BerandaHits
Senin, 7 Des 2025 07:00

Politik Berbiaya Tinggi, Sumanto Sebut Sistem Pemilu Indonesia Sangat Liberal Sejak 2009

Ketua DPRD Jateng, Sumanto saat menjadi pembicara talkshow Optimalisasi Sistem Manajemen Antipenyuapan untuk Mewujudkan Jawa Tengah yang Berintegritas dan Kolaboratif belum lama ini. (DPRD Jateng)

Ketua DPRD Jateng Sumanto menyoroti sistem Pemilu di Indonesia yang dinilai sangat liberal sejak 2009, menjadikannya kompetisi elektoral berbiaya tinggi (high-cost politics).


Inibaru.id – Perdebatan mengenai sistem pemilu yang ideal di Indonesia memang tak pernah usai. Ketua DPRD Jawa Tengah, Sumanto, menyoroti bahwa sejak tahun 2009, Pemilu di Indonesia telah mengalami pergeseran menjadi sangat liberal dan identik dengan praktik politik berbiaya tinggi (high-cost politics).

Hal itu disampaikan Sumanto saat menjadi narasumber Talkshow "Optimalisasi Sistem Manajemen Antipenyuapan untuk Mewujudkan Jawa Tengah yang Berintegritas dan Kolaboratif" di Grhadika Bakti Praja Semarang.

Pertanyaan dari peserta yang menanyakan tingginya biaya yang dikeluarkan calon Kepala Desa saat nyalon menjadi pemicu pembahasan ini.

Kompetisi Liberal dan Proporsional Terbuka

Menurut Sumanto, sistem pemilu akan selalu diperdebatkan. (DPRD Jateng)

Sumanto mengungkapkan bahwa sistem pemilu akan selalu menjadi perdebatan panjang karena menyangkut masalah kompetisi elektoral yang saat ini cenderung liberal.

“Kalau kompetisi berarti liberal. Peraturan kita sebenarnya liberal, termasuk Pilkada dan Pileg. Ini yang menjadi permasalahan,” katanya.

Dia menambahkan, sistem proporsional terbuka yang berlaku saat ini dinilai lebih menguntungkan politisi yang memiliki dukungan finansial tinggi untuk lebih berpeluang memenangkan kursi.

“Perdebatannya mulai tahun 2009 sudah pure liberal UU kita tentang Pilkada, Pileg, Pilpres, sehingga ini akan terjadi perdebatan antara transparansi, jangan pilih kucing dalam karung dan biaya yang besar tadi,” papar Sumanto, mengingatkan bahwa rujukan harusnya tetap pada UUD 1945 dan Pancasila.

Sementara mengenai Pilkades, Sumanto menilai hal itu lebih kepada masalah kultur masyarakat, apalagi sistem yang berlaku saat ini adalah Pilkades melalui coblosan secara langsung. Dia membandingkan dengan sistem Pilkades di masa lalu yang jauh lebih sederhana.

Sumanto menegaskan bahwa para calon dan politisi daerah sebenarnya hanya menjadi pelaku dalam sistem yang sudah ada, sementara penentu kebijakan utama berada di pusat.

“Kalau biayanya mahal, kami juga yang susah sekarang. DPRD, Gubernur, Wakil Gubernur ini kan outsourcing, 5 tahunan dan biayanya mahal,” ujarnya.

Dia berharap ke depan perlu ada penyempurnaan yang mencari sistem Pemilu yang paling cocok diterapkan, dengan Pancasila dan UUD 1945 sebagai rujukan, agar praktik politik berbiaya mahal dapat dihindari. (Ike P/E01)



Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Riset CISDI: Satu Dekade Berlalu, Harga Rokok Tetap Murah, Reformasi Cukai Diperlukan

17 Apr 2026

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: