BerandaTradisinesia
Jumat, 20 Okt 2022 20:27

Hik dan Angkringan, Mana yang Lebih Dulu?

Gerobak angkringan dan hik dengan kursi panjang sebagai salah satu cirinya. (Hana Tour Jogja)

Duduk nangkring, obrolan tanpa sekat bersama orang-orang baru di hik dan angkringan. Dari kedua tempat itu, mana sih yang ada terlebih dahulu?

Inibaru.id – Menginjakkan kaki di Jogjakarta agak kurang rasanya tanpa melipir untuk nongkrong di sebuah angkringan. Dengan gerobak yang stay di tempat dengan ciri khas terpal warna biru, angkringan selalu ramai di sudut-sudut kota Jogja.

Pemandangan beberapa orang yang sedang duduk santai dengan rokok terselip di antara jari dan kaki nangkring di atas bangku adalah hal yang lumrah.

Mereka menikmati obrolan demi obrolan, yang terkadang tanpa disadari, sudah berlangsung berjam-jam.

Nggak jarang obrolan ini bukan hanya antar pembeli, namun bersama dengan sang pemilik angkringan atau hik. Lalu, kira-kira apa sih bedanya hik dan angkringan?

Asal-usul Penamaan Hik

Sebelum menjelaskan apa perbedaan hik dan angkringan, simak dulu penamaan hik yang cukup menarik berikut ini.

Dilansir dari Ensiklo (28/8/14), pada 1950 silam ada lelaki bernama Pairo yang merantau dari Cawas, Klaten ke Kota Pelajar. Pairo terpaksa keluar dari desanya untuk mencari penghidupan yang lebih layak.

Awalnya, Pairo berjualan makanan kecil dan minuman dengan cara dipikul berjalan berkeliling kampung. Lelaki ini membawa pikulan sambil mengucap “Hiiik…iyeeek”. Untuk memberitahukan kedatangannya, Pairo juga memukul piring, mangkuk, dan gelas menggunakan sedok.

Pelbagai menu nasi dan satai yang ditawarkan di Angkringan Lik Man, Yogyakarta. (Instagram @dhasjourney)

Dari situlah asal penamaan hik, yang sebagian orang mengartikannya dengan “Hidangan Istimewa Kampung”. Ternyata bisnis Pairo sukses. Kesuksesan ini bahkan menular hingga kini kepada keturunannya yang menjadi pemilik Angkringan Lik Man. Buat kamu yang belum tahu, angkringan ini sangat terkenal di Yogyakarta.

Versi lain ditulis Kompas (2/9/2020) yaitu perintis konsep angkringan adalah Eyang Karso Dikromo yang berasal dari Desa Ngerangan, Klaten. Dia merantau ke Solo pada 1930 dan membuka bisnis menjual nasi terik bungkus pada 1943 dengan pikulan. Dia kemudian menambah variasi menu dengan menyediakan nasi kucing (sebutan untuk nasi dengan porsi yang sangat kecil).

Nggak dinyana dagangannya laris hingga banyak bermunculan hik di Solo. Kepopuleran ini bahkan sampai ke Yogyakarta. Kemudian muncullah angkringan pertama di Kota Pelajar.

Jadi, sudah jelas ya mana yang lahir lebih dulu?

Apa Bedanya dengan Angkringan?

Sebetulnya nggak ada perbedaan antara hik dan angkringan. Baik angkringan Yogyakarta mau pun hik Solo, keduanya memiliki konsep yang serupa. Keduanya menawarkan jajanan dan minuman dengan cara dipikul berkeliling.

Hingga dalam perkembangannya, mereka mangkal di pinggir jalan menyerupai warung kaki lima dengan gerobak kayu yang ditutupi terpal. Mungkin salah satu keunikan yang ada pada keduanya adalah hidangan yang ditawarkan selalu variatif. Kalau pun ada perbedaan, hal itu karena mengikuti makanan khas di sana.

Yang menjadi semacam signature dish baik di hik atau angkringan adalah nasi kucing, satai telur, satai usus, ceker, kepala ayam, dan bermacam gorengan. Untuk minumannya, umumnya penjual melayani pelbagai permintaan. Kamu sebagai pembeli tinggal pesan saja. Wedang jahe, wedang uwuh, kopi, air jeruk, susu jahe, teh, hingga minuman instan tersedia. Komplet kan?

Keseruan nongkrong dan makan di hik atau angkringan adalah lenyapnya sekat. Kamu bisa nyeletuk omongan pembeli lain dan bahkan akhirnya menjadi teman ngobrolnya tanpa harus canggung. Semua golongan sosial pembeli nggak perlu dicemaskan. Yap, nggak ada kata kasta dalam kamus angkringan!

Mau ngomongin hal receh atau ndakik-ndakik ya sah-sah saja di angkringan. Sungguh hal yang agak mustahil terjadi di kafe kekinian ya? Kalau kamu punya kesan apa nih di angkringan atau hik, Millens? (Kharisma Ghana Tawakal/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Cantiknya Pemandangan Pantai Dasun Lasem, Kabupaten Rembang

3 Mar 2026

Saat Takjil War, Waspada dengan Sejumlah Pembungkus Takjil Nggak Sehat Ini

3 Mar 2026

OTT Edisi Ramadan, KPK Bawa Bupati Pekalongan Fadia Arafiq ke Jakarta

3 Mar 2026

Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto, Jemaah Maiyah yang Lantang Kritik Program MBG

3 Mar 2026

Tren 'Grading Card', Autentifikasi Kartu Koleksi agar Nilai Jual Lebih Tinggi

3 Mar 2026

Mulai Maret Ini, Anak di Bawah 16 Tahun Dibatasi Main Medsos

3 Mar 2026

Kartu Mebel Jepara, 'Tiket Emas' biar UKM Ukir Naik Kelas

3 Mar 2026

Sejuk dan Alami, Begini Keindahan Air Terjun Kyai Buku Jepara

4 Mar 2026

Sepanjang 2025, Uang Hilang Setara Rp355 Miliar di Jepang Kembali ke Pemiliknya

4 Mar 2026

Opsi 'Sekolah Swasta Gratis' Akan Terintegrasi dengan SPMB 2026 di Kota Semarang

4 Mar 2026

Ponpes Raudhatul Qur'an; Cetak Ratusan Hafiz dengan Biaya Bulanan Murah Meriah

4 Mar 2026

Menguliti Asal Usul Nama Kurma

4 Mar 2026

Tragedi Cinta Mangir-Pembayun; Saat Asmara Jadi Senjata Penakluk Mataram

4 Mar 2026

Aneka Festival Musim Semi di Korea Selatan yang Bisa Kamu Datangi

5 Mar 2026

Benar Nggak Sih Sawit Bakal Menyelamatkan Indonesia dari Krisis Energi Global?

5 Mar 2026

Wajibkan Pencairan Maksimal H-7 Lebaran, Jateng Aktifkan Posko THR untuk Pengaduan

5 Mar 2026

Uji Coba Bus Listrik untuk Transportasi Publik yang Inklusif dan Ramah Lingkungan

5 Mar 2026

Kekerasan Seksual vs Main Hakim Sendiri; Undip Tegaskan Nggak Ada Toleransi!

5 Mar 2026

Siap-Siap Gerah! Kemarau 2026 Diprediksi Datang Lebih Cepat dan Lebih Kering

5 Mar 2026

Kok Bisa Sih Cadangan Minyak Indonesia Cuma 20 Hari?

6 Mar 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: