Inibaru.id - Hari Raya Iduladha di Solo tak hanya identik dengan salat Id dan penyembelihan hewan kurban. Di balik perayaan keagamaan tersebut, masyarakat juga menantikan sebuah tradisi turun-temurun yang telah berlangsung selama ratusan tahun, yakni Grebeg Besar Keraton Surakarta Hadiningrat.
Tradisi ini menjadi salah satu simbol kuat perpaduan budaya Islam dan adat Jawa yang masih lestari hingga sekarang. Ribuan warga biasanya memadati kawasan Keraton Surakarta dan Masjid Agung Solo untuk menyaksikan kirab gunungan yang dipercaya membawa berkah bagi kehidupan.
Grebeg Besar merupakan upacara adat yang digelar Keraton Surakarta setiap peringatan Hari Raya Iduladha. Tradisi ini menjadi bagian dari rangkaian Grebeg yang diselenggarakan keraton untuk memperingati hari-hari besar Islam, selain Grebeg Syawal saat Idulfitri dan Grebeg Maulud saat peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Dalam pelaksanaannya, Grebeg Besar menghadirkan kirab dua gunungan utama yang diarak dari keraton menuju Masjid Agung Surakarta. Gunungan tersebut menjadi simbol rasa syukur atas rezeki dan kemakmuran yang diberikan Tuhan kepada manusia.
Selain memiliki nilai religius, tradisi ini juga menjadi sarana menjaga hubungan antara keraton dan masyarakat. Melalui Grebeg Besar, keraton membagikan simbol kemakmuran kepada rakyat sekaligus melestarikan nilai kebersamaan yang telah diwariskan sejak masa kerajaan Islam di Jawa.
Dua Gunungan, Dua Filosofi Kehidupan
Salah satu daya tarik utama Grebeg Besar adalah hadirnya dua gunungan yang memiliki makna berbeda, yakni Gunungan Jaler dan Gunungan Estri.
Gunungan Jaler atau gunungan laki-laki berisi hasil bumi mentah seperti sayuran, cabai, tebu, telur asin, umbi-umbian, dan berbagai hasil pertanian lainnya. Gunungan ini melambangkan peran laki-laki sebagai pencari nafkah yang menyediakan kebutuhan keluarga.
Sementara itu, Gunungan Estri atau gunungan perempuan berisi makanan siap santap, jajanan pasar, rengginang, kerupuk, dan aneka pangan olahan. Gunungan ini menjadi simbol perempuan sebagai pengelola rezeki dan penjaga kesejahteraan rumah tangga.
Filosofi tersebut menggambarkan pandangan masyarakat Jawa tentang pentingnya keseimbangan peran laki-laki dan perempuan dalam membangun kehidupan yang harmonis.
Prosesi Grebeg Besar diawali dengan penyusunan gunungan di lingkungan keraton. Setelah itu, ratusan abdi dalem dan prajurit keraton mengiringi arak-arakan gunungan menuju Masjid Agung Surakarta dengan diiringi bunyi gamelan dan tata upacara khas keraton.
Sesampainya di Masjid Agung, kedua gunungan didoakan terlebih dahulu. Setelah prosesi doa selesai, masyarakat akan berebut isi gunungan dalam tradisi yang dikenal sebagai ngalap berkah.
Banyak warga meyakini hasil bumi yang diperoleh dari gunungan dapat membawa keberuntungan, keselamatan, kelancaran rezeki, hingga kesuksesan usaha. Karena itulah, momen perebutan gunungan selalu berlangsung meriah dan menjadi bagian yang paling ditunggu dalam rangkaian acara.
Di tengah modernisasi dan perubahan gaya hidup masyarakat, Grebeg Besar tetap bertahan sebagai salah satu tradisi budaya paling penting di Solo. Tradisi ini bukan sekadar perebutan hasil bumi, melainkan pengingat tentang nilai syukur, gotong royong, dan hubungan harmonis antara manusia, alam, serta Sang Pencipta.
Bagi masyarakat Jawa, gunungan bukan hanya tumpukan makanan atau hasil panen. Di dalamnya tersimpan doa, harapan, dan keyakinan bahwa rezeki akan terus mengalir jika manusia senantiasa bersyukur dan berbagi dengan sesama.
Tak heran jika setiap tahun, ribuan orang tetap datang untuk menyaksikan Grebeg Besar. Sebab lebih dari sekadar tradisi, perayaan ini menjadi cerminan bagaimana warisan budaya mampu tetap hidup dan bermakna di tengah perkembangan zaman. (Ike/E01)
