BerandaHits
Kamis, 21 Jan 2026 09:01

Duh, Kata Menkes, Diperkirakan 28 Juta Warga Indonesia Punya Masalah Kejiwaan!

Ilustrasi: Jutaan warga Indonesia diperkirakan mengalami masalah kejiwaan. (Freepik)

Jika menilik rasio global terkait dengan masalah kejiwaan yang dikeluarkan WHO, Menteri Kesehatan pun memprediksi ada 28 juta penduduk Indonesia yang memilikinya. Ini alasannya.

Inibaru.id — Urusan kesehatan jiwa di Indonesia ternyata jauh lebih besar dari yang selama ini tampak di permukaan. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memperkirakan sedikitnya 28 juta penduduk Indonesia memiliki masalah kejiwaan. Angka itu bukan hasil karangan, melainkan merujuk pada rasio global yang dirilis Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni satu dari delapan hingga satu dari sepuluh orang mengalami gangguan kesehatan mental.

Dengan memakai rasio tersebut dan membandingkannya dengan jumlah penduduk Indonesia yang mendekati 280 juta jiwa, hasil perhitungannya pun jadi bikin kaget. Ada sekitar 28 juta orang yang berpotensi bergulat dengan masalah kesehatan jiwa, mulai dari depresi dan gangguan kecemasan, hingga kondisi yang lebih berat seperti skizofrenia dan ADHD.

“Ini baru puncak gunung es,” kata Budi saat mengungkapnya di rapat kerja dengan Komisi IX DPR RI di Gedung Parlemen pada Senin (19/1/2026).

Dia menegaskan bahwa apa yang terlihat saat ini belum sepenuhnya mencerminkan kondisi sebenarnya di masyarakat. Alasannya, banyak gangguan kesehatan jiwa yang tidak terdeteksi di lapangan. Stigma, minimnya literasi, dan keterbatasan layanan membuat orang cenderung memendam masalahnya sendiri alih-alih meminta bantuan.

Gara-gara hal itulah, hasil skrining kesehatan jiwa lewat program Cek Kesehatan Gratis (CKG) masih terlihat “kecil” jika dibandingkan dengan perkiraan WHO.

FYI aja nih, berdasarkan data Kementerian Kesehatan per 1 Januari 2026, sekitar 27 juta penduduk telah menjalani pemeriksaan kesehatan jiwa melalui program CKG. Dari angka itu, hasilnya menunjukkan persentase orang yang terkena gangguan jiwa masih relatif rendah, bahkan di bawah satu persen untuk kelompok dewasa dan lansia. Sementara pada anak-anak dan remaja, angkanya sedikit lebih tinggi, sekitar lima persen.

Generasi muda lebih rentan mengalami masalah kesehatan. (Satupersen)

Meski terlihat kecil, data tersebut menyimpan pesan penting. Pada kelompok anak usia sekolah dan remaja, sebanyak 4,8 persen terdeteksi mengalami gejala depresi dan 4,4 persen menunjukkan gejala kecemasan. Bandingkan dengan kelompok dewasa dan lansia yang masing-masing berada di kisaran 0,9 persen untuk depresi dan 0,8 persen untuk kecemasan. Artinya, tekanan psikologis justru lebih banyak dialami generasi muda.

“Apalagi banyak dari kami yang jadi sandwich generation, pasti tekanan psikologisnya lebih berat,” ucap salah seorang Gen Z yang bekerja di salah satu perusahaan swasta di Semrang, Farida, Selasa (20/1).

Fenomena ini seolah mengonfirmasi kenyataan sehari-hari, yaitu anak dan remaja kini tumbuh di tengah tekanan akademik, tuntutan sosial, hingga paparan media digital yang tidak selalu ramah mental. Masalahnya, layanan kesehatan jiwa selama ini belum sepenuhnya hadir di ruang terdekat masyarakat.

Menkes mengakui, layanan kesehatan jiwa selama ini belum maksimal di layanan primer seperti puskesmas. Karena itu, hasil skrining CKG dijadikan pijakan awal untuk membangun sistem layanan yang lebih kuat. Pemerintah pun mulai menyusun tata laksana pelayanan kesehatan jiwa, baik yang membutuhkan pengobatan maupun pendampingan psikologis seperti konseling.

“Kita sekarang bangun sistemnya agar layanan psikologis bisa dilakukan di puskesmas,” ungkap Menkes Budi.

Ke depan, layanan kesehatan jiwa diharapkan tidak lagi menjadi sesuatu yang “jauh” dan menakutkan. Dengan sistem yang sedang dibangun, puskesmas akan menjadi pintu pertama bagi warga untuk mendapatkan bantuan. Pelan-pelan, kesehatan jiwa diharapkan bisa diperlakukan setara dengan kesehatan fisik, yakni diperiksa, dirawat, dan dibicarakan tanpa rasa malu. Setuju, Gez? (Arie Widodo/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

HP Gratis dengan Rekening Digital Diusulkan untuk Penyaluran Bansos

15 Okt 2026

Dari Jepara ke Sarajevo, Merawat Ukiran dan Diplomasi yang Tak Selesai di Meja Pertemuan

16 Okt 2026

Sritex Masuk Rencana Akuisisi Danantara, Ini Tujuan Pemerintah

18 Okt 2026

Warteg on Train, Inovasi Kuliner KAI yang Bikin Penumpang Penasaran

19 Okt 2026

Indonesia Women's League 2026 Resmi Dibuka, Sepak Bola Wanita Indonesia Siap Berkembang

21 Okt 2026

Ghost in the Cell Borong Dua Penghargaan di Sitges Film Festival 2026

22 Okt 2026

Jauh Sebelum Pajak Modern, Jawa Kuno Sudah Punya Sistem Pajak Tanah

23 Okt 2026

Pesawat N219 Buatan Indonesia Siap Terbang Desember 2026

24 Okt 2026

Progres Tol Semarang-Demak Capai 79,42 Persen, Ditarget Rampung 2027

26 Okt 2026

Dari Surabaya, Lahir Seruan Jihad yang menginspirasi Hari Santri Nasional

27 Okt 2026

Mengapa Salatiga Disebut Salah Satu Kota Tertua di Indonesia? Ini Sejarahnya

28 Okt 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

8 Tokoh Penting Kongres Pemuda II yang Lahirkan Sumpah Pemuda

28 Okt 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: