Inibaru.id - Lagi musim hujan gini, bawaannya pasti pengin mager sambil dengerin suara rintik di genteng, ya kan? Tapi tahu nggak sih, Gez, kalau air yang turun dari langit itu sebenarnya "tabungan" masa depan yang berharga banget?
Yap, leluhur kita punya cara keren buat bertahan hidup lewat kearifan lokal menampung air hujan. Sayangnya, kebiasaan ini mulai sering ditinggalkan karena kita sudah terbiasa dengan air keran yang tinggal putar. Padahal, di beberapa daerah, tradisi ini masih jadi penyelamat nyawa, lo!
Baca Juga:
Bukan Talang Air, Ini Alasan Rumah di Jepang Banyak yang Lebih Suka Menggunakan Kusari-toiYuk, kita intip gimana cara warga di berbagai daerah di Indonesia "menabung" hujan!
Tamarjan: Celengan Air Warga Rembang
Main ke Desa Segoromulyo, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, kamu bakal nemuin pemandangan unik di depan rumah warga. Di sana ada tradisi bernama Tamarjan. Warga sengaja menaruh bak-bak penampungan besar untuk menangkap air hujan yang jatuh dari atap.
Bukan buat gaya-gayaan, Tamarjan adalah strategi bertahan hidup. Mengingat Rembang sering banget langganan kekeringan pas kemarau panjang, air hujan ini jadi cadangan air bersih paling diandalkan saat sumur-sumur mulai mengering. Benar-benar definisi "sedia payung sebelum hujan" yang sesungguhnya!
Ritual Minum Air Hujan di Pontianak
Geser ke Kalimantan Barat, tepatnya di Pontianak, menampung air hujan bukan lagi sekadar tradisi, tapi sudah jadi gaya hidup. Karena kondisi geografisnya yang sulit mendapatkan air tanah tawar (seringkali payau atau gambut), warga Kalbar sejak dulu sudah ahli memanfaatkan air hujan untuk keperluan konsumsi.
Bagi warga di sana, air hujan yang ditampung dengan benar punya rasa yang segar buat minum dan masak. Bahkan, banyak rumah di Pontianak yang punya tangki raksasa khusus di samping rumahnya untuk memastikan stok air mereka nggak pernah habis.
Baca Juga:
Cara Membuat Anak Mau Minum Air PutihDanau Kecil Penyelamat di Klaten
Lain lagi ceritanya di Dukuh Bunder Jarakan, Klaten. Karena daerahnya memang nggak punya sumber air alami sama sekali, para leluhur di sana mewariskan sebuah "danau kecil" atau embung sederhana sebagai tempat pengumpulan air hujan kolektif.
Kearifan lokal ini membuktikan kalau solidaritas warga bisa dibangun lewat air. Satu danau kecil ini cukup buat menghidupi satu dusun saat matahari lagi terik-teriknya di musim kemarau. Hm, keren ya ide-ide nenek moyang kita dalam memanfaatkan air hujan?
Nah, mumpung intensitas hujan lagi tinggi-tingginya, sebenarnya kita bisa banget meniru kearifan lokal ini, Gez. Menampung air hujan nggak cuma bantu kita hemat tagihan air, tapi juga mengurangi beban drainase kota biar nggak gampang banjir.
Dengan cara yang lebih modern (seperti filtrasi sederhana), air hujan bisa kok dipakai buat menyiram tanaman, mencuci kendaraan, atau cadangan saat air PDAM lagi macet.
Eh, kalau di tempatmu sendiri masih ada nggak orang yang rajin nampung air hujan? Atau mungkin ada nama tradisi unik lain soal air di desamu? (Siti Zumrokhatun/E05)
