BerandaHits
Jumat, 5 Mar 2026 11:01

Benar Nggak Sih Sawit Bakal Menyelamatkan Indonesia dari Krisis Energi Global?

Ilustrasi: Minyak sawit disebut-sebut bisa membantu Indonesia di krisis energi. (Haisawit)

Karena sama-sama bisa memroduksi minyak, sejumlah warganet menyebut Indonesia nggak perlu panik jika sampai krisis minyak global terjadi. Tapi, apakah memang sawit bisa memberikan dampak tersebut?

Inibaru.id - Belakangan ini, di media sosial, sejumlah warganet menyebut sawit bisa menjadi “penyelamat” Indonesia jika krisis minyak global benar-benar terjadi. Narasi ini muncul setelah memanasnya konflik di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi minyak paling penting di dunia.

Selat Hormuz sendiri dikenal sebagai jalur vital perdagangan energi global. Banyak negara di Timur Tengah menyalurkan minyak mentah mereka ke berbagai penjuru dunia lewat selat ini. Jika jalur tersebut terganggu, dampaknya bisa terasa ke banyak negara, termasuk Indonesia, terutama dari sisi harga dan pasokan bahan bakar minyak (BBM).

Di tengah kekhawatiran itu, muncul optimisme bahwa Indonesia sebenarnya punya “senjata” berupa kelapa sawit. Bukan tanpa alasan. Indonesia memang merupakan produsen minyak sawit terbesar di dunia. Data dari Foreign Agricultural Service United States Department of Agriculture (USDA) menunjukkan produksi minyak sawit Indonesia mencapai sekitar 46 juta ton per tahun.

Produksi yang melimpah ini membuat banyak orang beranggapan bahwa sawit bisa menggantikan ketergantungan terhadap BBM berbasis minyak bumi. Apalagi Indonesia sudah lama mengembangkan program biodiesel yang mencampurkan minyak sawit dengan solar, seperti program B35.

Namun, apakah benar sawit bisa sepenuhnya mengatasi potensi krisis BBM?

Ekonom dari Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudistira, menilai hal tersebut tidak sesederhana yang dibayangkan. Menurutnya, penggunaan sawit dalam bahan bakar tetap membutuhkan campuran dari BBM berbasis minyak bumi.

Sayangnya, sawit nggak bisa dijadikan solusi tunggal mengatasi krisis BBM. (VOA Indonesia)

“Kalau sawit mungkin belum bisa karena tetap harus dicampur dengan BBM. Blending tetap butuh impor BBM, disitu letak masalahnya,” ujar Bhima sebagaimana dinukil dari Kompas, Selasa (3/3/2026).

Artinya, meskipun biodiesel berbahan sawit sudah digunakan, Indonesia tetap tidak bisa sepenuhnya lepas dari impor BBM. Sawit memang bisa membantu mengurangi ketergantungan, tetapi belum bisa menggantikan seluruh kebutuhan energi berbasis minyak.

Selain itu, ada pula isu lingkungan yang ikut menjadi perhatian. Ekspansi perkebunan sawit kerap dikaitkan dengan deforestasi dan perubahan fungsi lahan. Bahkan dalam beberapa kasus, perluasan perkebunan disebut berpotensi memperburuk masalah lingkungan seperti banjir akibat berkurangnya area resapan air.

Makanya, alih-alih bergantung pada sawit, Bhima melihat potensi krisis energi global seharusnya bisa menjadi momentum untuk mempercepat transisi menuju energi terbarukan. Apalagi, Indonesia sebenarnya memiliki sumber energi alternatif yang cukup besar, mulai dari tenaga surya, angin, hingga air.

Potensi energi surya di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 100 gigawatt. Sementara energi angin mencapai lebih dari 150 gigawatt, dan energi air sekitar 89 gigawatt. Jika dikembangkan secara serius, sumber energi ini dapat mengurangi ketergantungan terhadap BBM sekaligus menekan beban subsidi energi.

Karena itu, meskipun sawit bisa membantu sebagai bahan bakar alternatif, menjadikannya sebagai solusi utama krisis energi mungkin masih terlalu jauh panggang dari api. Masa depan energi Indonesia tampaknya tetap perlu bertumpu pada kombinasi berbagai sumber, termasuk energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan. Setuju, Gez? (Arie Widodo/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengenal Kalender Aboge, Sistem Penanggalan Jawa-Islam yang Masih Bertahan hingga Kini

17 Jul 2026

OSC Award 2026 Umumkan 116 Penerima Beasiswa S1 Penuh, Pendaftar Tembus 7.600 Peserta

17 Jul 2026

Ragam Upacara Adat Jawa dari Kehamilan hingga Kematian, Sarat Makna dan Nilai Kehidupan

18 Jul 2026

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: