Inibaru.id - Puncak Telomoyo yang secara adminisratif berlokasi di Desa Pandean, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, bukanlah gunung yang tinggi. Bahkan, kita bisa mendaki gunung setinggi 1.894 mdpl ini dengan mengendarai sepeda motor atau mobil jip.
Melalui jalur Dalangan, kita bisa menapaki rute beraspal mulus yang bisa dilalui kendaraan bermotor. Praktis dan cepat. Namun, untuk kamu yang enggan melakukan pendakian dengan cara itu, Gunung Telomoyo sejatinya memiliki rute lain yang hanya bisa ditapaki dengan berjalan kaki.
Rute yang dikenal sebagai Jalur Arsal ini cukup ramah, sehingga acap dipakai para pendaki pemula untuk menjajal kemampuan. Selain itu, rutenya yang pendek dan cenderung ringan juga kerap dipakai pendaki yang cuma punya sedikit waktu libur untuk sekadar hiking atau tektokan.
Nah, buat kamu yang pengin menikmati sensasi mendaki gunung yang ringan tapi tetap menantang, jalur Arsal mungkin bisa menjadi salah satu opsi yang bisa kamu pilih. Basecamp pendakian Gunung Telomoyo via Arsal ada di Dusun Salaran, Desa Tolokan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang.
Jalur yang Bersahabat
Berlokasi sekitar 650 meter dari basecamp via Dalangan, tiket pendakian via Arsal dipukul rata sebesar Rp25 ribu, baik untuk pendaki tektok atau yang mau nge-camp. Selama pendakian, akan ada tiga pos yang harus dilalui untuk menuju sunrise camp, area terakhir sebelum mencapai Tugu Garuda sebagai puncaknya.
Akhir pekan lalu, tepatnya pada Minggu (4/1/2025), saya baru saja menyelesaikan pendakian Gunung Telomoyo via Arsal. Bersama tiga teman, kami memilih tektokan atau pergi-pulang dalam sehari karena waktu libur yang tersedia cukup terbatas.
Menurut saya yang seorang pendaki pemula, rute via Arsal hari itu cukup bersahabat dan perjalanan berlangsung tanpa hambatan berarti. Kami bertolak dari basecamp pukul 10.30, lalu mencapai Puncak Garuda sekitar pukul 13.20, kemudian kembali ke basecamp sekitar pukul 16.00 WIB.
Meski terbilang pendek, rute via Arsal nggak mengecewakan. Selama perjalanan mendaki, kami disuguhi suasana pegunungan yang asri dipenuhi vegetasi nan beragam. Udaranya pun sejuk dan segar. Sesekali, lanskap Merbabu dan Andong menemani kami, tampak jelas di sisi kiri.
Saya yakin pendaki mana pun mampu menaklukkan gunung ini karena tingkat kesulitannya ringanm nggak terlalu menguras stamina, dan penanda arah terpasang di mana-mana. Meski ada sejumlah tanjakan yang menantang, kamu akan aman asalkan peralatan yang dibawa sesuai.
Didominasi Pendaki Muda
Selama mendaki, beberapa kali saya bertemu rombongan anak muda yang juga melakukan aktivitas serupa. Salah satunya Ara, perempuan 18 tahun asal Kota Magelang yang saya jumpai di area sunrise camp. Saat kami bertemu, dia tengah berswafoto bersama keempat temannya.
Sama seperti saya, perempuan yang mengaku masih duduk di bangku SMA itu juga tektokan. Ara berangkat dari basecamp sekitar pukul 08.00 WIB. Hanya berdua. Di puncak, keduanya kemudian bertemu tiga pendaki lain yang setelah berkenalan kemudian memutuskan untuk turun bersama. Jadilah mereka berlima.
"Sejak awal, salah satu tujan saya naik gunung memang menambah teman," lontarnya sembari melihat ke arah keempat temannya, yang segera disambut senyum mereka. "Selain teman, saya juga mau cari pengalaman dan melatih fisik. Kebetulan di sekolah saya ikut Sispala (Siswa Pencinta Alam)."
Ara bukanlah pendaki pemula. Walau usianya masih belia, jam terbangnya tinggi. Dia mengaku pernah menaklukkan sejumlah gunung di Jateng, antara lain Andong, Merbabu, Lawu dan Sumbing. Bahkan, dia sudah beberapa kali naik Telomoyo, termasuk saat diklat Sispala.
"Pemandangan sepanjang jalur Arsal bagus karena bisa melihat Gunung Merbabu dan Gunung Andong. Treknya juga lumayan mudah. Tantangannya apa ya? Paling ketika melewati jalur becek, karena bikin sepatu kotor," kelakar gadis murah senyum tersebut, lalu tertawa.
Favorit untuk Pendakian Singkat
Selain Ara, saya juga sempat mengobrol dengan Irma Suniarni, seorang pendaki yang sehari-hari sibuk dengan pekerjaannya sebagai karyawan swasta. Keinginan untuk sejenak healing dan melepas penat pada awal tahun sebelum terjebak lagi dalam hari-hari yang padatlah yang membawanya ke Telomoyo.
"Awal memutuskan naik (Gunung Telomoyo), saya tidak menaruh ekspektasi apa-apa, karena niat saya cuma healing sebelum kembali masuk kerja. Eh, ternyata sepanjang pendakian saya dibikin takjub sama panorama alamnya yang indah, lo!" tuturnya ramah.
Sama seperti rombongan saya dan Ara, Irma juga tektokan. Mendaki gunung, dia menyebutkan, telah menjadi salah satu aktivitas rutinnya dalam beberapa tahun terakhir. Begitu ada waktu luang, dia akan segera mewujudkan hobinya tersebut.
"Mostly tektokan karena keterbatasan waktu libur di tempat kerja. Tapi, saya benar-benar nggak nyangka naik Telomoyo lewat jalur Arsal seseru ini. Tadi bisa lihat Gunung Andong sama Merbabu sepanjang jalan. Wah!" serunya sebelum kami berpamitan untuk melanjutkan perjalanan.
Seru, kan? Oya, meski relatif bersahabat, bukan berarti mendaki Gunung Telomoyo via Arsal nggak butuh persiapan. Saran saya, pakailah sepatu hiking yang memadai saat naik agar pijakan kaki aman, terutama saat musim hujan yang bikin kontur tanah lebih licin.
Kalau ada waktu luang, coba agendakan untuk tektokan ke Gunung Telemoyo lewat jalur Arsal, gih! (Sundara/E10)
