BerandaTradisinesia
Jumat, 9 Apr 2026 17:01

Kembalikan Ruh, Tiket Masuk Resmi Ditiadakan dalam Tradisi Bulusan

Arak-arakan gunungan di Dukuh Sumber di Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Tradisi Bulusan di Kudus tampil dengan wajah baru, yakni tanpa batasan waktu dan nggak lagi memakai tiket masuk sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Tujuannya, untuk mengembalikan ruh dari ritual tersebut.

Inibaru.id – Jalan-jalan kampung di Dukuh Sumber, Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, telah dipadati ribuan orang hari itu, padahal pagi baru saja tiba. Biasanya, aktivitas di kampung tersebut nggak seramai itu. Namun, akhir pekan pada akhir Maret lalu ini terasa spesial bagi mereka.

Sejak pagi, masyarakat setempat sudah turun ke jalan. Mereka berbaur tanpa sekat, membawa harapan sederhana: ngalap berkah dalam gelaran Tradisi Bulusan yang kembali digelar tahun ini, tapi dengan wajah yang baru.

Tahun ini nggak ada loket tiket. Nggak ada batas masuk. Panitia sengaja menghapus pungutan demi mengembalikan ruh tradisi sebagai milik bersama. Keputusan itu terasa nyata dampaknya. Ribuan orang yang datang bukanlah penonton, melainkan bagian dari peristiwa budaya tersebut.

Di tengah kerumunan, suara gamelan dan riuh obrolan warga berpadu menjadi lanskap bunyi yang hidup. Anak-anak berlarian, orang tua duduk berkelompok, sementara pedagang kecil mulai menata dagangannya. Bulusan bukan sekadar acara; ia menjelma ruang sosial tempat kehidupan desa dipertontonkan apa adanya.

Salah satu yang dibawa peserta arak-arakan (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Kirab gunungan menjadi magnet utama. Sepuluh gunungan, terdiri atas sembilan dari perwakilan RT dan satu gunungan khusus ketupat, diarak perlahan. Gunungan itu tersusun dari hasil bumi: sayur-mayur, buah, hingga palawija, yang menggambarkan keberlimpahan sekaligus harapan atas kehidupan yang terus berputar.

Arak-arakan bergerak menuju makam Mbah Kiai Dudo, tokoh yang menjadi pusat spiritual tradisi ini. Warga mengikuti dengan khidmat, sebagian melantunkan doa, sebagian lain sekadar berjalan dalam diam, menyerap suasana yang terasa sakral sekaligus akrab.

Di kompleks makam, prosesi inti berlangsung. Ketupat diserahkan kepada juru kunci sebagai simbol penghormatan. Di sinilah batas antara tradisi dan keyakinan menjadi cair; ritual berlangsung bukan sekadar sebagai tontonan, melainkan sebagai laku yang dipercaya menyambungkan manusia dengan leluhur.

Salah satu yang dibawa peserta arak-arakan (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Ketupat-ketupat itu kemudian dipersembahkan kepada bulus, hewan yang diyakini sebagai jelmaan murid Sunan Muria. Kepercayaan ini hidup turun-temurun, menjadi narasi yang tidak hanya diceritakan, tetapi juga dirawat melalui praktik budaya.

Sementara doa bersama berlangsung, suasana perlahan berubah. Beberapa warga mulai mendekat ke gunungan. Begitu doa hampir selesai, kerumunan mendadak riuh oleh orang-orang yang berebut isi gunungan dengan penuh semangat.

Namun, perebutan itu bukanlah konflik. Ia justru menjadi bagian dari keyakinan kolektif: siapa pun yang mendapatkan hasil bumi dipercaya membawa pulang berkah. Tawa dan teriakan bercampur, menciptakan momen yang spontan sekaligus penuh makna.

Ketua panitia, Nor Kholis menyebutkan, perubahan konsep tahun ini memang diniatkan untuk mengembalikan Bulusan pada esensinya. Bukan sebagai komoditas wisata semata, tetapi ruang kebersamaan yang hidup dari partisipasi warga.

Peserta yang mengarak Arak-arakan gunungan di Dukuh Sumber di Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Sejak sehari sebelumnya, rangkaian acara telah dimulai dengan kenduren massal. Warga berkumpul, membawa makanan dari rumah, duduk bersama, dan berdoa dalam suasana yang sederhana tapi hangat. Tradisi ini menjadi pengikat awal sebelum puncak perayaan.

Malam harinya, pentas seni dan pertunjukan wayang menambah semarak. Generasi muda ikut terlibat, baik sebagai penonton maupun pelaku. Di sinilah tradisi menemukan bentuk keberlanjutannya; tidak hanya diwariskan, tetapi juga dirayakan ulang.

Secara historis, Bulusan berakar dari kisah Mbah Dudo bersama kedua muridnya, Umara dan Umari. Kisah tentang kutukan yang mengubah mereka menjadi bulus bukan sekadar legenda, tetapi menjadi fondasi narasi yang membentuk identitas budaya setempat.

Dari kisah itu pula lahir Sendang Bulusan, sumber air yang hingga kini menjadi bagian penting dari ritual. Air, dalam konteks ini, bukan hanya kebutuhan fisik, tetapi juga simbol kehidupan dan kesucian.

Salah satu yang dibawa peserta arak-arakan (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Di Kudus, tradisi seperti Bulusan bukanlah satu-satunya. Di lereng Muria, masyarakat juga mengenal tradisi Sewu Kupat yang digelar di kawasan Makam Sunan Muria. Tradisi ini menghadirkan kirab puluhan gunungan ketupat dari berbagai desa, menjadi penanda kuatnya budaya Syawalan di wilayah tersebut.

Selain itu, geliat wisata juga terasa di kawasan Embung Logung, yang turut bersiap menyambut lonjakan pengunjung saat musim lebaran. Infrastruktur dan pengelolaan wisata diperkuat, menandakan bahwa tradisi dan pariwisata berjalan berdampingan dalam dinamika masyarakat Kudus.

Meski demikian, Bulusan tahun ini seperti mengingatkan kembali akar budaya; bahwa di tengah arus komersialisasi, tradisi tetap bisa berdiri sebagai ruang kebersamaan. Tanpa tiket, tanpa sekat, tetapi penuh makna.

Di akhir hari, ketika kerumunan mulai surut dan sisa-sisa gunungan tinggal serpihan, yang tersisa bukan hanya kenangan perayaan. Ada rasa terhubung antara manusia, alam, dan leluhur yang diam-diam terus hidup, seperti air di Sendang Bulusan yang tak pernah berhenti mengalir. (Imam Khanafi/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Tips Mendapatkan Spot Hanami untuk Melihat Bunga Sakura di Jepang

26 Mar 2026

Menilik Keindahan Puncak Gunung Mundri di Kecamatan Jepon, Blora

26 Mar 2026

Stevanus Ming, Juru Bahasa Isyarat yang Selalu Suarakan Teman-Teman Tuli

26 Mar 2026

Festival Balon Udara Kembaran, Daya Tarik Wonosobo Sepekan setelah Lebaran

26 Mar 2026

Raksasa Ritel Pangan Asia Disorot: Jago Jualan Daging, tapi Loyo Tekan Emisi Metana!

26 Mar 2026

Kunjungan Wisata Jateng Naik 5,25 Persen, Kota Lama Semarang Jadi Juara

26 Mar 2026

Mudik Lebaran, Me-refresh Pikiran

27 Mar 2026

Jika Memasang Dashcam Mobil, Apakah Aki Bisa Tekor?

27 Mar 2026

Kesederhanaan Mendiang Bos Djarum yang Terpatri di Dinding Kedai Tahu Pong Karangsaru Semarang

27 Mar 2026

Akhiri Libur Lebaran di Semarang dengan Rangkaian Mahakarya Goa Kreo dan Prosesi Sesaji Rewanda!

27 Mar 2026

Kemarau Panjang 2026; Saat Daratan Kering, Laut Indonesia Justru Panen Raya Ikan!

27 Mar 2026

Besok Gubernur Ahmad Luthfi Lepas Ribuan Perantau Balik Gratis ke Jakarta & Bandung

27 Mar 2026

Manisnya Kecap Kentjana Kebanggaan Kebumen

28 Mar 2026

Apa Saja yang Perlu Dipersiakan Traveler Muslim Sebelum Liburan ke Jepang?

28 Mar 2026

Hati-Hati, 56 Persen Konten Mental Health di Medsos Ternyata Ngawur!

28 Mar 2026

Balik Rantau Gratis Pemprov Jateng Panen Jempol

28 Mar 2026

Penyebab Tubuh Cepat Lelah saat Cuaca Panas

29 Mar 2026

Kuliner Malam Legendaris Yogyakarta; Bubur Pawon Mbah Sadiyo

29 Mar 2026

Waspada El Nino 'Godzilla'! Ini 7 Penyakit yang Mengintai saat Kemarau Panjang 2026

29 Mar 2026

Studi Temukan Kandungan Timbal pada Baju Fast Fashion Anak, Warna Cerah Paling Rawan

29 Mar 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: