BerandaHits
Senin, 12 Apr 2026 22:24

Kecelakaan (Lagi) di Silayur Semarang, Mau sampai Kapan?

Potret truk tronton terguling diduga setelah mengalami rem blong saat melintasi kawasan turunan Silayur, Ngaliyan Kota Semarang. (Inibaru.id/ Sundara)

Kecelakaan truk tronton di Silayur kembali terjadi diduga akibat pelanggaran jam operasional dan lemahnya pengawasan, memicu sorotan siapa yang bertanggungjawab atas insiden tersebut.

Inibaru.id - Pedagang ayam potong, Dwi Sumardiyanti, masih gemetar saat mengingat peristiwa kecelakaan truk tronton yang diduga mengalami rem blong di turunan Silayur, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, Jumat (10/4).

Saat itu, perempuan 54 tahun tersebut sedang merapikan dagangannya. Tiba-tiba, suara pengereman keras memecah suasana sebelum akhirnya kecelakaan terjadi di depan matanya sekitar pukul 09.15 WIB. Insiden tersebut memunculkan keresahan terhadap pelanggaran aturan dan kejadian yang terus berulang.

"Bukan syok lagi, saya ngerasanya kaki saya mau putus. Saya lihat sendiri, saya nggak sempat ngevideo karena udah takut. Suaranya keras banget," ucap Dwi saat ditemui Inibaru.id di lokasi kejadian.

Dwi menuturkan, truk tronton berpelat B 9517 FG melaju tak terkendali dari arah selatan ke utara. Kendaraan itu menabrak Toyota Yaris merah, pikap jasa angkut dan sepeda motor sebelum akhirnya terguling dan menutup dua ruas badan Jalan Prof. Hamka.

"Mobil Yaris merah sampai terpelanting keluar bahu jalan. Terus nabrak pikap terparkir, sepeda motor, lalu banting ke kanan. Suaranya keras (terguling), rem blong katanya," imbuh Dwi.

Dampak kecelakaan tak berhenti di situ. Satu tiang penerangan jalan umum (PJU) roboh dan gerobak penjual cilok ikut rusak tertabrak truk. Rantai kerusakan ini menunjukkan besarnya risiko ketika kendaraan berat kehilangan kendali di jalur padat aktivitas warga.

Saksi mata lainnya, Agus Sugito, bahkan mendengar langsung sopir truk berteriak, "Rem blong!" saat kendaraan meluncur tak terkendali. Beruntung, kondisi lalu lintas tidak terlalu padat sehingga potensi korban lebih besar bisa dihindari.

"Sopir truk itu teriak ‘blong, rem blong’. Saya langsung nolong pengemudi Yaris yang terlempar keluar badan jalan karena posisinya dekat sama saya," ungkap Agus.

Ada Tiga Korban

Truk tronton terguling menutupi dua ruas Jalan Prof Hamka Ngaliyan Kota Semarang. (Inibaru.id/ Sundara)

Satlantas Polrestabes Semarang mencatat tiga orang menjadi korban dalam kecelakaan tersebut. Polisi menyebut insiden bermula saat truk melaju dari turunan Silayur dan diduga kehilangan kendali sebelum menghantam kendaraan di depannya.

"Dari atas depan Rumah Sakit Permata Medika diduga hilang kendali, kemudian menabrak Yaris merah. Sopir banting kiri, kena gerobak cilok, mobil pikap, dan sepeda motor sebelum terguling," ujar Iptu Rio.

Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Namun tiga orang mengalami luka dan harus mendapatkan perawatan medis di RS Permata Medika, mempertegas dampak kecelakaan tetap serius meski tidak berujung fatal.

"Korban ada tiga orang. Pengemudi Yaris cedera di jari tangan, sopir truk luka robek di kepala dan tangan, pengendara motor luka di kepala," tuturnya.

Hingga kini, polisi belum menyimpulkan penyebab pasti kecelakaan. Dugaan rem blong masih didalami, termasuk kemungkinan faktor kelalaian teknis lainnya.

"Saat ini masih proses penyelidikan. Dugaan rem blong masih didalami, belum bisa dipastikan dan simpulkan," terangnya.

Banyak Truk Bandel

Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Semarang menyoroti pelanggaran jam operasional truk muatan berat yang diduga menjadi salah satu pemicu berulangnya kecelakaan. Aturan sebenarnya sudah jelas: truk sumbu tiga atau di atas 8 ton hanya boleh melintas di Silayur mulai pukul 23.00-05.00 WIB.

Namun, fakta di lapangan menunjukkan banyak truk tetap nekat melintas di luar jam tersebut. Kondisi ini memperlihatkan lemahnya kepatuhan sekaligus pengawasan yang belum optimal.

Kepala Dishub Kota Semarang, Danang Kurniawan, mengakui pihaknya memiliki keterbatasan kewenangan dalam penindakan. Dishub hanya bisa menghalau, bukan menghentikan kendaraan secara langsung.


"Kami ini upayanya menghalau, kewenangan menghentikan bukan tugas kami. Setiap hari kami melakukan pengawasan, tapi kadang ada truk yang tetap nyelonong dan nyaris membuat petugas ketabrak," tutur Danang.

Pemkot Akui Tata Ruang Keliru

Papan imbauan tentang aturan jam operasional truk tronton dengan tonase berat di Kawasan Silayur Kota Semarang. (Inibaru.id/ Sundara)

Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang secara terbuka mengakui persoalan tata ruang menjadi akar masalah. Kawasan Mijen yang berkembang sebagai area industri justru bertumpu pada jalur yang secara teknis tidak ideal untuk kendaraan berat seperti di Silayur.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti menyebut, kecelakaan berulang tidak bisa dilepaskan dari kesalahan perencanaan dan kondisi geometrik jalan yang berbahaya bagi truk bertonase besar.

"Tata ruang kita memang keliru. Kemiringan jalannya tidak layak untuk kendaraan berat, tapi jalur itu jadi akses utama pabrik-pabrik di sana," ucap Agustina.

Di sisi lain, perbaikan infrastruktur secara menyeluruh di kawasan Silayur bukan perkara mudah. Upaya pelandaian atau rekonstruksi jalan membutuhkan anggaran besar yang tidak mampu ditanggung APBD.

"Memang harus diubah. Hanya kemarin diproses perubahan anggaran, perencanaan anggaran. Kalau itu (Silayur) mau dilakukan perubahan, uangnya sekitar Rp60 miliar," tutur Agustina. "Tapi kita nggak bakal kuat, benar-benar enggak kuat."

Keterbatasan kewenangan juga menjadi persoalan lainnya. Menurut Agustina, Pemkot Semarang tidak punya hak menutup jalan atau menghentikan operasional perusahaan yang melanggar aturan.

"Satu-satunya upaya pencegahan kecelakaan di Silayur dengan kolaborasi seluruh pihak dan kepatuhan terhadap aturan yang telah ditetapkan," ungkap Agustina.

Diduga Ada 'Pelindung'

Anggota Komisi C DPRD Kota Semarang dari Fraksi PKS, Agus Riyanto Slamet, menanyakan keseriusan pengawasan aturan pembatasan jam operasional truk sumbu tiga. Dia menilai berulangnya insiden truk tronton kecelakaan menunjukkan lemahnya pengawasan terhadap pelanggaran aturan.

Dishub dan Pemkot harus mengevaluasi kenapa kejadian masih berulang, padahal aturan sudah ada. Ini menunjukkan masih adanya pelanggaran yang terjadi, terutama terkait jam melintas truk besar dan muatannya," tutur Agus.

Dia menduga adanya pihak yang melindungi dan membiarkan truk-truk muatan besar tetap beroperasi di luar waktu yang telah ditetapkan. Pemkot Semarang didorong untuk bertindak tegas jika ada oknum yang justru membekingi pelanggaran tersebut.

"Harus ada keberanian untuk melawan pihak-pihak yang memaksa agar truk bisa melintas di luar jam yang sudah ditetapkan," pintanya.

Agus juga menyatakan perlunya penegakan sanksi yang lebih keras terhadap perusahaan yang tidak mematuhi aturan operasional. Dia menyarankan agar izin operasional dapat dicabut atau tidak diberikan kembali kepada pelaku usaha yang terbukti berulang kali melanggar ketentuan.

"Perlu ada sanksi bagi perusahaan yang bandel, dan tidak memberikan izin melintas bagi pengusaha yang tidak taat aturan," tandasnya.

Jika pengawasan lemah dan pelanggaran terus terjadi, maka kecelakaan di Silayur hanyalah siklus yang terus berulang tanpa ujung. Maka harus ada solusi yang kongkret untuk keselamatan pengguna jalan. Benar begitu kan Gez? (Sundara/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Blok GM, Surga Anak Skena, dan Wajah Baru Kota Semarang saat Malam

9 Apr 2026

Puting Beliung Terjang Banyumanik, Pemkot Semarang Akan Perbaiki Rumah Warga Terdampak

9 Apr 2026

Kembalikan Ruh, Tiket Masuk Resmi Ditiadakan dalam Tradisi Bulusan

9 Apr 2026

Pecinan Semarang Bakal Dikelilingi Arak-arakan 50 Kelenteng Akhir Pekan Ini!

10 Apr 2026

30 Persen Jemaah Haji asal Semarang Masuk Kategori Muda, Puluhan di Antaranya Gen Z

10 Apr 2026

Kolaborasi AMSI dan Meta untuk Dukung Jurnalisme Berkualitas

10 Apr 2026

Jaga Produksi, Pengusaha Tahu Semarang Putar Otak saat Harga Kedelai dan Plastik Naik

10 Apr 2026

Ogah Cuma Jadi Formalitas, Sumanto Pengin Bedah LKPJ 2025 Hasilkan Solusi Nyata buat Jateng

11 Apr 2026

Investasi buat Anak Cucu, Sumanto Ajak Relawan Jaga Kali-Rawat Bumi

12 Apr 2026

Kecelakaan (Lagi) di Silayur Semarang, Mau sampai Kapan?

12 Apr 2026

Lezatnya Opor Enthok di Warung Enthok Bu Siti, Kuliner Legendaris Wonosobo

30 Mar 2026

Cuma 53 Detik di Udara, Begini Cerita Penerbangan Terpendek di Dunia

30 Mar 2026

Pahitnya Rahasia Secangkir Kopi Luwak

30 Mar 2026

Jemaah Umrah Wajib Pulang Sebelum 18 April!

30 Mar 2026

Tanggapan Warga Terkait Kemungkinan Harga BBM Naik pada 1 April 2026

31 Mar 2026

Benar Nggak Sih Mengaktifkan Mode Pesawat Bikin Durasi Ngecas HP Jadi Lebih Cepat?

31 Mar 2026

April Mop atau April Panas? Intip Bocoran Cuaca BMKG Sepekan ke Depan!

31 Mar 2026

Stres Kok Sampai Meriang? Mari Kenalan dengan Demam Psikogenik

31 Mar 2026

Persiapan Menghadapi Fenomena Alam Godzilla El Nino pada Musim Kemarau Nanti, Apa Saja?

1 Apr 2026

Memakai BBM yang Ditimbun Lama, Berbahaya Buat Kendaraan Nggak, Ya?

1 Apr 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: