BerandaHits
Senin, 1 Mar 2026 15:01

Feminization of Poverty dan Kemiskinan yang Berparas Perempuan

Ilustrasi: Sama-sama buruh, tapi upah yang acap lebih rendah membuat rentan mengalami kemiskinan. (Antara Foto/M Risyal Hidayat)

Akses terbatas terhadap pendidikan tinggi, kepemilikan lahan, kredit usaha, dan posisi pengambilan keputusan, membuat perempuan lebih sering bekerja di sektor informal atau upah yang lebih rendah. Itulah feminization of poverty; kemiskinan lebih sering berparas perempuan.

Inibaru.id - Pagi belum sepenuhnya terang ketika Siti, bukan nama sebenarnya, sudah menyapu halaman rumahnya yang berlokasi nggak jauh dari sebuah kampus negeri di Kota Semarang. Sejurus kemudian, dia harus menyiapkan sarapan sederhana, membangunkan dua anaknya, lalu bergegas ke pasar.

Siang hari dia membantu bersih-bersih rumah kos-kosan di dekat rumah, kemudian berjualan gorengan dari sore hingga Isya. Rutinitas ini dilakukannya setiap hari. Seringkali perempuan paruh baya itu nggak punya waktu untuk menemani anaknya mengerjakan PR karena ada pesanan kue untuk esok pagi.

Siti adalah kepala keluarga di rumah sempitnya yang dia sewa dengan banderol Rp15 juta per tahun. Dia yang membesarkan dua anaknya seorang diri semenjak suaminya meninggal tiga tahun lalu harus bekerja lebih dari 14 jam sehari dengan pendapatan yang acap nggak cukup untuk menutup kebutuhan bulanan.

Cerita tentang Siti ini mudah ditemukan di dunia, nggak terkecuali di Indonesia. Dalam studi pembangunan, situasi itu dikenal sebagai feminization of poverty atau feminisasi kemiskinan. Istilah tersebut dipopulerkan oleh sosiolog Amerika Diana M Pearce pada akhir 1970-an.

Pearce melihat meningkatnya jumlah rumah tangga yang dipimpin perempuan dan menemukan bahwa perempuan, terutama ibu tunggal, menghadapi risiko kemiskinan yang jauh lebih tinggi dibanding laki-laki. Fenomena ini muncul karena adanya beban berlapis yang harus ditanggung perempuan.

Beban Ganda, Risiko Berlipat

Ilustrasi: Perempuan yang lebih sering bekerja di sektor informal tanpa kontrak tetap, jaminan kesehatan, dan perlindungan uang pensiun, membuatnya lebih rentan saat krisis datang. (Borgenproject)

Di banyak negara, termasuk Indonesia, perempuan lebih sering bekerja di sektor informal: tanpa kontrak tetap, jaminan kesehatan, dan perlindungan uang pensiun. Ketika krisis ekonomi datang, situasi ini secara otomatis menjadikan mereka sebagai kelompok yang pertama terdampak sekaligus terakhir pulih.

Peneliti gender dan pembangunan, Sylvia Chant, mengingatkan bahwa feminisasi kemiskinan nggak cukup dipahami hanya dengan melihat jumlah perempuan miskin yang tercatat. Chant justru menekankan bahwa kemiskinan perempuan bersifat struktural.

Menagap struktural? Ya, karena hal tersebut berkaitan dengan ketimpangan upah, pembagian kerja domestik yang nggak setara, serta norma sosial yang menempatkan perempuan sebagai penanggung jawab utama kerja perawatan (care work).

Artinya, bahkan ketika perempuan bekerja dan menghasilkan uang, mereka tetap memikul pekerjaan rumah tangga, tentu saja yang ini tanpa upah. Kerja yang nggak terlihat itu memang jarang dihitung dalam statistik ekonomi, padahal sangat menentukan kualitas hidup seseorang.

Bayangkan, sehari-hari bahu Siti dibebani peran yang menyita waktu dan energi sebagai pencari nafkah sekaligus pengasuh, guru, perawat, dan manajer rumah tangga. Ketika salah satu sisi rapuh, misalnya anak sakit, dagangan sepi, atau harga kebutuhan naik, nggak ada bantalan ekonomi yang cukup untuk menopang.

Sudah Jatuh Tertimpa Tangga

Ilustrasi: Perempuan cenderung memiliki akses lebih terbatas terhadap pendidikan tinggi, kepemilikan lahan, kredit usaha, dan posisi pengambilan keputusan. (Antara Foto/Irwansyah Putra)

Laporan dari berbagai lembaga internasional mengatakan, perempuan cenderung memiliki akses lebih terbatas terhadap pendidikan tinggi, kepemilikan lahan, kredit usaha, dan posisi pengambilan keputusan. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, ketimpangan ini bikin jalan keluar dari kemiskinan menjadi lebih sempit.

Dalam banyak kasus, perempuan miskin juga masih menghadapi dimensi lain, antara lain kekerasan berbasis gender, diskriminasi di tempat kerja, hingga tekanan sosial untuk tetap “kuat” demi keluarga. Kemiskinan mereka bukan hanya soal kekurangan materi, tetapi juga keterbatasan pilihan.

Konsep feminisasi kemiskinan berkembang bukan untuk mengatakan bahwa laki-laki nggak miskin, melainkan untuk menyoroti bahwa pengalaman kemiskinan perempuan memiliki karakteristik khusus; ia lebih rentan, lebih kompleks, dan seringkali tersembunyi.

Karena akar masalahnya struktural, solusinya sudah pasti nggak bisa hanya berhenti pada bantuan tunai. Inilah mengapa pengentasan kemiskinan juga perlu sensitif gender; memastikan akses perempuan terhadap pekerjaan formal yang layak, sistem perlindungan sosial yang inklusif bagi ibu tunggal, serta kebijakan yang mendukung pembagian kerja domestik yang lebih setara.

Tanpa itu, perempuan akan terus menjadi “penyangga” krisis seperti Siti, yang menutup kekurangan dengan kerja ekstra, mengorbankan kesehatan, bahkan pendidikan mereka sendiri.

Selama struktur sosial kita nggak berubah, kemiskinan akan selalu lebih banyak berparas perempuan; yang pertama terdampak sekaligus terakhir pulih, yang akan dengan mudah ditemukan di pasar, pabrik, atau gang sempit di pusat kota. (Siti Khatijah/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Wali Kota Agustina Akui Sempat Kewalahan Menangani Banjir Semarang

21 Feb 2026

Bukan Cantik Berwarna-warni, Anggrek Misterius di Hutan Merapi Ini Justru Beraroma Ikan Busuk!

21 Feb 2026

Statistik Catat Hanya Ada 2.591 Tunawisma di Seluruh Jepang

22 Feb 2026

Boleh Nggak Sih Pulang Setelah Tarawih 8 Rakaat di Masjid Lalu Witir di Rumah?

22 Feb 2026

Bersiap Sambut Pemudik, Jateng Akan Kebut Perbaikan Jalan

22 Feb 2026

Arus Mudik Lebaran 2026 dalam Bayang-Bayang Cuaca Ekstrem di Jateng

22 Feb 2026

Deretan Poster Humor Ramadan di Mijen; Viral dan Jadi Spot Ngabuburit Dadakan

22 Feb 2026

Manisnya Buah Tanpa Biji dan Perampokan Kemandirian

22 Feb 2026

Meriung Teater Ketiga 'Tengul' melalui Ruang Diskusi Pasca-pentas

22 Feb 2026

Ini Dokumen Wajib dan Cara Tukar Uang Baru Lebaran 2026 yang Perlu Kamu Tahu!

22 Feb 2026

Mengapa Orang Korea Suka Minum Alkohol dan Mabuk?

23 Feb 2026

Tren Makanan Kukusan Makin Populer, Sehat bagi Tubuh?

23 Feb 2026

Ratusan Jemaah Tiap Hari, Tradisi Semaan di Masjid Agung Kauman selama Ramadan

23 Feb 2026

Bukan Perlu atau Tidak, tapi Untuk Kepentingan Apa Perusahaan Media Adopsi AI

23 Feb 2026

Menelusuri Jejak Sejarah Intip Ketan, Camilan Warisan Sunan Kudus

23 Feb 2026

Akhir Penantian 8 Tahun Petani Geblog Temanggung Berbuah Embung Manis

23 Feb 2026

Viral, Harga Boneka Monyet Punch Naik Gila-gilaan di Internet!

24 Feb 2026

Negara Mana dengan Durasi Puasa 2026 yang Terlama dan Tersingkat?

24 Feb 2026

Menyusuri Peran Para Tionghoa di Kudus via Walking Tour 'Jejak Naga di Timur Kota'

24 Feb 2026

Antisipasi Banjir, Pemkot Semarang akan Rutin Bersihkan Sedimentasi Sungai

24 Feb 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: