BerandaTradisinesia
Kamis, 20 Des 2017 00:13

Rasa Syukur Orang Osing dalam “Selametan Sawah”

Membaca doa di uwangan (pintu air) yang menjadi prosesi utama pada ritual “selametan sawah” orang Osing di Banyuwangi. (lulianstudiolab.wordpress.com)

Mensyukuri sawah yang menumbuhkan padi, orang Osing di Banyuwangi melakukan beberapa selametan. Ini wujud pelestarian tradisi leluhur dan cara mengagungkan Pencipta padi.

Inibaru.id – Orang Baduy di Lebak, Banten punya tradisi Selamatan Padi sebagai rasa syukur atas hasil pertanian mereka. Hampir serupa, orang Using di Banyuwangi, Jawa Timur juga punya beberapa tradisi yang berhubungan dengan pertanian. Maklum, masyrakat using umumnya agraris. Di Banyuwangi mereka  menempati daerah di Kecamatan Giri, Glagah, Licin, Kabat, Rogojampi, Singojuruh, dan beberapa kecamatan lain yang bercampur antara masyarakat Using dengan suku lain. Umumnya mereka hidup dari sawah.

Nggak heran, tradisi dan kesenian mereka nggak jauh-jauh dari aktivitas agraris seperti tradisi Seblang, Kebo-keboan dan kesenian Gandrung yang menjadi induk kesenian Banyuwangi juga merupakan kesenian yang lahir dari kaum petani.

Perlu Sobat Millens simak, Seblang dan Kebo-keboan merupakan ritual yang dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat petani atas limpahan hasil pertanian kepada Yang Mahakuasa. Ritual tahunan ini menjadi tradisi yang melekat pada masyarakat Using dan diadakan secara kolektif dan gotong royong oleh masyarakat desa.

Seblang dilaksanakan oleh masyarakat Desa Olehsari dan Bakungan, sedangkan Kebo-Keboan dilakasanakan oleh masyarakat Desa Alasmalang dan Desa Aliyan. Masyarakat desa tersebut secara gotong royong  sadar untuk melaksanakan tradisi yang menjadi warisan leluhurnya.

Selain secara sosial, petani Osing juga memiliki tradisi yang dilaksanakan secara individual sebagai ungkapan syukur dan harapan atas lahan pertanian yang mereka garap, yaitu ritual Selametan Sawah.

Ya, Selametan Sawah, menjadi kebiasaan para petani Using yang sedang menggarap sawahnya. Sebagian besar petani Osing menanami sawahnya dengan tanaman padi. Pada setiap tahap pertumbuhan padi, pemilik sawah melakukan selametan baik sebelum tanam, masa tanam, maupun panen. Setiap tahap ritual selametan merupakan sebuah harapan kepada Dewi Sri agar diberikan berkah selama menanam padi. Walaupun masyarakat Using pemeluk Islam, namun tradisi leluhur ini masih melekat dan masih dilaksanakan oleh para petani.

Baca juga:
Pesta Syukur Suku Jerieng di Bumi Sejiran Setason
Kala Jokowi Berkurban “Anak Ayam” untuk Kahiyang

Berikut beberapa ritual Selametan Sawah yang biasa dilakukan petani Using.

1. Selametan Adeg-adeg

Ritual ini dilakukan pada awal musim tanam padi, biasanya dilakukan oleh petani dengan cara gotong royong bersama kerabat dan tetangga dengan sajian khas sego adeg-adeg atau sego urap. Doa-doa dipanjatkan disertai dengan kemenyan sebagai pelengkap ritual, setelah itu dilakukan penanaman padi secara simbolis.

2. Selametan Labuh Tandur

Ritual ini dilakukan pada saat menanam padi. Sebelum menanam padi petani biasanya meletakkan sajian berupa makanan dan kinangan pada uwangan (saluran irigasi pada sawah). Uwangan, bagi petani memiliki peran yang sangat vital, hingga mereka menyebutnya sebagai endase sawah (kepalanya sawah). Pada masa tanam, air sangat dibutuhkan sebagai upaya melancarkan pertumbuhan padi, sehingga uwangan yang menjadi pintu air di setiap bidang lahan sawah yang dimiliki oleh setiap petani harus diberi sajian. Hal ini bertujuan agar selama proses pengairan diberi kelancaran.

3. Selametan Nyelameti Pari

Ritual ini dilakukan pada saat bulir padi mulai berisi atau masyarakat biasanya menyebut istilah melecuti. Selametan dilakukan sebagai tujuan agar terhindar dari serangan hama. Pada saat inilah biasanya kiling yaitu kincir angin tradisional khas suku Osing mulai dipasang atau dipanjer untuk mengusir burung yang memakan padi sekaligus sebagai penyalur hobi para petani Osing.

Baca juga:
Jaran Goyang, Santet Asmara Orang Osing
Jamasan Topeng Ireng untuk Regenerasi

4. Selametan Panen atau Nggampung

Selametan puncak dilakukan pada masa panen dengan mengundang kerabat dan tetangga pemilik sawah. Pecel pitik sebagai sajian khas Banyuwangi menjadi sajian utama. Petani pemilik sawah biasanya juga mengundang Angklung Paglak yaitu kesenian kegemaran para petani Osing yang terdiri atas dua angklung dan dua gendang kecil yang dimainkan di sebuah gubuk setinggi 10-15 meter yang disebut paglak. Menanggap Angklung Paglak saat ini sudah sangat jarang dilakukan oleh para petani, mengingat harus mengeluarkan biaya tambahan. Ritual selametan pada saat nggampung merupakan ungkapan rasa syukur pada hasil panen yang telah diberikan.

Nah, tradisi bersyukur itu selalu bagus, bukan? Sudahkah kamu selalu mensyukuri apa yang kamu peroleh? (EBC/SA)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

HP Gratis dengan Rekening Digital Diusulkan untuk Penyaluran Bansos

15 Okt 2026

Dari Jepara ke Sarajevo, Merawat Ukiran dan Diplomasi yang Tak Selesai di Meja Pertemuan

16 Okt 2026

Sritex Masuk Rencana Akuisisi Danantara, Ini Tujuan Pemerintah

18 Okt 2026

Warteg on Train, Inovasi Kuliner KAI yang Bikin Penumpang Penasaran

19 Okt 2026

Indonesia Women's League 2026 Resmi Dibuka, Sepak Bola Wanita Indonesia Siap Berkembang

21 Okt 2026

Ghost in the Cell Borong Dua Penghargaan di Sitges Film Festival 2026

22 Okt 2026

Jauh Sebelum Pajak Modern, Jawa Kuno Sudah Punya Sistem Pajak Tanah

23 Okt 2026

Pesawat N219 Buatan Indonesia Siap Terbang Desember 2026

24 Okt 2026

Progres Tol Semarang-Demak Capai 79,42 Persen, Ditarget Rampung 2027

26 Okt 2026

Dari Surabaya, Lahir Seruan Jihad yang menginspirasi Hari Santri Nasional

27 Okt 2026

Mengapa Salatiga Disebut Salah Satu Kota Tertua di Indonesia? Ini Sejarahnya

28 Okt 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

8 Tokoh Penting Kongres Pemuda II yang Lahirkan Sumpah Pemuda

28 Okt 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: