Inibaru.id – Masalah krisis air pas musim kemarau memang sering bikin pusing, terutama buat para petani. Menanggapi hal itu, Ketua DPRD Jateng Sumanto nggak mau tinggal diam. Ia baru saja mencanangkan gerakan keren bertajuk "Penanaman Pohon Jogo Kali Merawat Bumi" di Kabupaten Karanganyar.
Sabtu (11/4/2026) kemarin, ratusan orang dari kelompok tani dan Relawan Jogo Kali sudah mulai gaspol. Mereka menanam sekitar 100 bibit pohon jenis Preh, Bulu, dan Beringin di sekitar Sungai Ndelok, Desa Suruh, Tasikmadu. Kenapa pohon-pohon itu? Karena mereka dikenal jago banget menyimpan cadangan air!
Baca Juga:
Ogah Cuma Jadi Formalitas, Sumanto Pengin Bedah LKPJ 2025 Hasilkan Solusi Nyata buat JatengSumanto berharap, aksi ini bisa memancing munculnya kembali sumber-sumber air yang dulu sempat hilang.
"Gerakan ini untuk merawat bumi, salah satunya melalui sungai. Di desa dulu banyak yang namanya belik atau sumber air kecil, sekarang tidak ada. Maka sekarang ditanami pohon-pohon yang bisa menampung air saat musim kemarau," ujar politisi PDI Perjuangan tersebut.
Investasi buat Masa Depan
Bagi Sumanto, menanam pohon sekarang adalah cara kita "menabung" air untuk 5 sampai 10 tahun ke depan. Jadi, hasilnya mungkin nggak instan, tapi bakal sangat berharga buat generasi mendatang.
"Dengan banyaknya pohon yang bisa menyimpan air, harapannya nanti 5 sampai 10 tahun ke depan akan timbul sumber-sumber air baru. Ini yang nanti ngunduh anak cucu kita," ungkapnya.
Kerennya lagi, gerakan ini nggak cuma sekali jalan terus ditinggal. Sumanto rencananya bakal mengadakan aksi ini setiap hari Sabtu di berbagai lokasi yang gersang. Para Relawan Jogo Kali yang sudah terbentuk di tiap desa juga bakal rutin patroli buat memastikan bibit pohonnya tetap hidup dan terawat.
Baca Juga:
Konsisten Nguri-uri Budaya, Sumanto Diganjar Gelar 'Satriyo Pelestari Budaya Ringgit Purwo'Kepedulian Sumanto ini disambut bahagia sama warga, terutama para petani. Selama ini, kalau kemarau datang, petani di Desa Suruh harus merogoh kocek dalam-dalam buat sewa sumur bor demi mengairi sawah.
Ketua Kelompok Petani Maju, Sumarno, curhat kalau sekali pengairan saja butuh biaya Rp100 ribu. Padahal, dalam satu musim tanam bisa butuh 20 sampai 25 kali pengairan. Kebayang kan berapa modal tambahan yang harus keluar?
"Saat kemarau petani selalu menjerit. Kalau air tersedia sepanjang tahun, petani tak akan kebingungan. Kami mendukung program ini terus berlanjut," kata Sumarno.
Dengan hijaunya kembali bantaran sungai, risiko banjir dan longsor juga bisa ditekan. Wah, kalau sungainya asri dan airnya melimpah, semua pasti jadi senang, kan? (Ike P/E01)
