BerandaHits
Selasa, 30 Mar 2026 17:41

Pahitnya Rahasia Secangkir Kopi Luwak

Secangkir kopi luwak. (Thinkstock)

Siapa sangka di balik label 'kopi termahal di dunia', tersimpan duka satwa yang jarang tersorot kamera? Fenomena kopi luwak yang mendunia ternyata menyimpan praktik eksploitasi kejam. Luwak ditangkap, dikurung di kandang sempit, dan dipaksa makan demi memenuhi ambisi pariwisata.

Inibaru.id – Siapa sih yang nggak tahu kopi luwak? Minuman berlabel "premium" ini sudah lama jadi primadona, terutama buat para pelancong yang berkunjung ke Bali atau Sumatera. Harganya yang selangit kerap membuatnya dianggap sebagai simbol kemewahan.

Tapi, pernah nggak kamu membayangkan bagaimana proses "produksi" kopi ini di balik layar? Kalau kamu pikir biji kopinya masih dikumpulkan secara alami dari hutan, kamu perlu menyimak fakta pahit ini, Gez.

Dari Alam Liar ke Kandang Sempit

Luwak dikurung dalam kandang sempit agar produsen bisa denhan mudah memanen kotorannya. (Ist)

Dahulu, kopi luwak memang didapat secara tradisional. Petani mencari kotoran musang (Paradoxurus hermaphroditus) secara manual di lantai hutan. Namun, seiring melonjaknya permintaan pariwisata global, cara ini dianggap nggak "cuan" lagi karena nggak efisien.

Hasilnya? Banyak luwak liar ditangkap secara massal dengan jerat kawat yang menyakitkan. Mereka nggak lagi bebas memanjat pohon, melainkan dikurung dalam kandang kawat yang sempit dan kotor demi memuaskan rasa penasaran wisatawan.

Fyi, di alam liar, luwak adalah hewan omnivora yang pemilih. Mereka hanya makan buah kopi yang benar-benar matang sebagai selingan. Namun, laporan BBC mengungkap di Sumatera banyak penangkaran komersial dan membuat kondisi luwak berubah drastis:

Diet Paksaan

Luwak dipaksa makan biji kopi dalam jumlah berlebihan setiap hari tanpa variasi makanan lain.

Stres Kronis

Sebagai hewan nokturnal yang soliter (suka menyendiri), dikurung dan dipamerkan di bawah lampu serta keramaian turis bikin mereka stres berat.

Perilaku Abnormal

Banyak luwak yang saking stresnya sampai melakukan perilaku stereotipik, seperti mondar-mandir tanpa henti hingga melukai diri sendiri.

Wisata yang Berbalut Eksploitasi

Mengunjungi pekerbunan kopi dengan luwak di dalam kandang menjadi pariwisata yang laris manis. (Shutterstock)

Studi dari World Animal Protection mengungkap fakta miris di Bali. Dari belasan perkebunan kopi di jalur wisata Gianyar-Bangli, mayoritas memelihara luwak dalam kondisi kandang yang sangat buruk.

Ironisnya, banyak wisatawan yang nggak sadar akan hal ini. Mereka justru asyik mengantre demi foto bareng luwak di dalam kandang untuk diunggah ke media sosial. Padahal, setiap jepretan kamera itu secara nggak langsung melanggengkan praktik eksploitasi satwa.

Padahal, penderitaan hewan nggak seharusnya jadi bagian dari proses produksi minuman atau daya tarik wisata. Sebagai konsumen yang cerdas, kita punya kekuatan untuk menghentikan ini.

Caranya simpel kok, jangan lagi kunjungi perkebunan kopi yang memamerkan luwak di dalam kandang. Tanpa permintaan dari wisatawan, industri kejam ini nggak akan bertahan.

Gimana, Gez? Masih merasa kopi luwak itu mewah setelah tahu fakta di baliknya? Yuk, jadi pelancong yang lebih bijak dengan mengutamakan kesejahteraan satwa! (Siti Zumrokhatun/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Kelapa Kopyor Mahal Bukan Tanpa Alasan, Ini Fakta Menariknya

31 Jul 2026

Jemparingan, Seni Panahan Khas Mataram yang Mengajarkan Fokus dan Keteguhan Hati

1 Agu 2026

Sejarah Marga Kolopaking, Trah Bangsawan Kebumen yang Berasal dari Kisah Kelapa Aking

3 Agu 2026

Berkolaborasi dengan China, Lampung Siap Luncurkan Satelit Lampung-1

4 Agu 2026

Naik Lima Kali Lipat, Biaya Lepas Status WNI Resmi Naik Jadi Rp5 Juta, Ini Alasannya

5 Agu 2026

Kemenkeu Ambil Alih 60% Saham KCIC untuk Restrukturisasi Utang Whoosh

6 Agu 2026

CoreWeave Investasi Miliaran Dolar AS, Bangun Tiga Pusat Data AI Pertama di Indonesia

7 Agu 2026

Wayang Beber, Wayang Tertua di Nusantara yang Masih Bertahan hingga Kini

8 Agu 2026

Desa Giyombong Pernah Jadi Ibu Kota Jawa Tengah pada 1948, Ini Kisahnya

10 Agu 2026

Tari Lengger Banyumas: Warisan Budaya Penuh Makna yang Tetap Menari Melintasi Zaman

11 Agu 2026

AI Factory Terbesar di Asia Tenggara Bakal Dibangun di Indonesia, Kapasitas Capai 1 GW

12 Agu 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: