Inibaru.id - Panggung baru bagi seni ukir Jepara akan segera hadir. Lewat Pameran Tatah 2026, karya-karya ukir berbasis riset dan sejarah itu bakal dihadirkan dan dipajang di ruang publik di Museum Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, pada April mendatang.
Sedikit informasi, eksibisi Tatah 2026 merupakan event yang diinisiasi oleh Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Jepara yang berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara dan Rumah Kartini.
Menyoal seni ukir di Tanah Air memang nggak bisa lepas dari Kabupaten Jepara yang selama berabad-abad telah dikenal sebagai salah satu penghasil produk kesenian bernilai tinggi tersebut. Kota pesisir ini bahkan menyimpan sejarah panjang pengetahuan, proses budaya, hingga ekosistem seni pahat ini.
Sejarah itu bahkan terlah diwariskan sehingga menjadi kesadaran kolektif lintas generasi di kota tersebut. Nah, kesadaran itulah yang kemudian menjadi cikal bakal gagasan pameran Tatah 2026.
Pameran ini sejak awal sengaja dirancang untuk memandang seni ukir Jepara lebih dari sekadar tampilan karya, tetapi juga rangkaian pengetahuan, proses kebudayaan, dan ekosistem keterampilan yang terus bertumbuh.
Mengangkat tema "Suluk-Sulur-Jepara", penggagas pameran Tatah 2026 mencoba menyusun pendekatan kuratorial yang menempatkan seni ukir sebagai praktik pengetahuan (Suluk) dan ekspresi visual yang terus berkembang (Sulur), serta Jepara sebagai ruang sosial yang membentuk identitas budaya yang berlapis.
Rencana awal, Tatah 2026 akan ditampilkan di Galeri Nasional Indonesia. Namun, setelah riset diperdalam dan arah kuratorial diperkuat, penyelenggara memutuskan untuk memindahkan pameran tersebut ke Museum Nasional Indonesia.
Perubahan lokasi ini dipilih agar pameran lebih selaras dengan fokus Tatah 2026 yang menekankan sejarah, artefak, serta perjalanan panjang seni ukir Jepara dalam konteks kebudayaan Indonesia.
Menelusuri Jejak Ukir Jepara
Panitia mengatakan, persiapan pameran telah dilakukan jauh-jauh hari, dimulai dari penelusuran jejak ukir Jepara lewat riset lapangan dan kajian arsip. Sejumlah figur terlibat dalam proses tersebut, mulai dari kurator hingga tim peneliti yang memetakan narasi dan praktik ukir.
Eksibisi ini dikuratori oleh Suwarno Wisetrotomo dan Nano Warsono. Keduanya merupakan akademisi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Selain itu, nggak kalah mentereng ada seniman kriya dan batik Nurrohmad.
Sementara itu, yang terlibat sebagai tim riset Tatah 2026 antara lain M Afif, Isyarobbi, Arif Akhyat, Akhmad Nizam, Daniel Frits Maurits Tangkilisan, serta Susi Ernawati.
Nano Warsono, kurator Tatah 2026 menungkapkan, pameran ini sejak awal nggak dirancang sebagai etalase produk, melainkan ruang untuk menampilkan ukir sebagai praktik kebudayaan. Menurutnya, tatah bukan sekadar alat kerja, tetapi medium yang melahirkan beragam karya seni sekaligus membentuk tradisi budaya.
Dia menilai seni ukir Jepara perlu dipahami sebagai bagian dari kebudayaan yang terbentuk melalui proses panjang dan narasi kultural, bukan hanya dilihat dari hasil akhirnya.
"Ini adalah narasi kultural. Suluk sebagai laku pengetahuan, Sulur sebagai produk budaya visual, dan Jepara sebagai identitas kota, identitas masyarakat, sekaligus ruang sosialnya," ujar Nano Warsono dalam pernyataan tertulis yang diterima Inibaru.id belum lama ini.
Nano juga menambahkan, pemilihan Museum Nasional Indonesia membuka peluang publik melihat seni ukir Jepara dalam perspektif yang lebih luas sebagai bagian dari sejarah, lintasan budaya, serta perjumpaan berbagai pengaruh yang membentuknya dari waktu ke waktu.
Proses Penciptaan Karya
Setali tiga uang, kurator kedua Suwarno Wisetrotomo juga menekankan bahwa Tatah 2026 telah memberikan perhatian besar pada proses penciptaan karya, bukan semata hasil yang tampak atau ditampilkan dalam ealase.
"Seni ukir Jepara tidak lahir dari sikap tergesa-gesa. Ia dilakoni dengan laku, passion, dan kesungguhan jiwa," tegas Suwarno.
Dia menambahkan, kualitas karya dalam Tatah 2026 nantinya juga akan bertumpu pada kesinambungan keterampilan, filosofi motif, pemilihan material, serta pengalaman panjang para pengukir yang hingga sekarang masih menjadi bagian dari pemutar laju roda ekonomi di Jepara.
"Karya yang hadir lahir dari proses yang panjang sekaligus material yang juga membawa jejak sejarah," ujarnya.
Pada intinya, Tatah 2026 ingin mengajak publik untuk melihat seni ukir Jepara secara lebih mendalam sebagai laku pengetahuan, bahasa visual yang terus tumbuh, dan praktik budaya yang hidup dalam ruang sosialnya.
Sebagai bagian dari penyandang predikat "Kota Ukir", warga Jepara patut berbangga diri, karena sebutan itu nggak datang tiba-tiba, tapi melalui proses dan tradisi yang panjang. Saatnya seni ukir Japara mendapat panggung lebih luas di Museum Nasional! (Sundara/E10)
