BerandaHits
Selasa, 8 Jun 2026 16:30

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

Ilustrasi fitur Meta AI yang menjadi sorotan setelah ditemukan celah keamanan yang diduga dimanfaatkan peretas untuk mengambil alih akun Instagram. (Chatgpt AI)

Celah pada chatbot layanan pelanggan Meta AI diduga dimanfaatkan peretas untuk mengambil alih sejumlah akun Instagram, memicu kekhawatiran tentang keamanan penggunaan AI dalam proses pemulihan akun.

Inibaru.id - Kecerdasan buatan (AI) digadang-gadang mampu membuat banyak pekerjaan menjadi lebih cepat dan praktis. Namun, kasus terbaru yang menimpa Instagram menunjukkan bahwa teknologi ini juga bisa menjadi titik lemah jika tidak dibarengi sistem keamanan yang kuat.

Baru-baru ini, sejumlah akun Instagram dilaporkan berhasil diambil alih peretas dengan memanfaatkan chatbot layanan pelanggan berbasis AI milik Meta. Ironisnya, para pelaku tidak perlu menggunakan teknik peretasan yang rumit. Mereka hanya memanipulasi chatbot agar melakukan tindakan yang seharusnya tidak diizinkan.

Kasus ini menjadi sorotan karena akun yang terdampak bukan akun sembarangan. Beberapa di antaranya merupakan akun bernilai tinggi, termasuk akun White House era Presiden Barack Obama, akun merek kosmetik Sephora, hingga akun pejabat tinggi Angkatan Luar Angkasa Amerika Serikat.

Menurut laporan sejumlah media teknologi, celah tersebut ditemukan pada fitur Meta AI Support Assistant, chatbot yang dirancang untuk membantu pengguna menyelesaikan berbagai masalah akun, mulai dari reset kata sandi hingga pemulihan akun.

Dalam kasus ini, peretas diduga memanfaatkan teknik yang dikenal sebagai prompt injection, yakni memberikan instruksi tertentu kepada AI agar menjalankan perintah yang sebenarnya tidak semestinya dilakukan. Akibatnya, chatbot dapat diarahkan untuk mengganti alamat email yang terhubung ke akun target. Setelah email berhasil diubah, pelaku kemudian melakukan reset kata sandi dan mengambil alih akun tersebut.

Beberapa laporan juga menyebut pelaku menggunakan VPN untuk menyamarkan lokasi agar terlihat serupa dengan lokasi pemilik akun asli. Langkah ini diduga membantu mereka melewati sejumlah pemeriksaan keamanan otomatis.

Alarm bagi Industri AI

Bagi para peneliti keamanan siber, kasus ini bukan sekadar kesalahan teknis biasa. Peristiwa tersebut memperlihatkan risiko ketika AI diberi kewenangan untuk menangani proses-proses sensitif seperti verifikasi identitas dan pemulihan akun.

Dalam laporan Reuters, profesor teknik elektro dan komputer di Northeastern University, Ingin Kim, menilai insiden ini menunjukkan adanya masalah mendasar dalam penggunaan AI untuk tugas-tugas yang membutuhkan tingkat kepercayaan tinggi. Menurutnya, banyak pihak terlalu bergantung pada AI tanpa menyadari potensi kesalahan yang dapat muncul dari sistem tersebut.

Kekhawatiran serupa juga muncul dalam diskusi komunitas keamanan siber. Banyak pihak menilai proses pemulihan akun merupakan area berisiko tinggi yang seharusnya tetap melibatkan verifikasi berlapis atau campur tangan manusia, bukan sepenuhnya diserahkan kepada chatbot otomatis.

Menanggapi temuan tersebut, Meta menyatakan bahwa kerentanan tersebut telah diperbaiki dan perusahaan sedang mengamankan akun-akun yang terdampak. Juru bicara Meta, Andy Stone, juga menyebut masalah tersebut telah berhasil diatasi.

Meski demikian, Meta belum mengungkap secara rinci berapa jumlah akun yang terdampak sebelum celah keamanan tersebut ditutup.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa keamanan akun tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada platform. Pengguna tetap perlu menerapkan langkah perlindungan tambahan seperti mengaktifkan autentikasi dua faktor (2FA), menggunakan kata sandi yang kuat dan unik, serta rutin memeriksa email maupun nomor telepon yang terhubung ke akun media sosial.

Di tengah semakin masifnya penggunaan AI dalam layanan digital, insiden ini menunjukkan satu hal penting: teknologi memang dapat membantu pekerjaan manusia, tetapi keputusan yang menyangkut identitas dan keamanan pengguna tetap membutuhkan pengawasan yang ketat.

Ketika AI diberi akses untuk mengambil keputusan penting tanpa pengamanan yang memadai, risiko yang muncul bisa jauh lebih besar daripada kemudahan yang ditawarkan. (Ike/E01)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mulai 1 Oktober, Semua Merchant Bisa Nikmati Transaksi QRIS Bebas Biaya

24 Agu 2026

Mengenal Sekaten, Tradisi Maulid Nabi Warisan Dakwah Wali Songo

25 Agu 2026

Indonesia Mulai Program PLTS, 14 Proyek Jadi Tahap Awal

26 Agu 2026

Wayang Klithik, Wayang Kayu Pipih yang Lahir dari Tradisi Jawa dan Bunyi "Klithik"

27 Agu 2026

DPR Targetkan RUU Perampasan Aset Disahkan 15 Desember 2026

28 Agu 2026

ARTOTEL Gajahmada Semarang Hadirkan “Layers of Living”, Pameran Dua Seniman dengan Perspektif Berbeda

28 Agu 2026

Berburu Barang Antik di Solo? Ini 3 Tempat Favorit yang Wajib Dikunjungi Kolektor

29 Agu 2026

Komdigi Larang Operator Hanguskan Sisa Kuota Internet Pelanggan

31 Agu 2026

Manuskrip Al-Qur’an Berusia 180 Tahun dari Aceh Mulai Didigitalisasi

1 Sep 2026

Transaksi Indonesia-Singapura Bisa Pakai Rupiah dan Dolar Singapura Tanpa US$

2 Sep 2026

Prabowo Targetkan Tutup 700 BUMN hingga Akhir 2026

3 Sep 2026

Saat Serayu Jadi Pengantin dalam Prosesi Manten Gethek

4 Sep 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: