? Ini Faktor yang Mempengaruhinya

20 Jun 2026

Mengapa Kebo Bule Selalu Hadir dalam Kirab Malam 1 Suro? Begini Sejarah dan Maknanya

21 Jun 2026

Melihat yang Luput: Dari Kudus, Festival Film Anak Bangsa Menyalakan Ruang Bagi Cerita-Cerita Kecil

22 Jun 2026

Kenali Ciri-Ciri Petugas Sensus Ekonomi 2026 Asli, Jangan Sampai Tertipu Oknum Mengatasnamakan BPS

23 Jun 2026

B50 Siap Beredar Juli 2026, Pemerintah Optimistis Tak Perlu Lagi Impor Solar

24 Jun 2026

Mendag Tegaskan NIB untuk Penjual Online Bukan untuk Pungutan Pajak

25 Jun 2026

5 Alasan Penting Mengapa Anda Harus Mengunjungi Dunia Fantasi Ancol Tahun Ini

25 Jun 2026

Dasun di Lasem, Galangan Kapal yang Pernah Menopang Armada Majapahit hingga Demak

26 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: