BerandaHits
Rabu, 19 Des 2023 17:27

Sudahkah UU TPKS Membantu Korban Kekerasan Seksual Mendapatkan Keadilan?

Ilustrasi: Korban kekerasan seksual masih kesulitan mengakses hukum selama implementasi UU TPKS belum maksimal. (Shutterstock)

UU TPKS yang seharusnya jadi payung hukum untuk korban kekerasan seksual. Tapi sampai sekarang setelahnya disahkan satu tahun lalu belum berdampak positif untuk korban.

Inibaru.id - Setelah melewati perjalanan panjang sejak digagas enam tahun lalu, akhirnya RUU TPKS resmi disahkan menjadi Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS). Upaya ini dilakukan guna memberikan perlindungan dan kapasitas hukum bagi korban kekerasan seksual.

Sayangnya, undang-undang yang digadang mampu memberikan rasa keadilan bagi korban, dalam banyak kasus tidak benar-benar bisa menjadi payung hukum.

Di Jawa Tengah, kasus terhadap perempuan utamanya kekerasan seksual masih tinggi. Data Lembaga Resources Centre untuk Keadilan Jender dan Hak Asasi Manusia (LRC KJ-HAM) mencatat, pada tahun 2022 ada 123 kasus kekerasan. Sekitar 51 persen yang menjadi korban kekerasan tersebut adalah perempuan.

"Perkiraan sudah sekitar 90 lebih kasus kekerasan terhadap perempuan tahun 2023. Tapi belum dipublikasikan karena masih dalam proses penghitungan," kata Direktur LRCKJHAM, Nur Laila Hafidhoh, pada Inibaru.id belum lama ini.

Perempuan yang akrab disapa Laila itu menyebut, data sementara tahun 2023 dengan 2022 tidak berbeda jauh. Kasus kekerasan seksual masih mendominasi dari deretan kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan ke LRCKJHAM.

Direktur LRCKJHAM Nur Laila Hafidhoh memberi sambutan sebelum membuka laporan tahunan kekerasan terhadap perempuan. (Inibaru.id/ Fitroh Nurikhsan)

Adanya UU TPKS memang jadi angin segar. Korban menjadi banyak yang berani speak up. Tapi, implementasi UU TPKS yang belum maksimal dari aparat penegak hukum bikin pendamping dan korban risau.

"Pada UU TPKS kan sebenarnya sudah ada rincian jenis-jenisnya. Tapi kami sering menemui ketidaksepahaman. Misal, menurut kami kasus ini kekerasan seksual, tapi pihak kepolisian malah punya pandangan berbeda," jelasnya.

Jika kasus kekerasan seksual yang menimpa korban anak-anak, kepolisian mudah menjerat pelaku dengan UU Perlindungan Anak. Sedangkan korban orang dewasa masih menjadi persoalan pelik lantaran sampai hari ini belum ada satu kasus pun yang diproses menggunakan UU TPKS.

"Jadi sampai hari ini kasus kekerasan seksual orang dewasa masih sulit," terangnya.

Belum Satu Suara

Kanit PPA Polda Jateng Kompol Munawwarah membeberkan faktor-faktor kurang maksimalnya penerapan UU TPKS. (Inibaru.id/ Fitroh Nurikhsan)

Selain LRCKJAM, Peran Unit Perempuan Anak (PPA) Polda Jawa Tengah juga punya data kasus kekerasan seksual. Sepanjang tahun ini tercatat ada 300 kasus yang dilaporkan. Angka tersebut meningkat sebesar 35 persen dibanding tahun lalu.

Melihat kasus kekerasan seksual sangat memprihatinkan, Kanit PPA Polda Jateng, Kompol Munawwarah, menyadari jika jajarannya dengan lembaga penegak hukum lainnya belum satu suara dalam mengimplementasikan UU TPKS.

"Misal kami mau menerapkan UU TPKS, ternyata di kejaksaan harus beginilah. Terus akhirnya kita putuskan untuk pindah dengan UU lain," imbuh Munawwarah.

Dijelaskan Munawwarah faktor belum maksimalnya implementasi UU TPKS lantaran tidak semua penyidik dari tingkat Polda hingga Polres mendapat sosialiasi tentang ketentuan dan lain-lainnya terkait penggunaan UU tersebut.

Namun dia mengatakan pihak kepolisian tidak diam begitu saja. Sejauh ini dari satuan Bareskrim sering mengadakan pelatihan soal penanganan psikologis awal korban kekerasan seksual.

"Mudah-mudahan PPA berdiri sendiri jadi direktorat agar lebih luas lagi wilayahnya. Kemudian penyidik-penyidik sampai tingkat polres ada pelatihan khususnya," bebernya.

Tak hanya itu, Munawwarah berharap seluruh penegak hukum beserta elemen lembaga yang terfokus pada isu kekerasan seksual dapat duduk bersama agar implementasi UU TPKS dapat lebih optimal.

Sudah seharusnya kasus kekerasan seksual terhadap perempuan ditangani serius oleh semua pihak dan penegakan UU TPKS benar-benar diimplementasikan dengan baik. Jangan biarkan korban dalam memperoleh keadilan berjuang sendiri! (Fitroh Nurikhsan/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Sritex Masuk Rencana Akuisisi Danantara, Ini Tujuan Pemerintah

18 Okt 2026

Warteg on Train, Inovasi Kuliner KAI yang Bikin Penumpang Penasaran

19 Okt 2026

Indonesia Women's League 2026 Resmi Dibuka, Sepak Bola Wanita Indonesia Siap Berkembang

21 Okt 2026

Ghost in the Cell Borong Dua Penghargaan di Sitges Film Festival 2026

22 Okt 2026

Jauh Sebelum Pajak Modern, Jawa Kuno Sudah Punya Sistem Pajak Tanah

23 Okt 2026

Pesawat N219 Buatan Indonesia Siap Terbang Desember 2026

24 Okt 2026

Progres Tol Semarang-Demak Capai 79,42 Persen, Ditarget Rampung 2027

26 Okt 2026

Dari Surabaya, Lahir Seruan Jihad yang menginspirasi Hari Santri Nasional

27 Okt 2026

Mengapa Salatiga Disebut Salah Satu Kota Tertua di Indonesia? Ini Sejarahnya

28 Okt 2026

Menjaga Napas Rawa Gambut yang Kian Rentan Terbakar

29 Okt 2026

Poke Wayang, Ketika Pikachu dan Wayang Kulit Bertemu dalam Satu Panggung

30 Okt 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

8 Tokoh Penting Kongres Pemuda II yang Lahirkan Sumpah Pemuda

28 Okt 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: