BerandaHits
Selasa, 19 Jan 2026 16:20

Opsi Layanan Kesehatan 'Jemput Bola' untuk Warga Terdampak Banjir Wonorejo

Warga Desa Wonorejo, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak menunggu posko bantuan dan layanan kesehatan.

Warga terdampak banjir di Desa Wonorejo, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak menanti adanya posko dan bantuan, termasuk layanan kesehatan 'jemput bola' di tengah keterbatasan akses yang mereka miliki.

Inibaru.id – Demi melindungi harta benda atau merawat anggota keluarga yang sakit, sebagian warga terdampak banjir di Desa Wonorejo, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak, memilih bertahan di rumah masing-masing alih-alih mengungsi.

Mereka kini hanya bisa menanti bantuan sosial dan kesehatan dari pemerintah daerah, mengingat akses yang terbatas dan aktivitas yang nggak memungkinkan untuk dilakukan dengan leluasa. Bantuan tersebut dinilai penting karena mereka yang berada di lokasi banjir rentan terjangkit penyakit.

Perlu diketahui, banjir di Desa Wonorejo yang terjadi karena limpasan sungai yang meluap karena hujan deras yang turun tanpa henti telah berlangsung selama lebih dari sepekan. Ketinggian air mencapai 60 sentimeter, sehingga sejumlah akses yang nggak bisa dilalui dipasangi bambu sebagai tanda peringatan.

Sejumlah rumah yang terendam banjir telah ditinggalkan penghuninya untuk mengungsi. Namun, nggak sedikit pula yang memilih tetap bertahan karena alasan tertentu. Sejak hujan mulai reda, aktivitas warga sudah terlihat di jalan di tengah genangan air yang belum juga surut.

Warga Bantu Warga

Warga Desa Wonorejo pergi dari lokasi banjir untuk mencari tempat pengungsian aman.

Ira, warga Dukuh Kedung Banteng, Desa Wonorejo mengatakan, sejumlah tetangganya sudah mengungsi sejak beberapa hari yang lalu. Kebanyakan dari mereka pergi ke rumah saudara yang nggak kebanjjiran. Sementara, yang tersisa di kompleks rumahnya adalah para lansia.

"Yang tinggal kebanyakan para lansia yang kesulitan untuk mengungsi. Suasana cukup sepi, meski masih ada aktivitas yang dilakukan warga yang tidak mengungsi," tuturnya sembari menunjukkan rumah-rumah yang ditinggalkan.

Warga yang memilih nggak mengungsi seperti dirinya, Ira melanjutkan, bukan berarti nggak pengin melakukannya. Di tengah ketidakpastian kapan bencana akan mereda, tentu saja dia dan para tetangganya pengin berada di tempat yang aman dan nyaman.

"Rumah saya digenangi air sepaha. Mau MCK sudah tidak bisa, jadi sekarang mengungsi di rumah tetangga. Warga bantu warga, karena belum ada bantuan dari pemerintah," sebutnya. "Banjir ini bukan yang pertama, jadi saya sangat menantikan solusi permasalahan tahunan di Desa Wonorejo ini."

Belum Ada Posko dan Bantuan Kesehatan

Warga Desa Wonorejo saat pergi menunaikan salat Jumat berjalan melewati banjir.

Apa yang dikatakan Ira bukan isapan jempol belaka. Kurangnya layanan sosial dan kesehatan dari pemerintah juga dirasakan Rasiem, warga Dukuh Kedung Banteng. Dia dan para tetangganya terpaksa pergi mencari tempat aman sendiri lantaran ketinggian air terus bertambah.

"Tiga hari pertama banjir, saya masih bertahan di rumah; tapi keterbatasan logistik dan kebutuhan pokok membuat saya akhirnya memutuskan untuk mengungsi ke rumah anak di Kudus, meninggalkan rumah dalam kondisi kosong," keluhnya.

Situasi ini berbeda dengan Sutimah yang terpaksa bertahan di rumah di tengah kepungan banjir yang terus meluas. Suaminya stroke dan nggak memungkinkan untuk berjalan. Karena itulah dia sangat berharap segera ada layanan kesehatan ke rumah-rumah yang membutuhkan selama banjir ini.

"Harapan kami, pemerintah daerah peduli serta mau mendirikan posko bantuan logistik dan layanan kesehatan ke rumah-rumah warga yang terdampak banjir, mengingat masih banyak warga yang belum mengungsi atau mendapatkan tempat yang aman," tuturnya terbata dengan mimik muka penuh harap.

Di tengah musim hujan yang belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir dan eskalasi banjir yang berpotensi kian meluas, mendirikan posko bencana dan menyediakan layanan kesehatan "jemput bola" tentu menjadi opsi paling rasional untuk sekarang. Gimana menurutmu, Gez? (Sekarwati/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

HP Gratis dengan Rekening Digital Diusulkan untuk Penyaluran Bansos

15 Okt 2026

Dari Jepara ke Sarajevo, Merawat Ukiran dan Diplomasi yang Tak Selesai di Meja Pertemuan

16 Okt 2026

Sritex Masuk Rencana Akuisisi Danantara, Ini Tujuan Pemerintah

18 Okt 2026

Warteg on Train, Inovasi Kuliner KAI yang Bikin Penumpang Penasaran

19 Okt 2026

Indonesia Women's League 2026 Resmi Dibuka, Sepak Bola Wanita Indonesia Siap Berkembang

21 Okt 2026

Ghost in the Cell Borong Dua Penghargaan di Sitges Film Festival 2026

22 Okt 2026

Jauh Sebelum Pajak Modern, Jawa Kuno Sudah Punya Sistem Pajak Tanah

23 Okt 2026

Pesawat N219 Buatan Indonesia Siap Terbang Desember 2026

24 Okt 2026

Progres Tol Semarang-Demak Capai 79,42 Persen, Ditarget Rampung 2027

26 Okt 2026

Dari Surabaya, Lahir Seruan Jihad yang menginspirasi Hari Santri Nasional

27 Okt 2026

Mengapa Salatiga Disebut Salah Satu Kota Tertua di Indonesia? Ini Sejarahnya

28 Okt 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

8 Tokoh Penting Kongres Pemuda II yang Lahirkan Sumpah Pemuda

28 Okt 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: