BerandaHits
Selasa, 23 Feb 2026 11:01

Tren Makanan Kukusan Makin Populer, Sehat bagi Tubuh?

Makanan kukusan belakangan sangat mudah ditemukan di pinggir jalan. (Kompasiana/Ririe Aiko)

Semakin banyak penjual makanan kukusan di pinggir jalan. Peminatnya juga semakin tinggi. Apakah hal ini adalah tren yang positif?

Inibaru.id - Beberapa waktu terakhir, linimasa media sosial diramaikan dengan unggahan foto atau video penjual di pinggir jalan yang menjajakan aneka makanan kukusan. Mulai dari jagung manis, ubi jalar, singkong, sampai pisang kukus, semuanya tampil dengan label “lebih sehat” dan “real food”.

Tren semakin banyak orang yang gemar membeli makanan kukusan ini pun bikin banyak orang bertanya-tanya: memangnya makan serba kukus setiap hari benar-benar bagus untuk tubuh? Kalau dilihat dari sisi gizi, kabar baiknya: iya, ini termasuk tren yang positif.

Umbi-umbian seperti ubi, singkong, dan talas merupakan sumber karbohidrat kompleks. Artinya, jenis karbohidrat ini dicerna lebih lambat oleh tubuh, sehingga bikin kenyang lebih lama dan membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil.

"Sudah jadi rahasia umum kan umbi-umbian atau pisang rebus ini baik buat kesehatan. Asalkan tentu saja dikonsumsi dengan seimbang dan nggak berlebihan," ungkap salah seorang pekerja di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), Dyah, pada Minggu (22/2/2026).

Nggak cuma itu, kandungan seratnya juga tinggi. Serat berperan penting untuk menjaga kesehatan pencernaan, mencegah sembelit, dan bahkan membantu mengontrol kolesterol. Jadi, kalau kamu sering merasa cepat lapar setelah makan gorengan, mungkin ini saatnya melirik camilan kukus.

Lebih Ramah untuk Jantung

Salah satu alasan utama makanan kukusan dianggap lebih sehat adalah karena minim minyak. Berbeda dengan metode menggoreng yang menambah asupan lemak dan kalori, teknik kukus hampir tidak membutuhkan minyak sama sekali.

Dampaknya? Asupan lemak jenuh bisa ditekan. Ini penting, terutama bagi kamu yang ingin menjaga berat badan atau mengurangi risiko penyakit jantung. Selain itu, suhu pengukusan cenderung lebih stabil dan tidak setinggi proses penggorengan, sehingga beberapa vitamin dan mineral pada makanan yang diolah lebih terjaga.

Menariknya lagi, karena bahan tidak bersentuhan langsung dengan air seperti saat direbus, risiko hilangnya zat gizi larut air juga lebih kecil.

Cocok untuk Banyak Bahan Pangan Lokal

Penjual makanan kukusan di Kota Semarang. (X/Firman Sinatria)

Banyak bahan pangan lokal Indonesia justru “bersinar” saat dikukus. Sebut saja jagung manis yang kaya vitamin dan mineral, labu kuning dengan kandungan beta karoten, hingga kacang-kacangan seperti edamame yang tinggi protein nabati.

Telur kukus juga bisa jadi alternatif sumber protein hewani yang praktis dan rendah lemak tambahan. Artinya, makanan kukusan bukan cuma soal camilan, tapi bisa dirancang jadi menu utama yang seimbang.

Boleh Dimakan Setiap Hari?

Kabar baiknya, makanan kukusan aman dikonsumsi setiap hari. Bahkan, ini bisa jadi bagian dari pola makan sehat jangka panjang. Tapi ingat, kuncinya tetap di variasi dan keseimbangan.

"Dulu sebelum bulan Ramadan, saya sering beli buat sarapan atau camilan setelah pulang kerja. Sekarang, sesekali saya membelinya sebagai menu berbuka," ungkap Dyah.

Jangan sampai karena sedang tren, menu harianmu isinya cuma ubi dan jagung tanpa tambahan protein atau sayur lain. Tubuh tetap butuh kombinasi karbohidrat, protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral agar bisa bekerja optimal.

Jadi, tren makanan kukusan ini bukan sekadar ikut-ikutan gaya hidup sehat. Kalau diterapkan dengan bijak dan tetap bervariasi, kebiasaan ini bisa jadi langkah sederhana menuju pola makan yang lebih ramah untuk tubuh. Setuju, Gez? (Arie Widodo/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Tari Lengger Banyumas: Warisan Budaya Penuh Makna yang Tetap Menari Melintasi Zaman

11 Agu 2026

AI Factory Terbesar di Asia Tenggara Bakal Dibangun di Indonesia, Kapasitas Capai 1 GW

12 Agu 2026

Pelajar SD-SMP di Yogyakarta Bakal Wajib Berbahasa Jawa Krama Inggil Sehari dalam Sepekan

13 Agu 2026

Temuan Situs Bongal Geser Linimasa Masuknya Islam ke Nusantara hingga Tujuh Abad

14 Agu 2026

HUT ke-81 RI, KAI Beri Diskon Tiket 17 Persen

14 Agu 2026

Pertalite Bakal Dibatasi untuk Desil 9-10, Siapa Saja yang Masuk Kelompok Ini?

15 Agu 2026

Rerie Dorong Situs Patiayam Terus Dijaga sebagai Warisan Peradaban

16 Agu 2026

Unik! Upacara HUT RI di Gang Presiden Puntan Diramaikan Kostum Daur Ulang Sampah

17 Agu 2026

Motor Bensin Bisa Ditukar Motor Listrik, Pemerintah Siapkan Skema Baru

18 Agu 2026

Bukan Rekaman Asli 17 Agustus 1945, Ini Sejarah Suara Proklamasi Bung Karno

19 Agu 2026

Negara Pertama yang Mengakui Indonesia Merdeka

20 Agu 2026

Sinewara, Bioskop BUMN Besutan PFN Siap Meluncur 2027

21 Agu 2026

Garuda Indonesia Uji Internet Cepat di Udara, Video Call dari Ketinggian 30 Ribu Kaki

22 Agu 2026

Mulai 1 Oktober, Semua Merchant Bisa Nikmati Transaksi QRIS Bebas Biaya

24 Agu 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: