BerandaInspirasi Indonesia
Rabu, 9 Jun 2026 11:04

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

Bunga Rafflesia mekar di kawasan hutan Desa Tarempa Selatan, Anambas, yang kini tercatat memiliki sedikitnya 25 titik habitat bunga langka tersebut. (Freepik)

Peneliti menemukan 25 titik bunga Rafflesia di hutan Desa Tarempa Selatan, Anambas, yang menjadi catatan baru keberadaan habitat Rafflesia di Kepulauan Riau.

Inibaru.id - Hutan di Desa Tarempa Selatan, Kabupaten Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau, menyimpan kejutan yang selama puluhan tahun nyaris luput dari perhatian. Di kawasan seluas sekitar 47,5 hektare itu, sedikitnya ditemukan 25 titik bunga Rafflesia yang terus bermekaran secara bergantian hampir setiap pekan.

Temuan ini menjadi perhatian para peneliti karena sebelumnya tidak pernah ada catatan keberadaan habitat Rafflesia di wilayah Kepulauan Riau. Bahkan, keberadaan bunga tersebut baru benar-benar menarik perhatian masyarakat setelah sejumlah bunga mekar sempurna pada 2025.

Padahal, menurut keterangan warga, tanaman itu sudah lama ditemukan di kawasan perbukitan Bukit Batu Tabir. Karena belum pernah terlihat mekar secara utuh, masyarakat menganggapnya sebagai bunga biasa.

Lokasi habitat Rafflesia tersebut relatif mudah dijangkau. Dari Kota Tarempa, perjalanan hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit menggunakan sepeda motor, kemudian dilanjutkan berjalan kaki sekitar 25 menit menyusuri kawasan hutan.

Petugas Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kepulauan Riau menemukan sedikitnya 25 spot Rafflesia yang tersebar di area hutan alami yang masih terjaga. Kemunculan bunga-bunga itu yang berlangsung hampir setiap minggu kemudian menarik perhatian berbagai pihak, mulai dari peneliti, akademisi, hingga pemerhati lingkungan.

Peneliti Kehutanan Universitas Riau, Arya Arismaya Metananda, menyebut keberadaan Rafflesia di Anambas sebagai temuan yang sangat penting. Selama ini, habitat Rafflesia diketahui tersebar di sejumlah wilayah Sumatra, tetapi belum pernah tercatat di Kepulauan Riau.

“Rafflesia di Anambas ini adalah unicorn population. Artinya, populasi baru yang sebelumnya tidak pernah tercatat bahwa di Anambas maupun di wilayah Kepulauan Riau ada habitat rafflesia. Ini merupakan pendataan baru,” kata Arya, seperti dikutip dari Mongabay.

Selama melakukan pengamatan di lokasi, tim peneliti menemukan lebih dari satu jenis Rafflesia. Di antaranya adalah Rafflesia hasseltii yang memiliki totol-totol putih pada mahkotanya serta Rafflesia cantleyi.

Meski kemunculan puluhan bunga dalam satu kawasan menjadi fenomena menarik, hingga kini belum ada penelitian yang mampu menjelaskan penyebab banyaknya Rafflesia yang tumbuh di lokasi tersebut. Para peneliti masih menduga kondisi habitat yang sangat mendukung menjadi salah satu faktor utama.

Hidup Bergantung pada Tanaman Inang

Berbeda dengan tumbuhan pada umumnya, Rafflesia tidak memiliki batang, daun, maupun akar yang sempurna. Seluruh siklus hidupnya bergantung pada tanaman inang dari genus Tetrastigma.

Karena itu, keberadaan tanaman inang menjadi faktor kunci bagi kelangsungan hidup bunga langka tersebut. Selain itu, kawasan hutan di Anambas juga memiliki karakteristik yang sesuai dengan kebutuhan ekologis Rafflesia, mulai dari kelembapan yang tinggi, tutupan tajuk yang rapat, hingga tanah yang kaya bahan organik.

Peneliti juga menemukan karakteristik geologi yang menarik. Sebagian kawasan habitat ditopang oleh lapisan batuan granit yang diduga turut berperan dalam membentuk kondisi lingkungan yang ideal bagi pertumbuhan Rafflesia.

Sementara itu, proses pertumbuhan bunga ini terbilang panjang. Sejak mulai berkembang pada tanaman inang hingga akhirnya mekar, Rafflesia membutuhkan waktu sekitar sembilan bulan.

Saat mekar, bunga akan mengeluarkan aroma menyengat menyerupai amonia atau daging membusuk untuk menarik serangga penyerbuk. Namun keindahan itu hanya berlangsung singkat. Dalam waktu empat hingga lima hari, bunga akan layu dan membusuk secara alami.

Keunikan Rafflesia membuat kawasan tersebut mulai berkembang sebagai tujuan wisata edukasi alam. Sejak dibuka untuk kunjungan pada akhir 2025, jumlah pengunjung terus meningkat, mulai dari pelajar hingga masyarakat umum.

Di satu sisi, kondisi ini membuka peluang baru bagi pengembangan wisata berbasis konservasi di Anambas. Namun di sisi lain, meningkatnya aktivitas manusia juga berpotensi mengganggu habitat bunga langka tersebut.

Arya mengingatkan bahwa pengelolaan kawasan harus dilakukan secara hati-hati. Pengalaman di beberapa habitat Rafflesia di Bengkulu menunjukkan bahwa lonjakan kunjungan wisata dapat berdampak pada menurunnya kemunculan bunga di alam.

“Contohnya, knop atau bakal bunga rafflesia itu bisa berada di tanah, di batang, dan tempat lain yang tidak menentu. Jadi pengunjung harus diberi pemahaman terlebih dahulu. Tidak bisa wisata massal dengan banyak orang yang akan mengancam inangnya tadi,” katanya.

Karena itu, para peneliti mendorong agar kawasan ini dikelola sebagai wisata minat khusus dengan jumlah pengunjung yang terkontrol. Edukasi mengenai pentingnya menjaga habitat juga perlu menjadi bagian utama dalam setiap kunjungan.

Lebih dari sekadar bunga langka, keberadaan Rafflesia menjadi penanda bahwa ekosistem hutan di Anambas masih berada dalam kondisi yang relatif baik.

Bagi para peneliti, temuan ini menunjukkan bahwa pulau-pulau kecil di Indonesia masih menyimpan kekayaan hayati yang belum sepenuhnya terungkap. Namun keberadaan spesies langka tersebut juga menjadi pengingat bahwa ancaman pembukaan lahan, fragmentasi hutan, dan aktivitas manusia yang tidak terkendali dapat menghilangkan habitat penting dalam waktu singkat.

Karena itu, menjaga hutan Anambas bukan hanya soal melindungi satu jenis bunga. Lebih dari itu, upaya konservasi menjadi langkah penting untuk memastikan kekayaan biodiversitas yang tersimpan di dalamnya tetap lestari bagi generasi mendatang. (Ike/E01)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Sebelum Nasi Mendominasi, Leluhur Kita Sudah Diversifikasi Pangan Sejak Dulu

26 Mei 2026

5 Tradisi Iduladha di Indonesia yang Unik, Sarat Makna, dan Jadi Daya Tarik Wisata Budaya

28 Mei 2026

Congklak, Permainan Tradisional Tertua yang Kini Mulai Dilupakan

29 Mei 2026

Mengenal Thudong, Perjalanan Spiritual Para Biksu yang Selalu Mencuri Perhatian Saat Waisak

31 Mei 2026

Mengulik Filosofis Naga Jawa dalam Kosmologi Masyarakat Jawa Kuno

2 Jun 2026

Prabowo Copot Dadan Hindayana dari Kepala BGN, Nanik S Deyang Ditunjuk sebagai Pengganti

3 Jun 2026

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: