BerandaAdventurial
Minggu, 28 Feb 2026 15:01

Pameran Tatah 2026, Etalase Karya Ukir Jepara di Museum Nasional

Seniman ukir Jepara melakukan proses menatah atau mengukir pada media kayu. (Official Tatah 2026)

Pameran Tatah 2026 menghadirkan seni ukir Jepara di Museum Nasional sebagai karya budaya berbasis sejarah yang dibaca sebagai laku pengetahuan dan identitas sosial.

Inibaru.id - Panggung baru bagi seni ukir Jepara akan segera hadir. Lewat Pameran Tatah 2026, karya-karya ukir berbasis riset dan sejarah itu bakal dihadirkan dan dipajang di ruang publik di Museum Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, pada April mendatang.

Sedikit informasi, eksibisi Tatah 2026 merupakan event yang diinisiasi oleh Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Jepara yang berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara dan Rumah Kartini.

Menyoal seni ukir di Tanah Air memang nggak bisa lepas dari Kabupaten Jepara yang selama berabad-abad telah dikenal sebagai salah satu penghasil produk kesenian bernilai tinggi tersebut. Kota pesisir ini bahkan menyimpan sejarah panjang pengetahuan, proses budaya, hingga ekosistem seni pahat ini.

Sejarah itu bahkan terlah diwariskan sehingga menjadi kesadaran kolektif lintas generasi di kota tersebut. Nah, kesadaran itulah yang kemudian menjadi cikal bakal gagasan pameran Tatah 2026.

Pameran ini sejak awal sengaja dirancang untuk memandang seni ukir Jepara lebih dari sekadar tampilan karya, tetapi juga rangkaian pengetahuan, proses kebudayaan, dan ekosistem keterampilan yang terus bertumbuh.

Mengangkat tema "Suluk-Sulur-Jepara", penggagas pameran Tatah 2026 mencoba menyusun pendekatan kuratorial yang menempatkan seni ukir sebagai praktik pengetahuan (Suluk) dan ekspresi visual yang terus berkembang (Sulur), serta Jepara sebagai ruang sosial yang membentuk identitas budaya yang berlapis.

Rencana awal, Tatah 2026 akan ditampilkan di Galeri Nasional Indonesia. Namun, setelah riset diperdalam dan arah kuratorial diperkuat, penyelenggara memutuskan untuk memindahkan pameran tersebut ke Museum Nasional Indonesia.

Perubahan lokasi ini dipilih agar pameran lebih selaras dengan fokus Tatah 2026 yang menekankan sejarah, artefak, serta perjalanan panjang seni ukir Jepara dalam konteks kebudayaan Indonesia.

Menelusuri Jejak Ukir Jepara

Panitia mengatakan, persiapan pameran telah dilakukan jauh-jauh hari, dimulai dari penelusuran jejak ukir Jepara lewat riset lapangan dan kajian arsip. Sejumlah figur terlibat dalam proses tersebut, mulai dari kurator hingga tim peneliti yang memetakan narasi dan praktik ukir.

Eksibisi ini dikuratori oleh Suwarno Wisetrotomo dan Nano Warsono. Keduanya merupakan akademisi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Selain itu, nggak kalah mentereng ada seniman kriya dan batik Nurrohmad.

Sementara itu, yang terlibat sebagai tim riset Tatah 2026 antara lain M Afif, Isyarobbi, Arif Akhyat, Akhmad Nizam, Daniel Frits Maurits Tangkilisan, serta Susi Ernawati.

Nano Warsono, kurator Tatah 2026 menungkapkan, pameran ini sejak awal nggak dirancang sebagai etalase produk, melainkan ruang untuk menampilkan ukir sebagai praktik kebudayaan. Menurutnya, tatah bukan sekadar alat kerja, tetapi medium yang melahirkan beragam karya seni sekaligus membentuk tradisi budaya.

Dia menilai seni ukir Jepara perlu dipahami sebagai bagian dari kebudayaan yang terbentuk melalui proses panjang dan narasi kultural, bukan hanya dilihat dari hasil akhirnya.

"Ini adalah narasi kultural. Suluk sebagai laku pengetahuan, Sulur sebagai produk budaya visual, dan Jepara sebagai identitas kota, identitas masyarakat, sekaligus ruang sosialnya," ujar Nano Warsono dalam pernyataan tertulis yang diterima Inibaru.id belum lama ini.

Nano juga menambahkan, pemilihan Museum Nasional Indonesia membuka peluang publik melihat seni ukir Jepara dalam perspektif yang lebih luas sebagai bagian dari sejarah, lintasan budaya, serta perjumpaan berbagai pengaruh yang membentuknya dari waktu ke waktu.

Proses Penciptaan Karya

Setali tiga uang, kurator kedua Suwarno Wisetrotomo juga menekankan bahwa Tatah 2026 telah memberikan perhatian besar pada proses penciptaan karya, bukan semata hasil yang tampak atau ditampilkan dalam ealase.

"Seni ukir Jepara tidak lahir dari sikap tergesa-gesa. Ia dilakoni dengan laku, passion, dan kesungguhan jiwa," tegas Suwarno.

Dia menambahkan, kualitas karya dalam Tatah 2026 nantinya juga akan bertumpu pada kesinambungan keterampilan, filosofi motif, pemilihan material, serta pengalaman panjang para pengukir yang hingga sekarang masih menjadi bagian dari pemutar laju roda ekonomi di Jepara.

"Karya yang hadir lahir dari proses yang panjang sekaligus material yang juga membawa jejak sejarah," ujarnya.

Pada intinya, Tatah 2026 ingin mengajak publik untuk melihat seni ukir Jepara secara lebih mendalam sebagai laku pengetahuan, bahasa visual yang terus tumbuh, dan praktik budaya yang hidup dalam ruang sosialnya.

Sebagai bagian dari penyandang predikat "Kota Ukir", warga Jepara patut berbangga diri, karena sebutan itu nggak datang tiba-tiba, tapi melalui proses dan tradisi yang panjang. Saatnya seni ukir Japara mendapat panggung lebih luas di Museum Nasional! (Sundara/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Rahasia Matematika di Balik Motif Batik, dari Simetri hingga Pola Fibonacci

16 Mei 2026

ARTOTEL Gajahmada Semarang Hadirkan Pameran Seni Kontemporer “Episentrum”

16 Mei 2026

Nyandhang Tradisi untuk Menjaga Ingatan Batik Kudus

18 Mei 2026

9 WNI dalam Misi Kemanusiaan ke Gaza Dicegat Israel, Ada Wartawan Media Nasional

19 Mei 2026

Margin Kian Tipis, Banyak Seller Mulai Tinggalkan Marketplace

20 Mei 2026

SMA Negeri 1 Kemalang Resmi Berdiri, Anak Lereng Merapi Tak Perlu Sekolah Jauh Lagi

20 Mei 2026

Jateng Media Summit 2026 Bahas Masa Depan Media Lokal di Era Digital

21 Mei 2026

Di Tengah Gempuran AI dan Buzzer, Media Lokal Diajak Kembali ke Jurnalisme Publik

22 Mei 2026

Jejak Panjang Pecel, Lotek, dan Gado-Gado: Saat Salad Nusantara Punya Cerita Peradaban

22 Mei 2026

BI Jateng Ingatkan Bahaya Penipuan Digital di Tengah Tren Transaksi QRIS

23 Mei 2026

Belajar dari Estonia, China, dan Singapura dalam Membangun Infrastruktur Digital

23 Mei 2026

Walkot Semarang Resmi Luncurkan LOFF 2026, Perkuat Ekosistem Perfilman Kreatif

24 Mei 2026

Peluang “Godzilla El Nino” 2026 di Indonesia Relatif Kecil, Ini Kata BRIN

25 Mei 2026

Jadi Wisudawan Terbaik UNRIYO, Pemuda Asal Semarang Ini Ingin Ciptakan Banyak Peluang Kerja

25 Mei 2026

Sebelum Nasi Mendominasi, Leluhur Kita Sudah Diversifikasi Pangan Sejak Dulu

26 Mei 2026

5 Tradisi Iduladha di Indonesia yang Unik, Sarat Makna, dan Jadi Daya Tarik Wisata Budaya

28 Mei 2026

Congklak, Permainan Tradisional Tertua yang Kini Mulai Dilupakan

29 Mei 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: