Inibaru.id - Kalau kamu mengira Kabupaten Blora hanya berisi hutan jati dan sumur minyak tua, coba deh arahkan langkah ke Desa Waru, Kecamatan Jepon. Di sana ada satu spot yang belakangan jadi buah bibir anak muda, yakni Puncak Gunung Mundri. Nggak tinggi-tinggi amat, tapi pesonanya bikin orang rela naik-turun demi pemandangan yang sepadan.
Gunung dengan ketinggian sekitar 400 meter di atas permukaan laut ini sering disebut sebagai gerbang utara Blora. Letaknya berbatasan langsung dengan kawasan Pegunungan Kendeng di wilayah Rembang. Meski bukan gunung raksasa, Mundri punya lanskap yang lengkap, mulai dari sabana luas, jalur tanah berbatu, sampai tebing cadas yang menantang.
Puncak tertingginya dikenal dengan nama Puncak Baret. Di sana berdiri tugu TNI yang kerap jadi lokasi latihan fisik prajurit Yonif 410/Alugoro Blora. Buat pendaki, titik ini adalah spot favorit untuk mendirikan tenda. Dari atas, hamparan hutan jati terlihat menghijau, dan kamu bisa menyaksikan dua wilayah sekaligus: Blora dan Rembang. Saat cuaca cerah, pemandangannya terasa lapang tanpa batas.
Perjalanan menuju kaki gunung pun relatif mudah. Kalau berangkat dari pusat kota Blora, kamu bisa menuju arah utara sekitar 10 kilometer sampai Desa Waru. Akses jalannya cukup bersahabat untuk sepeda motor. Biaya yang perlu disiapkan juga ramah di kantong, tepatnya parkir sekitar Rp2 ribu dan biaya bermalam Rp5 ribu. Dengan waktu trekking kurang lebih satu jam, kamu sudah sampai di Puncak Baret.
Menariknya, di sekitar 200 meter pertama pendakian, kamu akan disambut sabana yang luas. Sensasinya seperti berjalan di padang rumput terbuka dengan angin yang bebas berembus. Di beberapa lereng, terdapat goa-goa alami dengan lorong horizontal dan vertikal. Buat yang hobi eksplorasi atau panjat tebing, area ini bisa jadi “taman bermain” alami yang seru.
Tapi jangan lupa, angin di Puncak Baret terkenal cukup kencang. Debu bisa beterbangan, jadi sebaiknya siapkan kacamata pelindung dan pakaian hangat. Logistik juga harus diperhitungkan matang-matang. Meski jalurnya relatif singkat, tetap saja ini pendakian yang butuh persiapan.
Salah satu momen yang paling diburu pendaki adalah matahari terbit dan terbenam. Langit yang perlahan berubah warna, siluet pepohonan jati, dan udara pagi yang segar jadi kombinasi yang sulit dilupakan. Banyak yang sengaja bermalam demi mengejar dua momen magis ini dalam satu kunjungan.
Gunung Mundri mungkin tak setenar gunung-gunung besar di Jawa Tengah. Namun justru di situlah letak daya tariknya. Tempat ini pas buat kamu yang ingin rehat sejenak dari riuhnya kota. Yuk kapan kita ke sana, Gez? (Arie Widodo/E07)
