BerandaHits
Rabu, 3 Mar 2026 11:01

Saat Takjil War, Waspada dengan Sejumlah Pembungkus Takjil Nggak Sehat Ini

Bungkus plastik sebaiknya nggak dijadikan pembungkus gorengan panas. (Kompasiana/Miftahudin)

Sejumlah bungkus takjil ternyata kurang baik bagi kesehatan tubuh. Apa saja ya pembungkus tersebut?

Inibaru.id – Bulan Ramadan selalu identik dengan satu tradisi yang bikin suasana sore jadi hidup: berburu takjil alias takjil war. Menjelang azan magrib, jalanan ramai oleh penjual kolak, es buah, gorengan, hingga aneka minuman segar. Namun di balik nikmatnya menu berbuka, ada satu hal yang sering luput dari perhatian, yakni kemasan makanan yang digunakan.

Masalahnya, bungkus takjil yang terlihat sepele ternyata bisa berdampak pada kesehatan jika dipakai sembarangan, terutama jika dipakai untuk membungkus makanan panas.

Plastik Kiloan yang Masih Jadi Andalan

Masih banyak pedagang menggunakan plastik kiloan untuk membungkus gorengan atau makanan berkuah. Praktis memang, tapi ternyata kurang aman. Plastik jenis ini umumnya mengandung bahan kimia seperti BPA dan ftalat yang membuatnya lentur.

Masalah muncul ketika plastik bersentuhan dengan makanan panas atau berminyak. Suhu tinggi bisa memicu zat kimia berpindah ke makanan. Kalau sering terpapar dalam jangka panjang, zat tersebut berpotensi mengganggu kesehatan tubuh.

Biar aman, kamu bisa kok membawa wadah sendiri kalau beli gorengan atau makanan berkuah. Tapi, pastikan juga wadahnya sudah bebas BPA dan ftalat, ya, Gez.

Kresek Hitam Bukan untuk Makanan

Kantong kresek hitam juga masih sering dipakai sebagai pembungkus takjil. Padahal, banyak kresek jenis ini berasal dari plastik daur ulang yang bahan bakunya belum tentu higienis. Bisa saja kreseknya dibuat dari limbah nonpangan atau bahkan bahan kimia.

Ketika digunakan untuk makanan panas, risiko perpindahan zat berbahaya semakin tinggi. Karena itu, kresek hitam sebenarnya tidak direkomendasikan untuk kontak langsung dengan makanan siap santap.

Kertas Bekas dan Tinta yang Berbahaya

Gorengan yang dibungkus koran. (Balkesmasmagelang)

Gorengan hangat yang dibungkus koran memang terlihat “klasik”. Tapi kebiasaan ini ternyata menyimpan risiko. Tinta pada koran atau majalah mengandung logam berat seperti timbal. Saat terkena minyak dan panas, zat tersebut bisa berpindah ke makanan.

Kita juga nggak bisa memastikan kebersihan koran atau majalan bekas itu, bukan? Makanya, kalau bisa takjil yang kita beli nggak dibungkus dengan kertas bekas, deh.

Gelas Kertas dan Plastik Sekali Pakai

Gelas kertas sering dianggap lebih ramah lingkungan dan aman. Faktanya, sebagian besar gelas kertas dilapisi plastik tipis agar tidak bocor. Ketika diisi minuman panas, lapisan ini berpotensi melepaskan mikroplastik yang ikut tertelan.

Hal serupa juga berlaku pada gelas plastik sekali pakai. Air panas dapat memicu pelepasan partikel plastik kecil hingga senyawa kimia seperti BPA yang berisiko mengganggu sistem hormon.

Stirofoam, Praktis tapi Perlu Dihindari

Kemasan stirofoam juga masih sering digunakan karena ringan dan murah. Masalahnya, bahan ini mengandung senyawa styrene yang bisa berpindah ke makanan panas. Dalam paparan tertentu, zat tersebut dikaitkan dengan gangguan saraf hingga masalah kesehatan jangka panjang.

Berburu takjil memang menyenangkan, tapi kesehatan tetap harus jadi prioritas. Mulai sekarang, nggak ada salahnya lebih selektif memilih kemasan atau bahkan membawa wadah sendiri dari rumah. Selain lebih aman, langkah kecil ini juga membantu mengurangi sampah sekali pakai. Setuju kan, Gez? (Arie Widodo/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Margin Kian Tipis, Banyak Seller Mulai Tinggalkan Marketplace

20 Mei 2026

SMA Negeri 1 Kemalang Resmi Berdiri, Anak Lereng Merapi Tak Perlu Sekolah Jauh Lagi

20 Mei 2026

Jateng Media Summit 2026 Bahas Masa Depan Media Lokal di Era Digital

21 Mei 2026

Di Tengah Gempuran AI dan Buzzer, Media Lokal Diajak Kembali ke Jurnalisme Publik

22 Mei 2026

Jejak Panjang Pecel, Lotek, dan Gado-Gado: Saat Salad Nusantara Punya Cerita Peradaban

22 Mei 2026

BI Jateng Ingatkan Bahaya Penipuan Digital di Tengah Tren Transaksi QRIS

23 Mei 2026

Belajar dari Estonia, China, dan Singapura dalam Membangun Infrastruktur Digital

23 Mei 2026

Walkot Semarang Resmi Luncurkan LOFF 2026, Perkuat Ekosistem Perfilman Kreatif

24 Mei 2026

Peluang “Godzilla El Nino” 2026 di Indonesia Relatif Kecil, Ini Kata BRIN

25 Mei 2026

Jadi Wisudawan Terbaik UNRIYO, Pemuda Asal Semarang Ini Ingin Ciptakan Banyak Peluang Kerja

25 Mei 2026

Sebelum Nasi Mendominasi, Leluhur Kita Sudah Diversifikasi Pangan Sejak Dulu

26 Mei 2026

5 Tradisi Iduladha di Indonesia yang Unik, Sarat Makna, dan Jadi Daya Tarik Wisata Budaya

28 Mei 2026

Congklak, Permainan Tradisional Tertua yang Kini Mulai Dilupakan

29 Mei 2026

Mengenal Thudong, Perjalanan Spiritual Para Biksu yang Selalu Mencuri Perhatian Saat Waisak

2 Jun 2026

Mengulik Filosofis Naga Jawa dalam Kosmologi Masyarakat Jawa Kuno

2 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: