BerandaTradisinesia
Rabu, 14 Apr 2026 15:01

Ikhtiar Warga Silayur, Kembalikan Tradisi Ruwatan untuk Keselamatan Pengguna Jalan

Ruas Jalan Silayur di Kecamatan Ngaliyan terkenal jakur rawan kecelakaan. (Inibaru.id/ Sundara)

Warga Silayur, Ngaliyan, Kota Semarang berencana menghidupkan kembali tradisi ruwatan yang telah vakum sejak 1980 sebagai ikhtiar doa bersama untuk keselamatan pengguna jalan di jalur yang kerap rawan kecelakaan.

Inibaru.id - Sebagian warga Silayur, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, mengatakan bakal mencoba kembali menghidupkan tradisi ruwatan yang sudah nyaris empat dekade lebih vakum di daerahnya. Tradisi ini digelar sebagai upaya untuk mendoakan keselamatan pelintas di jalur rawan kecelakaan tersebut.

Perlu diketahui, jalur Silayur dikenal sebagai rute maut di Kota Semarang. Nggak sedikit kecelakaan terjadi di ruas jalan tersebut. Yang terbaru, belum lama ini terjadi sebuah insiden lalu lintas di wilayah ini, yang dipicu oleh truk tronton yang diduga mengalami rem blong dan kehilangan kendali.

Meski tidak menimbulkan korban jiwa, peristiwa itu mengakibatkan tiga kendaraan tertabrak, merusak gerobak pedagang cilok, hingga menumbangkan satu tiang PJU di lokasi kejadian. Maka, warga setempat merasa perlu menghidupkan kembali tradisi ruwatan sebagai sarana memanjatkan doa keselamatan.

Berdasarkan catatan yang dihimpun Inibaru.id, tradisi ruwatan di Silayur kali pertama digagas oleh Kepala Dukuh Dawet, Mbah Kromo. Pada masa itu, angka kecelakaan di kawasan tersebut terbilang tinggi, bahkan hampir terjadi setiap pekan dan kerap memakan korban jiwa.

Setelah menjalani laku tirakat, Mbah Kromo konon mendapatkan petunjuk untuk menggelar ruwatan di wilayah tersebut. Sejak saat itu, tradisi ini diwujudkan dalam bentuk rangkaian ritual ruwatan yang dimulai dari sedekah bumi, doa bersama warga, lantas ditutup dengan pertunjukan wayang kulit.

Tradisi tersebut rutin digelar oleh warga setempat, bahkan setelah Mbah Kromo mangkat dan digantikan oleh penerusnya, yakni Mbah Nasir. Namun, sepeninggal Mbah Nasir, tradisi itu perlahan mulai ditinggalkan. Berdasarkan catatan sejarah, tradisi ini kali terakhir digelar pada 1980.

Kini, warga RW 04 Silayur Lawas Duwet mencoba berinisiatif untuk menghidupkan kembali tradisi itu sebagai ikhtiar kolektif untuk menekan potensi kecelakaan di ruas jalan Silayur. Rangkaian sedekah bumi hingga pergelaran wayang pun kembali dihidupkan.

Ketua RW 04, Asrondi membenarkan bahwa ruwatan sebagai upaya warga menjaga keselamatan pengguna jalan terakhir kali digelar pada 1980. Setelah itu, tidak ada lagi tokoh atau sesepuh yang meneruskan tradisi tersebut di lingkungan setempat.

"Warga di sini sudah cukup religius. Jadi, rencana sedekah bumi hanya berupa tumpengan dan doa bersama, tanpa unsur klenik," ucap Asrondi, Minggu (12/4). "Ini ikhtiar warga untuk memohon keselamatan dan menghidupkan kembali tradisi masyarakat Jawa."

Ketua Panitia, Supadi menuturkan, rencana menggelar kembali tradisi ruwatan semula bersifat internal RW 04. Namun, karena mendapat respons positif dari pelbagai pihak, kegiatan tersebut akhirnya akan dibuka untuk masyarakat umum. Jadi, siapa pun bisa turut serta dalam prosesi ruwatan.

Seluruh rangkaian ruwatan akan digelar di Lapangan Voli RT 02 RW 04 Silayur Lawas Duwet pada Sabtu, 16 Mei 2026. Panitia juga menyiapkan ruang bagi pelaku usaha kecil agar dapat ikut merasakan dampak ekonomi dari kegiatan tradisi ini.

"Karena antusiasme warga tinggi, kami akan berkoordinasi dengan tokoh-tokoh di lingkungan RW dan menyusun kegiatan dengan melibatkan budayawan serta pemangku kebijakan di Kota Semarang," tandasnya.

Tradisi Ruwatan Silayur yang kembali dihidupkan warga bukan hanya soal tradisi, tetapi juga bentuk ikhtiar kolektif menjaga keselamatan dan merawat harapan agar jalan yang dilalui setiap hari terasa lebih aman. Lebih dari itu, ia adalah peringatan untuk pengendara agar berhati-hati saat melintas di ruas jalur maut itu. (Sundara/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Perusahaan Kereta Asal Swiss Lirik Indonesia sebagai Basis Produksi untuk Pasar Asia

30 Jun 2026

Harga Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina DEX Turun Mulai 1 Juli 2026, Pertamax Tetap

1 Jul 2026

DJP Siap Terapkan Pajak E-Commerce Mulai 1 Juli 2026

1 Jul 2026

Mulai 1 Juli 2027, Empat Marketplace Resmi Pungut Pajak Pedagang Online

2 Jul 2026

Tabung CNG 3 Kg Segera Diuji, Diklaim Lebih Aman dari LPG

3 Jul 2026

Pemerintah Siapkan 39 Bandara Baru, Total Bandar Udara di Indonesia Bakal Jadi 296

4 Jul 2026

Belajar Langsung dari Mbah Atemo, Belasan Anak Muda Lestarikan Mainan Tradisional Berbahan Kertas Bekas

6 Jul 2026

Mengenal Bunga Edelweiss Jawa, Si "Bunga Abadi" yang Justru Terancam Punah

6 Jul 2026

Dikira Bahasa Gaul, "Anjir" Justru Kosakata Lama Nelayan Pantura

7 Jul 2026

Penelitian Terbaru Ungkap Fakta Baru Manusia Hobbit Flores

8 Jul 2026

Muhammadiyah Resmikan KucingMu, Kampanyekan Kepedulian terhadap Hewan

9 Jul 2026

Pemerintah Tetapkan 13 Juli sebagai Hari Kepercayaan, Ini Dasar Pertimbangannya

10 Jul 2026

BRIN Targetkan Luncurkan Satelit NEO-1 pada Januari 2027, Tonggak Kemandirian Teknologi Antariksa Indonesia

13 Jul 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: