Inibaru.id – Pergelaran wayang klithik di Desa Wates, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, pada akhir pekan lalu menjadi sinyal yang cukup kuat untuk warga setempat. Pesannya sederhana, yakni bahwa seni pertunjukan yang pernah begitu disambut hangat oleh masyarakat Kota Kretek itu masih hidup.
Untuk yang belum tahu, wayang klithik adalah seni pertunjukan dari Jawa yang dilakonkan menggunakan boneka pipih dua dimensi yang terbuat dari kayu tipis yang dipahat. Wayang ini dikenal di pelbagai tempat di Jawa. Untuk Jawa Tengah, pada masanya wayang jenis ini cukup populer di Kudus.
Namun, seiring dengan perubahan zaman, wayang yang biasanya mengangkat cerita Panji dan babad Tanah Jawa itu mulai sepi peminat. Karena itulah pertunjukan yang berlangsung di Desa Wates malam itu begitu penting, yakni menjadi penanda untuk menahan laju kepunahan yang mendesak.
Di balik kelir, Ki Sutikno kembali tampil sebagai dalang. Sudah lebih dari tiga dekade lelaki bersahaja itu duduk sebagai penjaga ingatan di tempat tersebut, bahkan di usianya yang kini sudah nggak lagi muda. Saat ini, dialah satu-satunya dalang wayang klithik yang masih aktif di Kudus.
Peran Ki Sutikno dalam upaya menjaga denyut kesenian yang suaranya kian sayup terdengar itu memang begitu krusial, bahkan setelah 30 tahun sejak dia mulai mewarisi kemampuan mendalang tersebut dari bapaknya yang juga menekuni profesi yang sama.
Kesetiaan pada Tradisi
Ki Sutikno adalah simbol kesetiaan pada tradisi. Dari orang tuanya, lelaki murah senyum tersebut nggak hanya mewarisi kemampuan mendalang, tapi laku hidup sebagai penjaga budaya, termasuk kesabaran merawat makna dan keberanian bertahan di tengah arus zaman yang terus berubah.
Di kedua tangannya yang kini mulai sering gemetar, wayang klithik menjadi lakon yang menarik ditonton, membuat tokoh-tokoh dalam babad Tanah Jawa yang selalu diceritakannya kembali bernapas dan dikenang kisahnya.
Setiap lakon yang dimainkan adalah jembatan antara masa lalu dan hari ini; antara cerita leluhur dan kegelisahan zaman sekarang. Pentas malam itu menjadi saksi bagaimana tradisi tak pernah benar-benar mati selama masih ada tubuh yang setia menghidupkannya.
Di tengah dominasi hiburan digital dan budaya serba cepat, kehadiran wayang klithik terasa seperti bisikan pelan. Ia nggak memaksa untuk ditonton atau berteriak meminta perhatian. Inilah yang dipahami betul oleh Ki Sutikno yang selalu menyelami setiap cerita yang disampaikan tanpa tergesa-gesa.
Sosok Penting di Kudus
Peran sebagai "dalang" nggak hanya dilakoni Ki Sutikno di atas panggung. Di luar, dia juga aktif membina generasi muda untuk berkesenian, salah satunya melalui sanggar Ngesti Laras Madya yang mempersilakan siapa pun yang ingin lebih dekat mengenal wayang klithik.
Di Desa Wonosoco, tempat kesenian ini berakar, Ki Sutikno juga menjadi rujukan utama dalam berbagai upacara adat dan kegiatan budaya. Dia bukan hanya pelaku, tetapi pusat pengetahuan sekaligus arsip hidup yang berjalan.
Bagi anak-anak muda yang datang untuk berguru, Ki Sutikno nggak sekadar mengajarkan cara memegang wayang atau menghafal lakon, tapi juga menanamkan kesadaran bahwa menjadi dalang berarti siap memikul tanggung jawab sejarah, yang harus terus dijaga agar nggak putus di satu generasi.
Peran kesenian Ki Sutikno terbilang panjang dan lintas ruang. Dia pernah tampil dalam perayaan HUT ke-474 Kudus pada 2023, menjadi bagian dari Program Panggung Teater Kudus Bakti Budaya Djarum Foundation pada 2017, hingga tampil di Festival Wayang Langka Jawa Tengah oleh DKJT pada 2013.
Sejak dekade 1990-an, Ki Sutikno setia mendalang dari desa ke desa di Kudus seperti Wonosoco dan Wates di Undaan; hingga kampung-kampung di kabupaten tetangga seperti Pati dan Grobogan. Panggung yang menjadi tempatnya tampil acap nggak besar, bahkan seringkali tanpa sorotan.
Berharap Ada Regenerasi
Dalam banyak kesempatan, kehadiran Ki Sutikno di balik kelir memang bukan demi panggung megah atau bayaran besar, tapi lantaran ada hajatan adat desa atau sebagaimana di Wates, karena ada harapan agar wayang klithik kembali didengar.
Sebagai sosok yang pernah diganjar sebagai penampil terbaik Festival Wayang Langka Jawa Tengah pada 2013, sejatinya nggak sulit bagi Ki Sutikno untuk meraih sorot kamera. Namun, bukan itu penghargaan yang dia inginkan, tapi bagaimana kesenian yang digelutinya bisa bertahan.
Di usianya yang kian senja, pertanyaan seperti sampai kapan wayang klithik masih dimainkan atau adakah anak yang masih mau belajar memang selalu menggelayutinya tiap kali mau pentas. Ki Sutikno menyadari betul, ancaman terbesar dari wayang klithik bukan hanya kurangnya penonton, tetapi putusnya regenerasi.
Ketika nggak ada lagi yang mau belajar atau kisah-kisah tentang seni pertunjukan itu nggak lagi diceritakan, saat itulah wayang klithik meregang nyawa, lalu perlahan sirna dan yang hanya tersisa sebagai catatan, bukan praktik hidup.
Malam itu, dengan penuh ketenangan, Ki Sutikno menggerakkan wayang seperti sedang berbincang dengan waktu, memohon agar kesenian ini diberi umur lebih panjang. Di balik kelir, di hadapan masyarakat Wates, dia berikhtiar; berharap mereka nggak lupa dan menceritakannya ke generasi berikutnya.
Meski lirih, pentas wayang klithik di Wates menjadi getaran yang meretakkan bekunya cerita tentang seni pertunjukan tersebut. Semoga ia terus memantul dan memperluas radius jangkauan ya, Gez! (Imam Khanafi/E10)
