BerandaPasar Kreatif
Rabu, 3 Mar 2026 19:08

Tren 'Grading Card', Autentifikasi Kartu Koleksi agar Nilai Jual Lebih Tinggi

Trading card game (TCG) terverifikasi dengan peringkat nyaris sempurna. Dalam dunia kolektor kartu, harganya bisa mencapai jutaan rupiah, tergantung tingkat kelangkaannya. (Cardcollector)

Menjadi tren baru yang populer di kalangan kolektor, grading card atau proses autentifikasi trading card game (TCG) seperti Pokémon, Yu-Gi-Oh!, One Piece, nggak hanya bertujuan untuk mengecek keaslian, tapi juga menambah nilai jualnya.

Inibaru.id - Kalau kamu masih berpikir bahwa mengoleksi kartu karakter gim atau anime seperti Pokémon, Yu-Gi-Oh!, dan One Piece, adalah kerjaan anak-anak, sebaiknya pikir ulang lagi, deh! Alasannya, karena belakangan kartu koleksi juga menjadi barang investasi yang bernilai jual sangat tinggi.

Di pelbagai toko mainan resmi atau pusat penjualan kartu koleksi atau akrab disebut trading card game (TCG), saat ini nggak sulit menemukan orang yang fomo, mencoba mengoleksi kartu karena tergiur oleh nilai jual yang konon bisa mencapai jutaan rupiah per kartu, jika beruntung.

Salah satunya adalah Adrian, lelaki asal Bandung yang ikut-ikutan membeli kartu koleksi dalam sebulan terakhir. Karena harganya sudah melambung tinggi dan termasuk awam di dunia koleksi kartu, dia nggak berani membeli kartu terlalu banyak.

"Nggak ada dalam bayangan bakal koleksi kartu. Nonton Pokémon juga nggak pernah," kata lelaki 38 tahun itu via pesan suara, Selasa (3/3/2026). "Cuman, karena lagi banyak diomongin di tongkrongan, ya sudahlah beli beberapa deck. Toh kalau kartunya jelek semua, masih bisa dikasih anak buat mainan."

Level Baru Mengoleksi Kartu

Meski bilang nggak berani membeli terlalu banyak, Adrian sejatinya telah merogoh kocek nggak kurang dari Rp1 juta untuk "hobi" barunya tersebut. Padahal, kartu-kartu yang dibeli itu adalah raw card atau kartu yang belum di-grading atau dinilai.

Penilaian kartu atau grading card adalah istilah baru yang ngetren di dunia perkartuan. Kartu koleksi, yang umumnya adalah TCG dari gim, manga, anime, serta event populer atau olahraga populer tertentu, perlu mendapatkan penilaian dari perusahaan grading untuk diakui keasliannya.

Beberapa TCG populer saat ini di antaranya adalah koleksi dari One Piece, Pokémon, Yu-Gi-Oh!, dan Plant vs Zombie. Kartu yang belum diverifikasi disebut raw card, sedangkan yang sudah mendapatkan penilaian acap disebut graded card atau kartu berperingkat.

Disebut kartu berperingkat karena selain menilai keaslian, grading card juga memberikan skor untuk kondisi fisik kartu tersebut, umumnya dengan peringkat 1-10. Kartu berperingkat inilah yang bisa menjelma menjadi aset koleksi bernilai jutaan, bahkan miliaran, rupiah. Di sinilah level baru mengoleksi kartu dimulai.

Sekilas tentang Grading Card

Grading card adalah proses autentifikasi dan penilaian kondisi fisik kartu koleksi oleh profesional. Secara global, ada beberapa perusahaan terkenal yang melakukan pekerjaan profesional ini, di antaranya Professional Sports Authenticator (PSA), Beckett Grading Services (BGS), dan CGC.

Dalam proses ini, kartu akan diperiksa secara detail, mulai dari keaslian, kondisi sudut (corners), tepi kartu (edges), permukaan (surface), dan ketepatan potongan cetak (centering). Setelah dinilai, kartu akan diberi skor numerik dari satu hingga 10.

Kartu koleksi yang telah diverifikasi akan diletakkan dalam slab tersegel lengkap dengan penilaiannya. (PSA)

Nilai 10 (Gem Mint) adalah kondisi nyaris sempurna dan menjadi incaran utama kolektor. Kartu kemudian disegel dalam case plastik transparan khusus, sering disebut slab, yang tahan benturan dan memiliki label resmi berisi informasi detail serta nomor sertifikasi atau QR yang bisa di-scan.

Tren grading card ini muncul seiring dengan lonjakan minat terhadap kartu koleksi dalam beberapa tahun terakhir, yang turut memicu peningkatan risiko pemalsuan. Kualitas cetak yang semakin canggih berpotensi membuat kartu asli sulit dibedakan dari kartu palsu yang beredar. Dari sinilah tren verifikasi kartu muncul.

Dari Hobi ke Instrumen Investasi

Nostalgia generasi 90-an, maraknya konten unboxing di media sosial, hingga anggapan kartu sebagai instrumen investasi alternatif, diyakini sebagai pemicu utama lonjakan minat terhadap koleksi kartu. Entah siapa yang memulai, tiba-tiba saja hobi ini dipercaya bisa menjadi ladang baru untuk meraup cuan.

Nggak hanya di Indonesia, tren ini juga terjadi di berbagai negara. Di sinilah penilaian kartu dari lembaga profesional yang dipercaya secara internasional menjadi sangat penting. Kartu-kartu yang dinilai biasanya adalah edisi langka atau rilisan lama yang jarang dimiliki orang.

Jika kartu-kartu tersebut mendapatkan peringkat yang bagus, bukan hal yang mustahil bagi kolektor untuk menebusnya dengan harga yang fantastis. Dari sinilah orang mulai fomo: membeli kartu, menyimpannya dalam kondisi prima, lalu mengirimkannya ke lembaga grading untuk menjualnya kembali dengan harga lebih tinggi.

Dari hobi, mengoleksi kartu pun perlahan beralih menjadi instrumen investasi. Namun, perlu dipahami bahwa nggak semua kartu laik grading, karena prosesnya memerlukan biaya. Jika kartu dinilai rendah, alih-alih untung, biaya grading bisa jadi justru lebih tinggi dari nilai jualnya.

Menghargai Barang Koleksi

Di berbagai medsos di Tanah Air, kini nggak sulit menemukan orang-orang yang memamerkan kartu dengan label PSA 10 atau BGS Black Label sebagai simbol prestise. Nggak hanya di kalangan kolektor, para pesohor seperti influencer, selebgram, bahkan artis pun turut melakukannya.

Kartu koleksi yang berkembang pesat di Indonesia sejauh ini berbasis Pokémon, Yu-Gi-Oh!, One Piece, dan kartu olahraga. Untuk grading, para kolektor umumnya masih menggunakan jasa pengiriman kolektif ke luar negeri karena belum semua perusahaan global tersebut memiliki kantor resmi di Tanah Air.

Kolektor juga bisa memanfaatkan jasa perantara (middleman service) untuk membantu proses pengiriman, pengurusan dokumen, hingga komunikasi dengan perusahaan grading internasional.

Bagi pebisnis, ini mungkin kesempatan mencari untung. Namun, sebagaimana investasi berbasis popularitas pada umumnya, kita nggak pernah tahu fluktuasi pasar ke depan bakal seperti apa atau kapan tren ini bakal berakhir.

Nggak ada yang salah dengan mengoleksi kartu, apalagi melakukan grading untuk menyegel keaslian dan bentuk fisiknya; karena memang begitulah cara terbaik untuk menghargai barang koleksi. Namun, untuk menjadikannya sebagai instrumen investasi, pastikan sudah siap dengan risikonya ya, Gez! (Siti Khatijah/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Wali Kota Agustina Akui Sempat Kewalahan Menangani Banjir Semarang

21 Feb 2026

Bukan Cantik Berwarna-warni, Anggrek Misterius di Hutan Merapi Ini Justru Beraroma Ikan Busuk!

21 Feb 2026

Statistik Catat Hanya Ada 2.591 Tunawisma di Seluruh Jepang

22 Feb 2026

Boleh Nggak Sih Pulang Setelah Tarawih 8 Rakaat di Masjid Lalu Witir di Rumah?

22 Feb 2026

Bersiap Sambut Pemudik, Jateng Akan Kebut Perbaikan Jalan

22 Feb 2026

Arus Mudik Lebaran 2026 dalam Bayang-Bayang Cuaca Ekstrem di Jateng

22 Feb 2026

Deretan Poster Humor Ramadan di Mijen; Viral dan Jadi Spot Ngabuburit Dadakan

22 Feb 2026

Manisnya Buah Tanpa Biji dan Perampokan Kemandirian

22 Feb 2026

Meriung Teater Ketiga 'Tengul' melalui Ruang Diskusi Pasca-pentas

22 Feb 2026

Ini Dokumen Wajib dan Cara Tukar Uang Baru Lebaran 2026 yang Perlu Kamu Tahu!

22 Feb 2026

Mengapa Orang Korea Suka Minum Alkohol dan Mabuk?

23 Feb 2026

Tren Makanan Kukusan Makin Populer, Sehat bagi Tubuh?

23 Feb 2026

Ratusan Jemaah Tiap Hari, Tradisi Semaan di Masjid Agung Kauman selama Ramadan

23 Feb 2026

Bukan Perlu atau Tidak, tapi Untuk Kepentingan Apa Perusahaan Media Adopsi AI

23 Feb 2026

Menelusuri Jejak Sejarah Intip Ketan, Camilan Warisan Sunan Kudus

23 Feb 2026

Akhir Penantian 8 Tahun Petani Geblog Temanggung Berbuah Embung Manis

23 Feb 2026

Viral, Harga Boneka Monyet Punch Naik Gila-gilaan di Internet!

24 Feb 2026

Negara Mana dengan Durasi Puasa 2026 yang Terlama dan Tersingkat?

24 Feb 2026

Menyusuri Peran Para Tionghoa di Kudus via Walking Tour 'Jejak Naga di Timur Kota'

24 Feb 2026

Antisipasi Banjir, Pemkot Semarang akan Rutin Bersihkan Sedimentasi Sungai

24 Feb 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: