BerandaTradisinesia
Selasa, 23 Mei 2022 20:02

Wong Kalang di Solo, Jadi Tukang Kayu Andalan Kerajaan

Ilustrasi Wong Kalang, manusia yang ahli perkayuan dan banyak bidang. (Intisari Grid)

Meski sempat hidup terasing, di Solo Wong Kalang mendapat tempatnya. Mereka diangkat menjadi abdi dalem di Keraton Solo. Siapa sangka, di balik imej nggak biasa dari perawakan mereka, Wong Kalang sangat berbakat dalam pembangunan dan perkayuan.

Inibaru.id – Suku Kalang atau yang biasa disebut sebagai “Wong Kalang” adalah salah satu subsuku di Jawa. Wong Kalang disinyalir sudah mendiami Pulau Jawa sejak zaman kerajaan-kerajaan di Nusantara, bahkan ada yang menyebut sebelum Hindu masuk ke wilayah ini. Sayangnya, mendiami satu tempat untuk waktu yang lama nggak lantas membuat mereka diterima.

Maklum, mereka memiliki perawakan tegap dan kuat. Menurut mitos, mereka berwujud seperti anjing dengan ekor panjang. Penampilan yang "lain" inilah yang bikin mereka berbeda nggak bisa berbaur dengan masyarakat mayoritas. Mereka akhirnya menyingkir ke dalam hutan dan hidup di sana.

Nah, ketika zaman Kerajaan Hindu, mereka nggak memiliki kasta. Konsekuensi yang harus mereka tanggung adalah semakin nggak bisa menjalin hubungan dengan masyarakat lainnya. Dahulu, orang yang nggak berkasta dilarang berhubungan dengan orang berkasta, sekalipun dengan kasta terendah (sudra).

Meski begitu, keberadaan Wong Kalang dimanfaatkan Kerajaan Majapahit untuk proyek-proyek berskala besar seperti penebangan pohon, juru angkut, hingga prajurit di medan perang.

Persebaran Wong Kalang cukup luas di Jawa, mulai dari Cilacap, Gombong, Kebumen, Kendal, Yogyakarta, hingga Solo. Di Solo, kamu dapat menemukan jejak mereka di Lojen Sasana Mulyo. Katanya, rumah bagi putra raja ini dibangun oleh Wong Kalang.

Wong Kalang si Tukang Kayu Andalan Keraton Solo

Keterasingan Wong Kalang nyatanya nggak berlangsung selamanya. Di Solo, tepatnya Kalangan, Kelurahan Jagalan, Jebres, Solo, Wong Kalang tinggal menempati hunian dan dapat membaur bersama masyarakat beragam suku dan budaya. Permukiman tersebut berisi para abdi dalem Kalang asli yang ikut membangun Keraton Solo.

Lojen Sasana Mulyo, sebuah rumah putra raja yang pembangunannya dilakukan oleh Wong Kalang. (Local GuidesC onnect/PrasetyoBWidagdo)

Dahulu, Wong Kalang memang sengaja diberdayakan untuk ikut dalam pembangunan Keraton Solo. Salah satu bangunan peninggalan Wong Kalang yang sampai saat ini masih berdiri gagah adalah Lojen Sasana Mulyo, sebuah rumah bagi putra raja. Wong Kalang memang dikenal mahir dalam kemampuan pembangunan dan seni ukir kayu.

Sosialisasi yang dilakukan Wong Kalang di Solo nggak terjadi secara masif. Tetap butuh proses bagi mereka dan masyarakat untuk saling menerima. Awalnya, satu persatu kerabat dari kampung datang, kemudian disusul yang lainnya. Setelah banyak dari mereka yang berkumpul di satu tempat, terbentuklah satu wilayah Kalangan.

Wong Kalang Masa Kini

Di era modern seperti sekarang, banyak Wong Kalang yang sudah memeluk agama dan kepercayaan sah di Indonesia. Hal ini sangat berbeda dengan kemunculannya terdahulu pada masa kerajaan. Selain itu, mereka juga bergaul baik dengan masyarakat lain, juga dalam hal pernikahan.

Banyak dari Wong Kalang mau menerima orang-orang yang berasal dari luar suku mereka. Yang pasti, dari kamus Javaansch derduitsch Woordenbook (Gericke Roorda, 1847) diketahui bahwa Wong Kalang dianggap sebagai kelompok manusia yang hidup dan mati di Surakarta atau yang saat ini disebut Kota Solo. Sebetulnya, banyak keahlian yang dimiliki Wong Kalang, mulai dari membuat cambuk hingga menjadi pandai besi.

Wah, Wong Kalang sangat multitasking sekali ya, Millens? (Sol,Mer,Rad,Kom/IB31/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengulik Filosofis Naga Jawa dalam Kosmologi Masyarakat Jawa Kuno

2 Jun 2026

Prabowo Copot Dadan Hindayana dari Kepala BGN, Nanik S Deyang Ditunjuk sebagai Pengganti

3 Jun 2026

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

15 Jun 2026

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

15 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: