BerandaAdventurial
Sabtu, 10 Apr 2026 08:01

Pecinan Semarang Bakal Dikelilingi Arak-arakan 50 Kelenteng Akhir Pekan Ini!

Suasana di halaman Kelenteng Tay Kak Tsie saat ada acara budaya. (Inibaru.id/ Sundara)

Pecinan Semarang bakal diramaikan oleh sajian kirab budaya 50 kelenteng yang menghadirkan perpaduan tradisi dalam satu perayaan terbuka.

Inibaru.id - Akhir pekan ini, kawasan Pecinan Kota Semarang bakal berubah jadi ruang perjumpaan budaya. Sekitar 50 Kelenteng dari berbagai daerah di Jawa Tengah (Jateng) dijadwalkan ambil bagian dalam kirab budaya kolosal sebagai perayaan HUT ke-160 Kelenteng TITD Ling Hok Bio.

Puncak perayaan yang sekaligus menjadi peringatan untuk Yang Mulia Kongco Hok Tek Tjing Sien itu bakal berlangsung selama dua hari, yakni pada Sabtu-Minggu (11-12/4/2026).

Nggak hanya akan diisi dengan ritual keagamaan, kegiatan ini juga dirancang dengan mengedepankan wajah akulturasi Jawa-Tionghoa lewat berbagai prosesi khas dan kirab kolosal yang bisa disaksikan langsung oleh masyarakat.

Ketua Yayasan TITD Klenteng Ling Hok Bio, Liemawan Haryanto menyebut, usia 160 tahun menjadi penanda akan ketangguhan nilai-nilair leluhur yang mampu bertahan, bahkan mampu beradaptasi di tengah perubahan zaman yang terus bergerak.

"Perayaan ini adalah wujud rasa syukur atas anugerah alam dan leluhur. Melalui momentum ini, kami ingin menunjukkan kepada publik bahwa keberagaman adalah kekuatan utama yang mempersatukan bangsa," ujar Liemawan dalam pernyataan tertulisnya, Kamis (9/4).

Berlangsung hingga Larut

Rangkaian kegiatan pada Sabtu dimulai dengan penerimaan Kiem Sien, lalu dilanjutkan dengan ritual sore, hingga upacara kebesaran pada malam hari yang dipimpin Liong Hwa Hing. Suasana kemudian dilanjutkan dengan pentas seni budaya yang berlangsung hingga larut, sebelum ditutup dengan sembahyang bersama.

Keesokan harinya yang merupakan puncak acara akan dimulai pukul 11.00 hingga 17.00 WIB, berupa Kirab Budaya 50 Kelenteng. Rute kirab mengelilingi kawasan Pecinan, agar semua masyarakat dapat menyaksikan langsung sajian akulturasi budaya yang ditampilkan.

"Fokus kami adalah pada keaslian tradisi dan kedekatan antarumat," ungkap sang Ketua Panitia, Thio Hwee Lay. "Kehadiran puluhan kelenteng ini adalah simbol persaudaraan yang nyata."

Oya, daya tarik utama perayaan ini terletak pada kuatnya sentuhan budaya Jawa yang menyatu dalam ritual inti. Area Kelenteng bahkan dihiasi janur penjor, menghadirkan suasana sakral sekaligus estetika khas yang jarang ditemui dalam perayaan serupa.

Sementara itu, ungkapan syukur diperlihatkan melalui arak-arakan Gunungan Hasil Bumi dan prosesi sarana puja. Tradisi ini menjadi simbol penghormatan atas limpahan rezeki alam, dikemas dalam ritual yang sarat makna.

Hadirkan Suasana Spiritual yang Kental

Prosesi Melasti pun nantinya akan diiringi alunan gending Jawa dan lantunan paritta yang menyatu dalam suasana sakral. Perpaduan ini dipastikan akan menghadirkan nuansa spiritual yang sekaligus kental dengan sentuhan budaya lokal.

Para peserta membawa perlengkapan ritual seperti dupa, pelita, air suci, buah, dan bunga, sembari mengenakan busana adat Jawa lengkap. Kehadiran unsur-unsur ini menegaskan bahwa harmoni antara budaya Tionghoa dan Jawa bukan sekadar simbol, melainkan telah mengakar dalam kehidupan masyarakat.

Lebih dari sekadar seremoni, perayaan ini menyiratkan pesan yang lebih dalam: identitas bisa berlapis tanpa harus saling meniadakan. Di tengah kota yang terus bergerak modern, Ling Hok Bio mengingatkan bahwa akar budaya tetap bisa hidup bahkan tumbuh dalam keberagaman.

"Inilah yang kami sebut sebagai doa visual. Akulturasi ini bukan sekadar tontonan, melainkan pernyataan bahwa kami adalah bagian tak terpisahkan dari tanah Jawa," tutup Cia Lo Cu Kongco Hok Tik Tjing Sien, Agung Kurniawan.

Perayaan tersebut bukan cuma soal tradisi, tapi juga ruang berbagi cerita lintas budaya yang terus hidup di tengah kota. Mumpung terbuka untuk umum, jangan sampai ketinggalan, Gez! Datang dan nikmati langsung kirab budaya yang bakal bikin Pecinan Semarang makin berwarna ini! (Sundara/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Desa Giyombong Pernah Jadi Ibu Kota Jawa Tengah pada 1948, Ini Kisahnya

10 Agu 2026

Tari Lengger Banyumas: Warisan Budaya Penuh Makna yang Tetap Menari Melintasi Zaman

11 Agu 2026

AI Factory Terbesar di Asia Tenggara Bakal Dibangun di Indonesia, Kapasitas Capai 1 GW

12 Agu 2026

Pelajar SD-SMP di Yogyakarta Bakal Wajib Berbahasa Jawa Krama Inggil Sehari dalam Sepekan

13 Agu 2026

Temuan Situs Bongal Geser Linimasa Masuknya Islam ke Nusantara hingga Tujuh Abad

14 Agu 2026

HUT ke-81 RI, KAI Beri Diskon Tiket 17 Persen

14 Agu 2026

Pertalite Bakal Dibatasi untuk Desil 9-10, Siapa Saja yang Masuk Kelompok Ini?

15 Agu 2026

Rerie Dorong Situs Patiayam Terus Dijaga sebagai Warisan Peradaban

16 Agu 2026

Unik! Upacara HUT RI di Gang Presiden Puntan Diramaikan Kostum Daur Ulang Sampah

17 Agu 2026

Motor Bensin Bisa Ditukar Motor Listrik, Pemerintah Siapkan Skema Baru

18 Agu 2026

Bukan Rekaman Asli 17 Agustus 1945, Ini Sejarah Suara Proklamasi Bung Karno

19 Agu 2026

Negara Pertama yang Mengakui Indonesia Merdeka

20 Agu 2026

Sinewara, Bioskop BUMN Besutan PFN Siap Meluncur 2027

21 Agu 2026

Garuda Indonesia Uji Internet Cepat di Udara, Video Call dari Ketinggian 30 Ribu Kaki

22 Agu 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: