BerandaHits
Senin, 1 Mar 2026 19:33

Nestapa Padang Rumput, Hilang Senyap di Balik Bayang Hutan

Padang rumput berkurang empat kali lebih cepat dibanding hutan. (Pixabay)

Stop sebut padang rumput cuma "ruang kosong"! Riset terbaru 2026 mengungkap kalau ekosistem penting ini menghilang 4 kali lebih cepat dari hutan. Demi kebutuhan daging dan serealia dunia, penyerap karbon raksasa ini dikorbankan secara diam-diam. Saatnya kita peduli sebelum sabana terakhir berubah jadi ladang beton dan ternak!

Inibaru.id - Selama ini kalau bicara soal kelestarian alam, pikiran kita pasti langsung tertuju pada hutan rimba yang rimbun. Padahal, ada satu ekosistem yang sering dianggap "cuma rumput" tapi punya peran super vital buat bumi yaitu padang rumput.

Sayangnya, kabar terbaru dari dunia sains bikin kita harus waspada. Riset terbaru yang terbit di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (Februari 2026) mengungkap fakta mencengangkan: padang rumput dunia menghilang empat kali lebih cepat dibandingkan hutan!

Yuk, kita bedah kenapa fenomena ini gawat dan kenapa padang rumput itu sebetulnya "pahlawan tanpa tanda jasa" bagi iklim kita.

Si Penyerap Karbon yang Rendah Hati

Padang rumput menyerap 35 persen karbon dunia. (Getty Images)

Mungkin tampilannya nggak semegah hutan hujan tropis, tapi jangan remehkan kekuatannya. Padang rumput adalah "bank karbon" raksasa. Sekitar 20 hingga 35 persen karbon dunia tersimpan rapi di dalam ekosistem ini. Hebatnya lagi, jika hutan menyimpan karbon di batang pohon yang rawan terbakar, padang rumput menyimpan sebagian besar karbonnya di bawah tanah (akar dan tanah). Artinya, simpanan karbon ini lebih aman dan stabil.

Selain jadi benteng perubahan iklim, padang rumput adalah rumah bagi 33 persen hotspot keanekaragaman hayati dunia. Mulai dari serangga penyerbuk, burung migran, hingga mamalia besar, semuanya menggantungkan hidup di hamparan hijau ini. Dr. Siyi Kan, peneliti dari Jerman, menyebutkan kalau ekosistem ini juga juara dalam urusan menyimpan cadangan air dan melindungi tanah dari erosi.

Hilang dalam Senyap

Masalahnya, karena dianggap "lahan kosong", padang rumput sering jadi sasaran empuk alih fungsi. Selama periode 2005 hingga 2020, luasnya menyusut drastis demi memenuhi ambisi perut manusia.

Penyebab utamanya? Apalagi kalau bukan ekspansi lahan pertanian dan peternakan. Permintaan pasar global akan daging, serealia, dan biji penghasil minyak (seperti kedelai) memaksa padang rumput dirombak menjadi ladang produksi.

Menariknya, kalau deforestasi hutan identik dengan negara tropis, "pembantaian" padang rumput justru masif terjadi di negara-negara besar seperti Brasil (yang memimpin dengan 13 persen kehilangan), disusul Rusia, Tiongkok, India, dan Amerika Serikat.

Saatnya 'Move On' dari Fokus ke Hutan Saja

Penelitian ini jadi pengingat buat kita semua bahwa konservasi nggak boleh pilih kasih. Kita nggak bisa cuma fokus menyelamatkan pohon, tapi membiarkan hamparan rumput dihancurkan. Martin Persson dari Swedia menekankan bahwa rantai pasok global, alias apa yang kita makan sehari-hari punya andil besar dalam hilangnya ekosistem ini.

Jika tren ini terus berlanjut, kita nggak cuma kehilangan pemandangan indah ala sabana, tapi juga melepaskan cadangan karbon raksasa ke atmosfer yang bakal bikin bumi makin gerah. (Siti Zumrokhatun/E05)


Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengenal Kalender Aboge, Sistem Penanggalan Jawa-Islam yang Masih Bertahan hingga Kini

17 Jul 2026

OSC Award 2026 Umumkan 116 Penerima Beasiswa S1 Penuh, Pendaftar Tembus 7.600 Peserta

17 Jul 2026

Ragam Upacara Adat Jawa dari Kehamilan hingga Kematian, Sarat Makna dan Nilai Kehidupan

18 Jul 2026

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: