BerandaInspirasi Indonesia
Kamis, 10 Jun 2026 13:48

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

Lukisan cap tangan prasejarah di Gua Liang Metanduno, Pulau Muna, yang kini diakui Guinness World Records sebagai seni non-figuratif tertua di dunia. (Dok. BRIN)

Lukisan cap tangan purba di Gua Liang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, resmi tercatat dalam Guinness World Records sebagai karya seni non-figuratif tertua di dunia dengan usia minimal 67.800 tahun.

Inibaru.id - Indonesia kembali mencatatkan namanya dalam sejarah dunia. Kali ini, pengakuan datang dari Guinness World Records (GWR) yang menetapkan lukisan cap tangan purba di Gua Liang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, sebagai karya seni non-figuratif tertua yang pernah ditemukan manusia.

Lukisan cadas tersebut diperkirakan berusia minimal 67.800 tahun, menjadikannya lebih tua dibanding berbagai karya seni prasejarah yang selama ini ditemukan di Eropa maupun wilayah lain di dunia.

Temuan itu merupakan hasil penelitian kolaboratif antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Griffith University Australia, dan Southern Cross University yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature.

Bagi dunia arkeologi, pengakuan ini bukan sekadar soal rekor. Temuan tersebut membuka pemahaman baru mengenai kemampuan manusia modern awal dalam berpikir simbolik dan mengekspresikan gagasan melalui karya seni.

Di permukaan dinding gua, lukisan itu tampak sederhana. Bentuknya berupa cap tangan dengan jari-jari yang meruncing menyerupai cakar.

Namun di balik kesederhanaannya, tersimpan cerita tentang kehidupan manusia puluhan ribu tahun silam. Peneliti Pusat Riset Arkeometri BRIN, Adhi Agus Oktaviana, menjelaskan bahwa lukisan tersebut dibuat oleh Homo sapiens atau manusia modern awal yang telah menghuni wilayah Nusantara pada masa Paleolitikum.

Menurutnya, motif jari runcing seperti yang ditemukan di Gua Liang Metanduno bukanlah temuan tunggal. Pola serupa juga ditemukan di sejumlah situs seni cadas lain di Sulawesi, mulai dari kawasan Maros-Pangkep hingga Pulau Muna.

Berbeda dengan cap tangan biasa yang ditemukan hampir di berbagai belahan dunia, bentuk jari runcing tersebut diduga memiliki makna simbolik tertentu yang hingga kini masih menjadi bahan penelitian para arkeolog.

Selama bertahun-tahun, banyak teori menyebut perkembangan seni manusia berawal dari Eropa. Namun berbagai temuan di Indonesia perlahan mengubah pandangan tersebut.

Profesor Maxime Aubert dari Griffith University menyebut lukisan cadas Sulawesi menunjukkan bahwa manusia modern telah memiliki kemampuan berpikir abstrak jauh lebih awal dari yang selama ini diperkirakan.

“Ini adalah bukti tertua kapasitas manusia untuk berpikir secara abstrak. Lukisan ini sekitar dua kali lebih tua dibandingkan lukisan cadas tertua di Eropa yang berumur sekitar 40.000 tahun,” katanya.

Temuan ini memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat penting perkembangan budaya manusia purba. Sebelumnya, Sulawesi juga menjadi perhatian dunia setelah penemuan lukisan figuratif babi berusia sekitar 45.500 tahun serta lukisan adegan berburu berusia sekitar 51.200 tahun yang disebut sebagai seni naratif tertua di dunia.

Menelusuri Jalur Migrasi ke Australia

Selain bernilai artistik, cap tangan purba di Pulau Muna juga menyimpan petunjuk penting mengenai perjalanan manusia modern di masa lampau.

Menurut Adhi, temuan tersebut memperkuat teori bahwa manusia telah mencapai daratan Sahul, wilayah yang dahulu menghubungkan Australia, Papua, dan Tasmania, setidaknya sekitar 65.000 tahun lalu.

“Penemuan ini memberikan dukungan kuat bahwa leluhur masyarakat Aborigin Australia telah berada di Sahul pada atau sebelum 65.000 tahun yang lalu,” ujarnya.

Artinya, kawasan Nusantara bukan hanya menjadi jalur persinggahan, melainkan bagian penting dalam perjalanan migrasi manusia modern menuju Australia. Wilayah Sulawesi bahkan diduga menjadi salah satu titik strategis dalam rute migrasi utara yang menghubungkan Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.

Di balik pengakuan dunia tersebut, tersimpan cerita menarik. Tim peneliti mengungkap bahwa pihak Guinness World Records awalnya menghubungi mereka melalui pesan langsung atau direct message (DM) di Instagram. Kontak itu kemudian berkembang menjadi proses verifikasi ilmiah yang cukup panjang hingga akhirnya rekor dunia resmi diberikan.

Pengakuan ini menjadi pencapaian penting bagi penelitian arkeologi Indonesia yang dalam beberapa tahun terakhir terus menghasilkan temuan-temuan besar berskala internasional. Meski telah mendapat pengakuan internasional, tantangan terbesar justru terletak pada upaya pelestariannya.

Seni cadas merupakan warisan budaya yang sangat rentan terhadap perubahan lingkungan. Kenaikan suhu, kelembapan, pelapukan batuan, perubahan iklim, hingga aktivitas manusia dapat menyebabkan kerusakan permanen pada lukisan yang telah bertahan puluhan ribu tahun tersebut.

Karena itu, para peneliti mendorong pengelolaan yang lebih terstruktur terhadap situs-situs prasejarah di Indonesia, termasuk pengembangan dokumentasi digital untuk memastikan informasi penting tetap tersimpan apabila terjadi kerusakan pada situs asli.

Temuan di Gua Liang Metanduno menunjukkan bahwa masih banyak kisah masa lalu yang tersimpan di gua-gua Nusantara. Dan dari sebuah cap tangan sederhana di dinding batu, dunia kini mendapatkan bukti bahwa kemampuan berpikir simbolik manusia telah berkembang jauh lebih awal daripada yang pernah dibayangkan. (Ike/E01)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

5 Tradisi Iduladha di Indonesia yang Unik, Sarat Makna, dan Jadi Daya Tarik Wisata Budaya

28 Mei 2026

Congklak, Permainan Tradisional Tertua yang Kini Mulai Dilupakan

29 Mei 2026

Mengenal Thudong, Perjalanan Spiritual Para Biksu yang Selalu Mencuri Perhatian Saat Waisak

31 Mei 2026

Mengulik Filosofis Naga Jawa dalam Kosmologi Masyarakat Jawa Kuno

2 Jun 2026

Prabowo Copot Dadan Hindayana dari Kepala BGN, Nanik S Deyang Ditunjuk sebagai Pengganti

3 Jun 2026

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: