BerandaTradisinesia
Kamis, 28 Mei 2026 12:02

5 Tradisi Iduladha di Indonesia yang Unik, Sarat Makna, dan Jadi Daya Tarik Wisata Budaya

Penulis:

5 Tradisi Iduladha di Indonesia yang Unik, Sarat Makna, dan Jadi Daya Tarik Wisata BudayaAdministrator
5 Tradisi Iduladha di Indonesia yang Unik, Sarat Makna, dan Jadi Daya Tarik Wisata Budaya

Tradisi Grebeg Gunungan di Yogyakarta menjadi salah satu warisan budaya khas Iduladha yang selalu menarik perhatian masyarakat dan wisatawan. (Dok. Jogjaprov.go.id)

Iduladha di berbagai daerah Indonesia tak hanya dirayakan lewat ibadah kurban, tetapi juga melalui tradisi budaya unik yang sarat makna, kebersamaan, dan kearifan lokal.

Inibaru.id – Iduladha tak hanya identik dengan ibadah kurban dan gema takbir yang berkumandang di masjid-masjid. Di berbagai daerah di Indonesia, momen hari raya ini juga dirayakan lewat tradisi-tradisi khas yang telah diwariskan turun-temurun selama ratusan tahun.

Menariknya, setiap daerah punya cara berbeda dalam menyambut Iduladha. Ada yang mengarak hasil bumi, menghias sapi kurban layaknya pengantin, hingga menjemur kasur sebagai simbol penolak bala. Tradisi-tradisi tersebut bukan sekadar ritual budaya, tetapi juga mencerminkan nilai syukur, kebersamaan, hingga penghormatan terhadap alam dan sesama.

Keunikan itulah yang membuat tradisi Iduladha di Indonesia terasa begitu kaya dan berwarna. Bahkan, sejumlah tradisi kini menjadi daya tarik wisata budaya yang selalu dinantikan masyarakat maupun wisatawan.

Berikut lima tradisi khas Iduladha di Indonesia yang unik dan penuh makna.

1. Apitan, Tradisi Syukuran Hasil Bumi dari Semarang

Tradisi Apitan berasal dari masyarakat Jawa, khususnya di wilayah Semarang dan sekitarnya. Nama “Apitan” diambil dari posisi bulan Dzulqaidah yang berada di antara bulan Syawal dan Dzulhijjah atau “mengapit” Hari Raya Iduladha.

Tradisi ini menjadi bentuk rasa syukur masyarakat atas hasil panen dan rezeki yang diperoleh sepanjang tahun. Warga biasanya menggelar arak-arakan hasil bumi seperti sayur, buah, dan hasil pertanian lainnya yang dihias menarik.

Suasana semakin meriah dengan pertunjukan kesenian rakyat seperti kuda lumping dan kirab budaya. Setelah diarak keliling kampung, hasil bumi tersebut diperebutkan warga karena dipercaya membawa berkah dan keberuntungan.

Selain menjadi tradisi spiritual, Apitan juga menjadi ruang kebersamaan masyarakat sekaligus upaya menjaga budaya lokal agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

2. Gamelan Sekaten, Warisan Budaya Islam-Jawa dari Surakarta

Di Surakarta, suasana Iduladha terasa semakin khas dengan tradisi Gamelan Sekaten. Tradisi ini merupakan peninggalan era Kerajaan Mataram Islam yang berkembang sejak masa Sultan Agung.

Dalam perayaan ini, dua perangkat gamelan pusaka bernama Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari ditabuh setelah salat Iduladha berlangsung. Alunan gamelan dipercaya menjadi simbol syiar Islam yang berpadu dengan budaya Jawa.

Tak hanya menikmati pertunjukan musik tradisional, masyarakat yang datang juga biasanya mengikuti tradisi mengunyah kinang atau sirih. Sebagian masyarakat percaya tradisi tersebut membawa kesehatan dan umur panjang.

Hingga kini, Gamelan Sekaten tetap menjadi salah satu tradisi budaya yang paling dinanti karena mampu menghadirkan suasana religius sekaligus kental dengan nuansa sejarah dan budaya Jawa.

3. Grebeg Gunungan, Kirab Penuh Berkah dari Yogyakarta

Keraton Yogyakarta memiliki tradisi khas Iduladha yang dikenal sebagai Grebeg Gunungan atau Grebeg Besar. Tradisi ini berupa kirab gunungan hasil bumi yang diarak dari keraton menuju beberapa titik penting, termasuk Masjid Gedhe Kauman.

Gunungan tersebut disusun dari aneka hasil pertanian, makanan, dan jajanan tradisional yang ditata menyerupai gunung. Setelah doa bersama dilakukan, masyarakat akan berebut isi gunungan karena dipercaya membawa keberkahan dan rezeki.

Bagi warga Yogyakarta, Grebeg Gunungan bukan sekadar tontonan budaya. Tradisi ini juga menjadi simbol hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Tak heran jika setiap tahun ribuan wisatawan datang untuk menyaksikan langsung kemeriahan tradisi yang menjadi salah satu ikon budaya Yogyakarta tersebut.

4. Manten Sapi, Tradisi Menghias Hewan Kurban di Pasuruan

Berbeda dengan daerah lain, masyarakat Pasuruan, Jawa Timur, memiliki cara unik untuk menghormati hewan kurban melalui tradisi Manten Sapi.

Menjelang Iduladha, sapi-sapi kurban dimandikan lalu dihias menyerupai pengantin. Hewan tersebut diberi kalung bunga tujuh rupa, kain putih, hingga aksesori seperti sorban dan sajadah.

Setelah dirias, sapi kemudian diarak menuju masjid dengan diiringi warga setempat. Tradisi ini menjadi simbol penghormatan terhadap hewan kurban yang dianggap sebagai bagian penting dalam ibadah Iduladha.

Selain sarat makna religius, prosesi Manten Sapi juga menjadi atraksi budaya yang menarik perhatian masyarakat maupun wisatawan karena keunikannya yang jarang ditemui di daerah lain.

5. Mepe Kasur, Tradisi Jemur Kasur Khas Banyuwangi

Masyarakat Suku Osing di Desa Kemiren, Banyuwangi, punya tradisi unik menjelang Iduladha bernama Mepe Kasur. Dalam bahasa Osing, “mepe” berarti menjemur.

Sesuai namanya, warga akan menjemur kasur secara serempak di depan rumah sejak pagi hingga siang hari. Kasur-kasur tersebut umumnya berwarna merah dan hitam yang memiliki makna filosofis tersendiri.

Warna merah melambangkan keberanian, sedangkan hitam melambangkan kelanggengan dan keabadian rumah tangga. Tradisi ini dipercaya dapat menolak bala sekaligus menjaga keharmonisan keluarga.

Pemandangan deretan kasur yang dijemur bersama-sama menciptakan suasana unik dan fotogenik, sehingga tradisi Mepe Kasur kerap menarik perhatian wisatawan dan fotografer.

Perpaduan Religi dan Budaya yang Memperkuat Kebersamaan

Beragam tradisi Iduladha di Indonesia menunjukkan bahwa perayaan hari besar keagamaan tidak hanya menjadi momen ibadah, tetapi juga ruang untuk menjaga warisan budaya dan mempererat hubungan sosial masyarakat.

Nilai gotong royong, rasa syukur, penghormatan terhadap alam, hingga toleransi hidup berdampingan tercermin dalam setiap tradisi yang masih dijaga hingga sekarang.

Di tengah arus modernisasi, keberadaan tradisi-tradisi ini menjadi pengingat bahwa budaya lokal adalah identitas yang patut dirawat bersama. Tak hanya sarat makna spiritual, berbagai tradisi tersebut juga berpotensi besar menjadi daya tarik wisata budaya yang memperkenalkan kekayaan Indonesia kepada dunia. (Ike/E01)

Tags:

Inibaru Indonesia Logo

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

Sosial Media

Copyright © 2026 Inibaru Media - Media Group. All Right Reserved