Inibaru.id – Di Jepang, pergantian musim lebih dari sekadar perubahan cuaca. Setiap musim punya keunikannya sendiri dan dinikmati masyarakat. Sayangnya, gara-gara perubahan iklim, keberadaan empat musim bisa jadi akan hilang di masa depan, berganti menjadi dua musim saja. Kok bisa?
Buatmu yang masih belum menyadari betapa penting empat musim di Jepang, coba deh cermati hal ini: musim semi di Jepang identik dengan hanami dan bunga sakura, musim panas identik dengan festival dan pantai, musim gugur dengan daun momiji yang memerah, dan musim dingin dengan salju serta olahraga ski. Kombinasi keempat musim itu bahkan punya istilahnya sendiri yaitu shiki.
Masalahnya, banyak orang Jepang mulai merasa durasi musim-musim itu tak lagi seimbang. Musim panas dan musim dingin terasa semakin panjang, sementara musim semi dan gugur terasa semakin singkat. Istilah shiki pun perlahan bergeser menjadi niki alias dua musim saja.
Dulu, musim semi terasa panjang dan sejuk. Kini, sakura sering mekar lebih cepat lalu rontok sebelum orang sempat menikmati keindahannya lama-lama. Perubahan suhu yang mendadak bikin kalender alam seperti lompat-lompat. Bagi masyarakat Jepang, ini bukan cuma soal cuaca, tapi juga soal tradisi yang jadi kacau.
“Dulu rasanya kita bisa gantian melihat sakura karena masa mekarnya lumayan lama. Sekarang seperti jauh lebih cepat dan bikin taman-taman jadi semakin sesak karena semua orang jadi nggak pengin terlewat mekarnya sakura yang hanya hadir sebentar setahun sekali,” ucap warga Aomori, Ayumi Hasebe di pesan Instagram pada Senin (16/2/2026).
Sayangnya, anggapan Ayumi sesuai dengan hasil penelitian berbasis data dari Badan Meteorologi Jepang. Dari data yang dikumpulkan peneliti dari Mie University dan Niigata University dan dirilis di Gaijinpot pada (6/2), terungkap bahwa musim panas datang lebih cepat dan pergi lebih lambat.
Dalam empat dekade terakhir, durasinya bertambah hampir tiga minggu. Artinya, panas ekstrem sekarang menggerus jatah musim semi dan gugur.
Di sisi lain, momiji alias daun merah yang jadi ikon musim gugur kini sering muncul terlambat atau sebentar saja layaknya sakura. Laut yang lebih hangat menahan panas lebih lama, membuat udara sejuk nggak kunjung datang. Bagi pariwisata, ini masalah besar karena musim gugur adalah salah satu waktu favorit wisatawan, dan ketidakpastian waktu puncaknya bikin industri ini kelimpungan.
Beda dengan musim gugur yang semakin singkat, musim dingin tidak berubah drastis layaknya musim panas. Aliran udara dingin dari benua Asia masih menjaga suhu rendah, terutama di wilayah utara. Tapi tetap saja, ketidakseimbangan musim lain membuat satu tahun terasa sangat berbeda.
Para peneliti bahkan memperkirakan Jepang bisa benar-benar bergeser dari empat musim menjadi dua musim dominan: musim panas yang panjang dan musim dingin yang singkat di masa depan. Akar masalahnya jelas, yaitu perubahan iklim global.
Dampaknya bikin pertanian mulai terganggu. Kualitas dan produksi beras menurun, buah-buahan mudah “terbakar matahari”, dan hasil laut menyusut. Festival yang biasanya mengikuti pergantian musim juga jadi sulit digelar.
Meski begitu, harapan belum hilang. Jepang dikenal piawai beradaptasi dan mulai serius mengembangkan energi terbarukan serta kebijakan iklim. Apalagi, empat musim belum benar-benar menghilang. Sakura masih mekar, salju masih turun, dan daun momiji masih bisa kita lihat.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah Jepang akan berubah, Tapi apakah manusia bisa memperlambat kerusakan sebelum shiki tinggal jadi cerita nostalgia. (Arie Widodo/E07)
