Inibaru.id- Kalau kamu tinggal di Jawa, pasti pernah ngalamin momen yang bikin garuk-garuk kepala ini: langit lagi cerah, matahari terik menyengat, eh tiba-tiba rintik hujan turun dari atas. Panas iya, basah juga iya. Nah, fenomena unik ini biasa disebut masyarakat setempat dengan istilah udan kethek.
Secara harfiah, udan kethek berarti “hujan monyet”. Kedengarannya lucu, ya? Tapi fenomenanya nyata dan cukup sering terjadi, terutama di daerah beriklim tropis seperti Indonesia.
Hujan Panas yang Bikin Bingung
Udan kethek adalah hujan yang turun saat matahari masih bersinar terang. Biasanya muncul di siang hingga sore hari, sekitar pukul 14.00 sampai 16.00. Paginya bisa hujan, siangnya panas terik, lalu sorenya hujan lagi. Cuacanya seperti nggak bisa memutuskan mau panas atau basah.
Dalam istilah meteorologi, fenomena ini dikenal sebagai hujan zenithal atau hujan ekuatorial. Hujan jenis ini umum terjadi di wilayah sekitar garis khatulistiwa. Penyebabnya adalah pemanasan matahari yang sangat kuat sehingga mempercepat penguapan air dari permukaan bumi. Uap air ini naik ke atmosfer, mengalami pendinginan, lalu membentuk awan dalam waktu relatif singkat.
Karena prosesnya cepat dan awannya sering kali terbentuk secara lokal serta tidak terlalu luas, sinar matahari masih bisa menembus celah-celah awan. Hasilnya? Hujan turun, tapi matahari tetap bersinar. Jadilah sensasi “hujan sambil kepanasan”.
Kenapa Disebut Udan Kethek?
Menariknya, asal-usul istilah ini punya cerita yang cukup unik. Ada beberapa versi yang beredar di masyarakat Jawa.
Versi pertama berkaitan dengan kebiasaan zaman dulu. Konon, hampir setiap rumah memiliki gentong air di depan rumah. Gentong ini bukan cuma untuk menampung air, tapi juga untuk mengecek apakah hujan benar-benar turun. Kalau air di gentong beriak, berarti hujan sedang turun.
Saat udan kethek terjadi, orang-orang sering cuma mengintip dari balik jendela untuk memastikan hujan atau tidak. Yang terlihat dari luar hanya kepalanya saja, seperti monyet yang sedang mengintip. Dari situlah muncul istilah “udan kethek”, seolah-olah banyak “kethek” yang sedang mengintip keluar.
Versi lain mengaitkannya dengan kebiasaan monyet turun gunung saat musim kemarau untuk mencari makanan. Fenomena hujan yang datang tiba-tiba saat panas dianggap mirip dengan momen monyet turun gunung di tengah cuaca terik.
Terlepas dari mana asalnya, istilah ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Jawa memberi nama fenomena alam dengan cara yang kreatif dan penuh imajinasi.
Fenomena Alam yang Wajar
Walau terlihat aneh, udan kethek sebenarnya murni fenomena alam. Ini terjadi karena kombinasi pemanasan kuat, pembentukan awan cepat, dan pergerakan angin di lapisan atas atmosfer.
Jadi, kalau suatu hari kamu kehujanan padahal langit terlihat cerah, nggak perlu heran. Itu bukan cuaca yang “error”, tapi bagian dari dinamika alam tropis kita.
Yang jelas, udan kethek selalu sukses bikin suasana jadi unik. Panas tetap terasa, tapi kamu juga harus mencari tempat berteduh. Fenomena sederhana yang kadang bikin sebal, tapi diam-diam menarik untuk dipahami. (Arie Widodo/E07)
