BerandaTradisinesia
Selasa, 13 Apr 2026 06:01

Bernuansa Spiritual, Tradisi Kirab Kelenteng di Pecinan Semarang

Jalan di kawasan Pecinan Semarang dipenuhi peserta arak-arakan kirab budaya kelenteng dari berbagai daerah di Indonesia. (Inibaru.id/ Sundara)

Kirab puluhan kelenteng di Pecinan Semarang menghadirkan 57 kelenteng dari berbagai daerah dalam arak-arakan sarat doa, ritual, dan budaya, sekaligus menegaskan kuatnya akulturasi serta kebersamaan masyarakat lintas komunitas.

Inibaru.id - Di tengah riuh kirab budaya di kawasan Pecinan Semarang, Vincent tampak beberapa kali menangkupkan tangan sambil memejamkan mata. Setiap kali arak-arakan dewa altar melintas, ayah satu anak asal Gayamsari itu seolah tengah merangkai doa diam-diam di tengah keramaian yang padat.

Suasana Pecinan Minggu (12/4) siang itu benar-benar hidup oleh denting alat musik yang bersahut-sahutan dari berbagai rombongan peserta kirab budaya. Asap dupa sesekali mengepul dan menyatu dengan udara jalanan.

Warga berjejer di tepi jalan, sebagian sibuk merekam momen dengan ponsel, sebagian lain memilih diam menikmati iring-iringan yang bergerak pelan tapi penuh khidmat.

"Acara seperti ini bagus sekali. Saya selalu berdoa setiap altar dewa lewat itu intinya ingin diberikan perlindungan dan keberkahan dari Yang Maha Kuasa," ucap lelaki 31 tahun kepada Inibaru.id.

Bagi Vincent, kirab puluhan kelenteng di Pecinan Semarang bukan sekadar tontonan budaya, melainkan juga ruang untuk meningkatkan sisi spiritual. Dia bahkan sengaja mengajak anaknya agar bisa mengenal tradisi Tionghoa sejak dini, sebagai bagian dari warisan budaya yang perlu dipahami.

Kirab budaya ini menjadi puncak perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-160 Kelenteng TTID Ling Hok Bio sekaligus HUT Yang Mulia Kongco Hok Tek Tjing Sien. Sekitar 57 kelenteng dari berbagai daerah di Indonesia ikut terlibat, menghadirkan arak-arakan yang tak hanya sarat ritual, tetapi juga kental nuansa kebersamaan dan seni pertunjukan.

Gunungan hasil bumi turut diarak dalam kirab budaya peringatan HUT ke-160 Kelenteng TTID Ling Hok Bio. (Inibaru.id/ Sundara)

Perwakilan Kelenteng Hok Sin Bio Manado, Jefri Luis, menyebut rombongannya membawa sejumlah perangkat ritual, seperti altar Hok Tek Cing Sin (Dewa Bumi), Macopong, hingga Lo Cia untuk memeriahkan kirab budaya tersebut.

Remaja 14 tahun ini mengaku sudah beberapa kali mengikuti kirab serupa di berbagai daerah. Namun, setiap daerah punya kekhasan tersendiri, termasuk dalam perlengkapan dan entitas yang dibawa, yang selalu menyesuaikan tradisi masing-masing kelenteng.

"Maknanya sederhana, supaya kita bisa terus melestarikan budaya yang diwariskan leluhur. Sudah menjadi kewajiban kita untuk tetap menghormati mereka sampai sekarang," imbuh Jefri.

Peserta kirab lainnya dari Kelenteng Hok Tek Bio Tangerang, Lowy mengatakan rombongannya membawa Joli yang di dalamnya terdapat Kim Sin. Dia mengaku senang bisa kembali terlibat dalam kirab budaya yang menurutnya selalu penuh energi itu.

"Kami membawa Joli dan Kim Sin ini untuk pembersihan jalan, supaya hal-hal buruk atau energi negatif di kawasan Pecinan tidak ada," jelasnya.

Peserta kirab budaya silih berganti mengunjungi Kelenteng Tay Kak Tsie untuk didoakan. (Inibaru.id/ Sundara)

Sementara itu, Humas Panitia HUT ke-166 Kelenteng TTID Ling Hok Bio, Agung Kurniawan, menyampaikan bahwa sebanyak 57 kelenteng dari berbagai daerah di Indonesia diundang untuk mengikuti kirab budaya ini. Rutenya hampir mengelilingi seluruh kawasan Pecinan Semarang.

Agung menambahkan bahwa kirab budaya ini sebelumnya pernah digelar pada 2023. Meski perayaan HUT Kelenteng TTID Ling Hok Bio berlangsung setiap tahun, kirab besar seperti ini hanya diadakan tiga tahun sekali.

"Kami bertanya kepada roh suci yang berada di kelenteng. Jadi kirab budaya ini memang hanya digelar tiga tahun sekali," bebernya.

Rangkaian HUT Kelenteng TTID Ling Hok Bio yang puncaknya berlangsung selama dua hari pada Sabtu dan Minggu ini juga menghadirkan perpaduan budaya Jawa dan Tionghoa. Kolaborasi itu menjadi penegas bahwa harmoni dua budaya tersebut telah terjalin lama di tengah kehidupan masyarakat Semarang.

"Inilah yang kami sebut sebagai doa visual. Akulturasi ini bukan sekadar tontonan, tetapi pernyataan bahwa kami adalah bagian yang tak terpisahkan dari tanah Jawa," tandasnya.

Kirab puluhan kelenteng di Pecinan Semarang meninggalkan jejak yang lebih dari sekadar perayaan. Di balik arak-arakan dan riuh warga, tersimpan pesan tentang keterhubungan manusia, tradisi dan keyakinan yang terus dirawat dari masa ke masa, ya Gez. (Sundara/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Blok GM, Surga Anak Skena, dan Wajah Baru Kota Semarang saat Malam

9 Apr 2026

Puting Beliung Terjang Banyumanik, Pemkot Semarang Akan Perbaiki Rumah Warga Terdampak

9 Apr 2026

Kembalikan Ruh, Tiket Masuk Resmi Ditiadakan dalam Tradisi Bulusan

9 Apr 2026

Pecinan Semarang Bakal Dikelilingi Arak-arakan 50 Kelenteng Akhir Pekan Ini!

10 Apr 2026

30 Persen Jemaah Haji asal Semarang Masuk Kategori Muda, Puluhan di Antaranya Gen Z

10 Apr 2026

Kolaborasi AMSI dan Meta untuk Dukung Jurnalisme Berkualitas

10 Apr 2026

Jaga Produksi, Pengusaha Tahu Semarang Putar Otak saat Harga Kedelai dan Plastik Naik

10 Apr 2026

Ogah Cuma Jadi Formalitas, Sumanto Pengin Bedah LKPJ 2025 Hasilkan Solusi Nyata buat Jateng

11 Apr 2026

Investasi buat Anak Cucu, Sumanto Ajak Relawan Jaga Kali-Rawat Bumi

12 Apr 2026

Kecelakaan (Lagi) di Silayur Semarang, Mau sampai Kapan?

12 Apr 2026

Lezatnya Opor Enthok di Warung Enthok Bu Siti, Kuliner Legendaris Wonosobo

30 Mar 2026

Cuma 53 Detik di Udara, Begini Cerita Penerbangan Terpendek di Dunia

30 Mar 2026

Pahitnya Rahasia Secangkir Kopi Luwak

30 Mar 2026

Jemaah Umrah Wajib Pulang Sebelum 18 April!

30 Mar 2026

Tanggapan Warga Terkait Kemungkinan Harga BBM Naik pada 1 April 2026

31 Mar 2026

Benar Nggak Sih Mengaktifkan Mode Pesawat Bikin Durasi Ngecas HP Jadi Lebih Cepat?

31 Mar 2026

April Mop atau April Panas? Intip Bocoran Cuaca BMKG Sepekan ke Depan!

31 Mar 2026

Stres Kok Sampai Meriang? Mari Kenalan dengan Demam Psikogenik

31 Mar 2026

Persiapan Menghadapi Fenomena Alam Godzilla El Nino pada Musim Kemarau Nanti, Apa Saja?

1 Apr 2026

Memakai BBM yang Ditimbun Lama, Berbahaya Buat Kendaraan Nggak, Ya?

1 Apr 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: