BerandaHits
Senin, 7 Jun 2026 10:53

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

Fenomena bediding membuat suhu udara di sejumlah wilayah Jawa terasa lebih dingin pada malam hingga pagi hari selama musim kemarau. (Chatgpt AI)

Bediding merupakan istilah masyarakat Jawa untuk menyebut udara dingin yang biasa terjadi saat musim kemarau akibat pengaruh Angin Monsun Australia dan bukan karena fenomena aphelion.

Inibaru.id - Beberapa hari terakhir, masyarakat di berbagai wilayah Jawa mulai merasakan udara yang lebih dingin dari biasanya, terutama saat malam hingga pagi hari. Fenomena yang kerap disebut bediding ini memang menjadi ciri khas musim kemarau di Indonesia, khususnya pada periode Juli hingga September.

Meski sering dikaitkan dengan fenomena astronomi seperti aphelion, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa penyebab utama suhu dingin tersebut justru berasal dari kondisi atmosfer yang lazim terjadi setiap musim kemarau.

Lalu, sebenarnya apa itu bediding dan dari mana asal istilah tersebut? Kata bediding berasal dari bahasa Jawa yang digunakan untuk menggambarkan kondisi udara yang terasa sangat dingin, terutama pada malam hingga pagi hari saat musim kemarau.

Istilah ini sudah lama dikenal masyarakat Jawa, bahkan jauh sebelum fenomena tersebut dijelaskan secara ilmiah oleh para ahli meteorologi. Karena itu, ketika suhu udara mulai menurun drastis pada musim kemarau, masyarakat sering menyebutnya sebagai musim bediding.

Seperti dikutip dari CNN Indonesia, dalam penjelasannya, Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menyebut bahwa bediding merupakan istilah lokal yang merujuk pada karakteristik cuaca musiman yang memang rutin terjadi setiap tahun.

Mengapa Udara Terasa Lebih Dingin?

Menurut BMKG, salah satu penyebab utama fenomena bediding adalah pengaruh Angin Monsun Australia yang bergerak menuju Benua Asia melewati wilayah Indonesia.

Angin tersebut berasal dari kawasan Australia yang sedang mengalami musim dingin sehingga membawa massa udara yang lebih kering dan bersuhu rendah. Saat melintasi Indonesia, angin ini hanya sedikit mengandung uap air sehingga langit cenderung cerah dan minim awan.

Kondisi tersebut membuat panas yang tersimpan di permukaan bumi pada siang hari lebih mudah dilepaskan kembali ke atmosfer saat malam hari. Akibatnya, suhu udara di permukaan menjadi lebih rendah dan terasa lebih dingin dibanding biasanya.

Selain itu, keberadaan badai tropis di wilayah utara Indonesia atau sekitar Filipina terkadang turut memperkuat aliran angin dari Australia. Dampaknya, sejumlah wilayah di Pulau Jawa dapat merasakan suhu yang lebih dingin selama beberapa hari.

Setiap kali suhu udara menurun, tidak sedikit masyarakat yang mengaitkannya dengan fenomena aphelion, yaitu kondisi ketika Bumi berada pada titik terjauhnya dari Matahari dalam orbitnya.

Namun BMKG menegaskan bahwa anggapan tersebut kurang tepat. Menurut Ardhasena, fenomena aphelion memang terjadi setiap tahun dan sering bertepatan dengan periode musim kemarau di Indonesia. Meski demikian, tidak ada hubungan sebab-akibat secara langsung antara aphelion dan suhu dingin yang dirasakan masyarakat.

Dengan kata lain, bediding bukan terjadi karena Bumi sedang menjauh dari Matahari, melainkan karena pengaruh sirkulasi angin musiman dan kondisi atmosfer yang khas pada musim kemarau.

BMKG menyebut bediding merupakan fenomena yang normal dan rutin terjadi setiap tahun. Meski demikian, masyarakat tetap diimbau menjaga kondisi tubuh karena udara dingin dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, terutama pada anak-anak, lansia, dan orang dengan daya tahan tubuh yang sedang menurun.

Menggunakan pakaian hangat, menjaga asupan cairan, serta mengonsumsi makanan bergizi dapat membantu tubuh beradaptasi dengan perubahan suhu tersebut.

Jadi, ketika udara terasa lebih dingin pada musim kemarau, masyarakat tak perlu khawatir berlebihan. Fenomena yang dikenal sebagai bediding ini merupakan bagian dari siklus cuaca tahunan yang telah lama menjadi pengalaman khas masyarakat Jawa. (Ike/E01)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Walkot Semarang Resmi Luncurkan LOFF 2026, Perkuat Ekosistem Perfilman Kreatif

24 Mei 2026

Peluang “Godzilla El Nino” 2026 di Indonesia Relatif Kecil, Ini Kata BRIN

25 Mei 2026

Jadi Wisudawan Terbaik UNRIYO, Pemuda Asal Semarang Ini Ingin Ciptakan Banyak Peluang Kerja

25 Mei 2026

Sebelum Nasi Mendominasi, Leluhur Kita Sudah Diversifikasi Pangan Sejak Dulu

26 Mei 2026

5 Tradisi Iduladha di Indonesia yang Unik, Sarat Makna, dan Jadi Daya Tarik Wisata Budaya

28 Mei 2026

Congklak, Permainan Tradisional Tertua yang Kini Mulai Dilupakan

29 Mei 2026

Mengenal Thudong, Perjalanan Spiritual Para Biksu yang Selalu Mencuri Perhatian Saat Waisak

31 Mei 2026

Mengulik Filosofis Naga Jawa dalam Kosmologi Masyarakat Jawa Kuno

2 Jun 2026

Prabowo Copot Dadan Hindayana dari Kepala BGN, Nanik S Deyang Ditunjuk sebagai Pengganti

3 Jun 2026

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: