BerandaHits
Rabu, 20 Jan 2026 16:05

Ratusan Perjalanan Batal karena Banjir Pekalongan, Stasiun Tawang Jadi Saksi Kekecewaan

Potret kereta api saat melintasi jalur yang terendam banjir di Kabupaten Pekalongan. (Dok KAI Daop 4 Semarang)

Banjir di Pekalongan melumpuhkan ratusan perjalanan kereta, membuat stasiun menjadi saksi kekecewaan penumpang dan memaksa banyak tiket dibatalkan

Inibaru.id - Stasiun Tawang Semarang, salah satu pemberhentian kereta tersibuk di pantura Jateng mendadak lengang pada Senin (19/1/2026). Nggak ada suara nyaring peluit dan bising deru si ular besi maupun aktivitas penumpang yang naik atau turun keteta.

Ruang tunggu penumpang juga tampak sunyi, dengan segelintir penghuni yang tampak frustrasi. Selama tinggal di Kota Lunpia, baru kali ini saya melihat Stasiun Tawang seperti itu; sunyi tanpa denyut kehidupan dan penumpang yang melepas kepergian atau menyambut kepulangan dengan emosinya masing-masing.

Hiruk-pikuk yang biasa memenuhi peron lenyap, digantikan keheningan yang begitu beku, terasa jauh lebih dingin karena di luar hujan belum juga reda.

Sepinya Stasiun Tawang ini merupakan dampak dari sejumlah kereta api yang batal berangkat. Sejak Sabtu (17/1), jalur kereta di wilayah Daop 4 Semarang memang lumpuh akibat genangan banjir yang merendam petak jalan antara Stasiun Pekalongan dan Stasiun Sragi atau tepatnya di Km 88+6/7.

Lumpuh karena Banjir

Manager Humas Daop 4 Semarang, Luqman Arif mengatakan, air yang menggenangi rel membuat perjalanan kereta di wilayah pantura Jawa terpaksa disetop. Hingga Senin (19/1), tercatat 108 perjalanan kereta api telah dibatalkan, sementara 31 perjalanan lainnya harus melakukan pengalihan rute dan mengalami keterlambatan.

"Kami menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pelanggan ketidaknyamanan yang terjadi," ujar Luqman Arif dalam keterangan tertulisnya. "KAI berkomitmen untuk terus mempercepat proses normalisasi dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan perjalanan kereta api."

Selama tiga hari, KAI Daop 4 Semarang mencatat, sudah 10.985 tiket yang dibatalkan. Para penumpang juga sudah diberi tahu untuk melakukan refund tiket di loket stasiun atau melalui Call Center 121 maksimal 7x24 jam dari tanggal tertera, dengan pengembalian 100 persen.

Luqman menyebut, genangan air sejatinya sudah berangsur surut. Jalur kereta juga sudah bisa dilalui dengan kecepatan maksimal 30 kilometer per jam. Namun, karena operasional perjalanan kereta belum sepenuhnya pulih, jalur tersebut belum dioperasikan sepenuhnya demi keamanan.

"Kami tengah berupaya memperbaiki geometri rel atau mengembalikan posisi rel agar sesuai standar teknis baik dari sisi ketinggian, kelurusan, kemiringan dan kestabilan," paparnya.

Stasiun jadi Saksi Kekecewaan

Suasana sunyi di Stasiun Tawang Semarang yang jarang terjadi mengingat stasiun ini paling sibuk di pantura Jawa Tengah. (Inibaru.id/ Sundara)

Stasiun yang biasanya dipenuhi wajah-wajah semringah seketika berubah menjadi saksi kekecewaan para penumpang yang gagal melakukan perjalanan karena keretanya dibatalkan akibat terdampak banjir di Pekalongan.

Area loket customer service Stasiun Tawang memang dipadati antrean yang mengular hingga pintu masuk. Namun, alih-alih membeli, mereka adalah para penumpang yang tengah mengurus pembatalan dan pengembalian biaya perjalanan akibat kereta mereka yang batal diberangkatkan.

Ira, salah seorang warga Ngaliyan yang turut serta dalam antrean tersebut mengatakan, dia mengantre untuk refund dua perjalanan kereta yang dibatalkan untuk rute Jakarta-Semarang pada keberangkatan Minggu (18/1), yakni KA Gunungjati dan KA Manahan, dengan nominal Rp1,2 juta dan Rp1,8 juta.

"Semula saya beli tiket KA Gunungjati untuk tiga orang, tapi kemudian dapat kabar bahwa perjalanan dibatalkan. Lalu, saya cari alternatif dengan beli tiket KA Manahan yang melalui jalur selatan. Eh, ternyata dibatalkan juga karena banjir di Pekalongan," sebutnya, Senin (19/1).

Terkait pembatalan ini, dia mengaku sempat bingung, meski pada akhirnya tetap ke Semarang dengan kendaraan pribadi. Namun, yang membuatnya lebih bingung sebetulnya adalah adanya perbedaan informasi dari petugas terkait mekanisme pengembalian dana pembatalan tiket.

"Semula, saya diberi tahu bahwa pengembalian biaya hanya bisa dilakukan di stasiun sebelum tujuan akhir perjalanan, padahal ternyata bisa di semua stasiun. Saya sempat ke Tegal; tapi untuk refund antreannya panjang banget, mungkin karena takut tidak bisa refund di Semarang juga," keluhnya.

Proses Refund yang Rumit

Potret antrian panjang orang-orang yang sedang mengurus pengembalian tiket di loket customer service Stasiun Tawang Semarang. (Sundara/Inibaru.id)

Kisah kurang menyenangkan juga dialami Reza Budiono, warga Grobogan yang sengaja datang jauh-jauh ke Semarang untuk mengurus refund tiket kepunyaan kakak kandungnya di Stasiun Tawang. Saat mengurus pengembalian biaya, dia mengaku mengalami kendala adminstrasi.

"Petugas pelayanan mensyaratkan ada KTP fisik sebagai bukti kuasa atas pemilik tiket, padahal saya hanya bawa bukti tiket dan KTP digital (milik kakak)," akunya, Senin (19/1).

Menurut Reza, persyaratan KTP fisik cukup memberatkan baginya yang datang dari jauh. Sementara, saat itu kakaknya sedang berada di Solo dalam kondisi sakit. Pembatalan kereta itu, lanjutnya, bukanlah kesalahan penumpang, jadi seharusnya ada pertimbangan (aturan KTP fisik) dari pihak KAI.

"Kakak saya mau naik kereta dari Stasiun Telawa (Boyolali) ke Balapan (Solo) pada Sabtu (16/1) sore, tapi kemudian dibatalkan karena banjir," terangnya. "Nominal tiketnya tidak besar, tapi itu hak kami. Haruskah prosedur pengurusannya serumit itu, padahal mereka yang melakukan pembatalan?"

Hingga saya pulang, antrean masih mengular panjang, memperlihatkan deretan raut muka frustrasi dan penuh kekecewaan yang bikin Stasiun Tawang begitu muram hari itu. Semoga banjir di Pekalongan segera surut dan perjalanan KA kembali normal lagi ya, Gez! (Sundara/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Riset CISDI: Satu Dekade Berlalu, Harga Rokok Tetap Murah, Reformasi Cukai Diperlukan

17 Apr 2026

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: