Inibaru.id - Sosok Stevanus Ming atau lebih dikenal dengan sebutan Aming kerap muncul di layar televisi termasuk pada siaran langsung Polda Jawa Tengah saat merilis kasus kriminal. Dengan gerakan tangan yang luwes dan ekspresi bibir yang tegas, dia menerjemahkan ucapan agar bisa dipahami oleh teman tuli.
Aming adalah juru bahasa isyarat profesional. Sudah sekitar lima tahun terakhir dia menekuni profesi yang sebelumnya nggak pernah terpikirkan olehnya. Semua bermula dari keinginannya untuk mencari pasangan hidup semasa masih lajang.
Kala itu, dia bernazar akan melakukan apa saja demi menemukan jodoh. Keinginan kuat itu kemudian mempertemukannya dengan seorang perempuan tuli yang kini menjadi istrinya. Sejak 2016 dia mulai belajar bahasa isyarat.
"Saya belajar bahasa isyarat langsung dari teman-teman tuli," ujar Aming saat ditemui Inibaru.id di kompleks Balai Kota Semarang, belum lama ini.
Menurutnya, menjadi juru bahasa isyarat bukanlah perkara mudah. Bahasa lisan dan bahasa isyarat memiliki struktur yang berbeda, sehingga nggak bisa diterjemahkan secara harfiah.
"Bahasa isyarat itu berbasis konsep, tidak selalu mengikuti urutan bahasa Indonesia," tegas Aming. "Misal, kalimat 'saya makan pisang', kalau diterjemahkan teman-teman tuli itu jadi 'pisang saya makan'."
Masih Terus Belajar
Meski kini telah dianggap profesional, Aming menyadari bahwa proses belajar bahasa isyaratnya belum benar-benar selesai. Dia mengaku masih terus mengasah kemampuan agar pesan yang disampaikan akurat dan mudah dipahami.
Berkat ketekunannya itu, kemampuan Aming kini mulai diakui secara luas. Nggak hanya berkiprah di Kota Semarang, dalam beberapa kesempatan dia juga kerap diminta menjadi penerjemah di berbagai kegiatan instansi pemerintahan pusat di Jakarta.
"Persiapan saya (saat menerjemahkan) sederhana; yang penting koordinasi dengan panitia. Saya minta untuk sebisa mungkin dekat dengan sumber suara supaya bisa menerjemahkan dengan jelas," sebutnya.
Menurutnya, salah satu kesulitan menjalani profesi tersebut muncul saat narasumber berbicara terlalu cepat. Dalam situasi seperti itu, dia dituntut tetap sigap agar setiap informasi dapat diterjemahkan dengan utuh tanpa terlewat.
"Di Indonesia, jumlah orang yang menekuni sebagai juru bahasa isyarat masih tergolong sedikit," terang Aming yang memperkirakan hanya ada sekitar 200 orang yang menekuni profesi ini di seluruh penjuru negeri.
Mengajar di SLB
Selain aktif sebagai penerjemah bahasa isyarat, kesibukan Aming lainnya ialah mengajar di sekolah luar biasa (SLB) dengan fokus pada pelatihan artikulasi bagi anak-anak tuli. Dia pengin menegaskan bahwa tuli nggak sama dengan bisu. Nggak semua yang tuli pasti bisu.
"Selama ini, stigma di masyarakat kerap menyamakan keduanya, padahal anak-anak tuli sebenarnya memiliki kemampuan berbicara, hanya belum memahami intonasi dan cara pengucapan yang tepat. Mereka mungkin bisa berbicara, cuman belum memahami nada dan cara pengucapannya," tegasnya.
Maka, di SLB itu Aming mencoba melatih anak-anak tuli untuk mengucapkan huruf demi huruf secara verbal, misalnya gimana melafalkan A dan B dengan benar. Baginya, proses ini bukan sekadar melatih kemampuan bicara, tetapi juga menjadi cara membangun kepercayaan diri anak-anak agar berani mengekspresikan diri.
Menurutnya, dukungan dari keluarga adalah fondasi utama yang penting agar anak-anak, khususnya para tuli nggak tumbuh dengan rasa minder. Sebaliknya, mereka bisa merasa diterima dan mampu berkembang seperti anak lainnya.
"Yang sedang kami perjuangkan adalah akses bagi teman-teman tuli di ruang pelayanan administrasi. Mereka membutuhkan alat seperti signboard, misal tidak tersedia juru bahasa isyarat," tandasnya.
Di balik setiap gerakan tangannya, Aming bukan sekadar menerjemahkan kata, tetapi juga membuka akses dan menjembatani dunia yang selama ini kerap terpisah. Inspiratif sekali ya, Gez? (Sundara/E10)
