BerandaTradisinesia
Jumat, 16 Jan 2025 17:27

Rujak Mitoni dan Tradisi 'Gender Reveal' di Batang

Proses pembuatan rujak mitoni dibantu oleh sanak keluarga dan tetangga. (Inibaru.id/ Sekarwati)

Rasa rujak mitoni yang enak menandakan bayi dalam kandungan berjenis kelamin perempuan, sedangkan jika sebaliknya berarti laki-laki. Mengapa begitu?

Inibaru.id – Mengungkapkan jenis kelamin bayi dalam kandungan menjadi perayaan yang mulai ngetren di kalangan para orang tua muda di AS pada awal 2000-an. Biasanya, tradisi modern yang dikenal sebagai Gender Reveal ini digelar sebelum pesta baby shower yang dirayakan pada trimester ketiga kehamilan.

Perayaan gender reveal dilakukan dalam pelbagai cara, mulai dari pesta mencari harta karun hingga meletuskan balon yang dilakukan pasangan istri-suami; untuk menemukan informasi tentang jenis kelamin sang buah hati dalam kandungan yang sebelumnya dirahasiakan dari mereka.

Nggak hanya di AS, tradisi ini juga mulai banyak diterapkan di Indonesia. Padahal, jauh sebelum pesta gender reveal muncul di sana, masyarakat kita sebetulnya sudah punya tradisi serupa, lo. Di Jawa, kita mengenalnya sebagai Mitoni.

Agak sedikit berbeda dengan gender reveal seperti sekarang yang berarti mengungkapkan informasi, gender reveal dalam mitoni biasanya lebih bersifat "memprediksi" jenis kelamin si janin dalam kandungan yang baru berusia sekitar tujuh bulan.

Gender Reveal dalam Tradisi Mitoni di Batang

Buah yang sudah dicacah dicampur dengan sambal kacang, lalu diaduk hingga merata. (Inibaru.id/ Sekarwati)

Bentuk gender reveal dalam tradisi mitoni bisa berbagai cara, karena tiap daerah biasanya punya ritualnya sendiri. Di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, gender reveal dilakukan menggunakan perantara rujak. Yap, kamu nggak salah baca!

Untuk yang belum tahu, rujak adalah makanan tradisional berupa irisan buah-buahan yang dicampur dengan sambal kacang. Khusus untuk rujak mitoni di Batang, buah yang dipakai bisa sampai belasan macam. Buah-buahan ini dicincang, lalu dicampur dengan sambal kacang bertekstur cukup cair.

Tradisi mitoni ini biasanya digelar pada usia kehamilan tujuh bulan sebagai bentuk syukur atas kehamilan sekaligus harapan agar ibu dan buah hati dalam mendapatkan keselamatan hingga tiba waktu kelahiran. Selain menggelar pengajian, tradisi tersebut biasanya dilakukan dengan membagi-bagikan berkat dan rujak mitoni.

Nah, berbeda dengan di daerah lain yang hanya menjadi penganan pendamping, rujak mitoni bagi masyarakat Batang khususnya di daerah saya yakni Dukuh Lempuyang, Desa Surjo, Kecamatan Bawang, adalah "aktor utama" yang dipersiapkan dengan saksama.

Memprediksi Jenis Kelamin dengan Rujak 

Rujak yang terasa enak menandakan bayi dalam kandungan berjenis kelamin perempuan, jika sebaliknya berarti laki-laki. (Inibaru.id/ Sekarwati)

Batang adalah kampung halaman suami, sedangkan saya berasal dari Demak yang nggak menjadikan rujak mitoni sebagai hidangan sakral dalam tradisi mitoni. Jadi, tentu saja saya takjub dengan kebiasaan yang dalam proses pembuatannya melibatkan para saudara dan tetangga karena nggak mungkin dikerjakan sendiri ini.

Kemudian, saya jauh lebih takjub lagi setelah mengetahui bahwa rujak mitoni juga menjadi media untuk memprediksi jenis kelamin calon anak kami. Hal ini saya ketahui dari Karyati, tetangga yang membantu saya membuat sambal kacang.

"Rasa dari rujak mitoni inilah yang nantinya jadi cara untuk memprediksi apakah bayi berjenis kelamin laki-laki atau perempuan," tutur perempuan 43 tahun tersebut. "Jika rujak terasa enak, berarti bayinya perempuan. Kalau nggak enak, berarti laki-laki."

Menurutnya, hal ini kemungkinan berkaitan dengan kultur sosial di Jawa yang kebanyakan perempuannya suka memasak, sedangkan laki-lakinya nggak, sehingga secara nggak langsung memengaruhi rasa masakan, termasuk rujak.

Sarana Hiburan Para Rewang

Lebih dari sepuluh macam buah dijadikan bahan dasar pembuatan rujak mitoni di Dukuh Lempuyang, Desa Surjo, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang. (Inibaru.id/ Sekarwati)

Oya, karena rujak mitoni dibuat untuk dibagi-bagikan ke seluruh tetangga yang jumlahnya bisa mencapai ratusan porsi, kami nggak bisa membuatnya sendiri. Lazimnya, pembuatan rujak disokong oleh beberapa orang yang disebut rewang; umumnya para tetangga terdekat dan sanak saudara.

Karyati mengatakan, gender reveal biasanya dilakukan begitu seluruh proses pembuatan rujak selesai. Setelah buah-buahan dicampur secara merata dalam sambal kacang, tiap rewang bakal mencicipi hasilnya, lalu menakar rasa dan mengemukakan hasilnya.

“Wah, rasa rujaknya lebih enak; bayinya bakal perempuan kayaknya!" celetuk Karyati begitu kelar mencicipi rujak mitoni yang kami buat, yang segera diiyakan rewang lainnya.

Saya hanya tertawa mendengarnya, tapi nggak memungkiri bahwa rujaknya memang enak; terasa sejuk dan segar seperti baru keluar dari kulkas. Menurut Karyati, prediksi itu hanyalah sarana hiburan para rewang, jadi nggak perlu dijadikan patokan.

“Nggak masalah mau perempuan atau laki-laki, yang penting ibu dan anaknya sehat. Lahiran lancar. Amin,” tutupnya, yang tentu saja saya amini dengan sepenuh hati.

Tradisi yang menarik, bukan? Di tempatmu, adakah tradisi serupa yang juga digunakan untuk menebak jenis kelamin bayi dalam kandungan? (Sekarwati/E03)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Kelapa Kopyor Mahal Bukan Tanpa Alasan, Ini Fakta Menariknya

31 Jul 2026

Jemparingan, Seni Panahan Khas Mataram yang Mengajarkan Fokus dan Keteguhan Hati

1 Agu 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: