BerandaTradisinesia
Minggu, 18 Jul 2026 18:50

Ragam Upacara Adat Jawa dari Kehamilan hingga Kematian, Sarat Makna dan Nilai Kehidupan

Prosesi upacara adat Jawa menjadi simbol doa, harapan, dan penghormatan terhadap setiap tahapan kehidupan manusia. (Chatgpt AI)

Upacara adat Jawa mengiringi setiap fase kehidupan manusia, mulai dari kehamilan hingga kematian, sebagai wujud syukur sekaligus warisan budaya yang sarat makna dan nilai luhur.

Inibaru.id – Masyarakat Jawa memiliki beragam upacara adat yang mengiringi perjalanan hidup manusia sejak masih dalam kandungan hingga meninggal dunia. Tradisi-tradisi tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan sarat dengan doa, harapan, serta nilai-nilai luhur yang diwariskan secara turun-temurun.

Dalam budaya Jawa, setiap fase kehidupan dianggap sebagai momen penting yang perlu disyukuri dan dipersiapkan melalui berbagai ritual. Nilai yang terkandung di dalamnya juga mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam sekitarnya.

Dilansir dari laman Kraton Yogyakarta, berikut ragam upacara adat Jawa yang masih dikenal dan sebagian masih dilestarikan hingga sekarang.

1. Upacara Adat pada Masa Kehamilan

Tradisi dimulai sejak awal kehamilan. Pada bulan pertama, masyarakat Jawa mengenal Ngabor-abori, yaitu selamatan yang biasanya disertai pembuatan jenang sungsum sebagai ungkapan syukur atas kehamilan.

Memasuki bulan-bulan berikutnya terdapat beberapa tradisi yang disesuaikan dengan usia kandungan, yaitu:

  1. Ngloroni (dua bulan)
  2. Neloni (tiga bulan)
  3. Ngapati (empat bulan)
  4. Nglimani (lima bulan)
  5. Mitoni (tujuh bulan)
  6. Ngwoloni (delapan bulan)
  7. Nyangani (sembilan bulan)

Di antara tradisi tersebut, Mitoni menjadi salah satu yang paling populer dan masih banyak dilakukan hingga kini. Upacara ini merupakan doa bersama agar ibu dan bayi diberikan keselamatan hingga proses persalinan.

2. Upacara Adat Setelah Kelahiran

Setelah bayi lahir, masyarakat Jawa juga memiliki sejumlah tradisi sebagai bentuk rasa syukur sekaligus doa untuk kehidupan sang anak.

Prosesi diawali dengan Mendhem Ari-ari, yaitu penguburan ari-ari bayi yang dipercaya sebagai bagian penting dari kelahiran.

Selanjutnya terdapat Brokohan, yaitu selamatan yang menandai kelahiran bayi sekaligus pemberitahuan kepada keluarga dan tetangga.

Beberapa tradisi lain yang mengikuti fase awal kehidupan bayi antara lain:

  1. Sepasaran, saat bayi berusia lima hari.
  2. Puputan, ketika tali pusar bayi telah lepas.
  3. Selapanan, saat bayi memasuki usia 35 hari.

Tradisi-tradisi tersebut umumnya diiringi doa agar bayi tumbuh sehat, panjang umur, dan memperoleh kehidupan yang baik.

3. Upacara Adat Masa Tumbuh Kembang Anak

Perjalanan seorang anak juga diiringi berbagai ritual yang menandai tahapan perkembangannya.

Salah satu yang paling dikenal ialah Tedhak Siten, yaitu upacara ketika bayi pertama kali menginjakkan kaki ke tanah, biasanya pada usia sekitar tujuh hingga sembilan bulan. Tradisi ini melambangkan harapan agar anak mampu menjalani kehidupan dengan mantap dan mandiri.

Selain itu terdapat pula:

  1. Nyapih, saat anak berhenti menyusu.
  2. Neton, selamatan berdasarkan hari kelahiran dan pasaran anak.
  3. Nyetahuni, ketika anak genap berusia satu tahun.
  4. Gaulan, saat gigi pertama mulai tumbuh.

Memasuki masa remaja, masyarakat Jawa mengenal Supitan atau khitan bagi anak laki-laki sebagai simbol kedewasaan. Sementara bagi anak perempuan terdapat tradisi Tetesan sebagai penanda memasuki masa remaja, serta Tarapan yang dilakukan ketika mengalami menstruasi pertama.

4. Upacara Adat Pernikahan

Prosesi pernikahan adat Jawa dikenal sangat lengkap karena setiap tahap memiliki makna filosofis tersendiri.

Rangkaian dimulai dari Lamaran, sebagai bentuk kesungguhan pihak laki-laki untuk meminang calon mempelai perempuan.

Selanjutnya dilakukan Majang dan Pasang Tarub, yaitu menghias lokasi acara menggunakan berbagai ornamen tradisional, termasuk bleketepe dan janur sebagai simbol harapan akan kehidupan rumah tangga yang baik.

Prosesi berikutnya adalah Siraman, yang melambangkan penyucian lahir dan batin kedua calon mempelai sebelum menikah.

Setelah itu terdapat Tantingan, yakni momen ketika calon pengantin perempuan kembali ditanya mengenai kemantapan hatinya untuk menikah.

Pada malam sebelum akad nikah dilaksanakan tradisi Midodareni, yaitu malam doa dan persiapan menuju hari pernikahan.

Sesudah akad nikah, kedua mempelai menjalani Upacara Panggih, yakni prosesi pertemuan resmi sebagai pasangan suami istri. Rangkaian ini dilanjutkan dengan Tampa Kaya, simbol tanggung jawab suami dalam memberikan nafkah serta kesejahteraan bagi keluarga.

5. Upacara Adat Saat Kematian

Dalam budaya Jawa, penghormatan kepada seseorang tetap dilakukan hingga setelah meninggal dunia.

Tradisi diawali dengan Lelayu, yaitu penyampaian kabar duka kepada keluarga dan masyarakat.

Selanjutnya dilakukan Ngrukti Laya, yang mencakup seluruh proses pengurusan jenazah mulai dari memandikan, mengafani, mengantarkan ke pemakaman, hingga proses pemakaman itu sendiri.

Sementara itu, keluarga maupun tetangga biasanya melaksanakan Selametan Surtanah atau Bedhah Bumi, yaitu persiapan liang kubur.

Setelah pemakaman, rangkaian doa untuk almarhum masih berlanjut melalui beberapa selamatan, yaitu:

  1. Telung Dina (hari ketiga)
  2. Pitung Dina (hari ketujuh)
  3. Patang Puluh Dina (hari ke-40)
  4. Satus Dina (hari ke-100)
  5. Pendhak Pisan (satu tahun)
  6. Pendhak Pindho (dua tahun)
  7. Sewu Dina (seribu hari)

Tradisi tersebut menjadi bentuk penghormatan terakhir sekaligus doa agar almarhum memperoleh tempat terbaik di sisi Tuhan.

Meski zaman terus berkembang, banyak upacara adat Jawa yang masih dipertahankan oleh masyarakat. Sebagian memang mengalami penyesuaian agar lebih sederhana, namun nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap relevan.

Setiap ritual mengajarkan pentingnya rasa syukur, penghormatan kepada orang tua, kebersamaan, serta keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, alam, dan sesama. Karena itulah, upacara adat Jawa bukan hanya menjadi bagian dari tradisi, tetapi juga warisan budaya yang menyimpan filosofi kehidupan bagi setiap generasi. (Ike/E01)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Bukan Rekaman Asli 17 Agustus 1945, Ini Sejarah Suara Proklamasi Bung Karno

19 Agu 2026

Negara Pertama yang Mengakui Indonesia Merdeka

20 Agu 2026

Sinewara, Bioskop BUMN Besutan PFN Siap Meluncur 2027

21 Agu 2026

Garuda Indonesia Uji Internet Cepat di Udara, Video Call dari Ketinggian 30 Ribu Kaki

22 Agu 2026

Mulai 1 Oktober, Semua Merchant Bisa Nikmati Transaksi QRIS Bebas Biaya

24 Agu 2026

Mengenal Sekaten, Tradisi Maulid Nabi Warisan Dakwah Wali Songo

25 Agu 2026

Indonesia Mulai Program PLTS, 14 Proyek Jadi Tahap Awal

26 Agu 2026

Wayang Klithik, Wayang Kayu Pipih yang Lahir dari Tradisi Jawa dan Bunyi "Klithik"

27 Agu 2026

DPR Targetkan RUU Perampasan Aset Disahkan 15 Desember 2026

28 Agu 2026

ARTOTEL Gajahmada Semarang Hadirkan “Layers of Living”, Pameran Dua Seniman dengan Perspektif Berbeda

28 Agu 2026

Berburu Barang Antik di Solo? Ini 3 Tempat Favorit yang Wajib Dikunjungi Kolektor

29 Agu 2026

Komdigi Larang Operator Hanguskan Sisa Kuota Internet Pelanggan

31 Agu 2026

Manuskrip Al-Qur’an Berusia 180 Tahun dari Aceh Mulai Didigitalisasi

1 Sep 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: