BerandaTradisinesia
Rabu, 23 Sep 2025 15:01

Golok-Golok Mentok dan Kemeriahan Maulid Nabi di Desa Demaan Kudus

Kirab golok-golok mentok di Desa Demaan (Inibaru.id/ Imam Khanafi)

Kirab Golok-Golok Mentok sebagai bagian dari perayaan Maulid Nabi di Desa Demaan, Kudus, kembali semarak dengan ribuan 'golok mentok', keranjang berisi makanan yang diperebutkan warga sebagai simbol kebersamaan, syukur, dan pelestarian budaya lokal.

Inibaru.id - Udara pagi di Desa Demaan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, terasa berbeda pada Jumat (5/9/2025). Sejak matahari baru menanjak, gang-gang kampung sudah riuh oleh lantunan selawat dan tabuhan terbang papat—rebana khas Kudus yang ritmenya membangkitkan ingatan pada tradisi lama.

Ratusan warga, dari anak-anak hingga dewasa, tumpah ruah memenuhi jalan. Mereka membawa gunungan berisi ribuan golok-golok mentok, wadah bambu berisi makanan yang namanya merupakan simbol penajaman kesadaran untuk meneladani Rasulullah.

Di halaman Masjid Al-Mubarok, pusat awal kirab, suasana begitu semarak. Empat masjid di Desa Demaan masing-masing menyiapkan gunungan golok-golok mentok yang menjulang, seolah menantang langit biru. Di antara aroma dupa dan bunga yang dibawa sebagian jemaah, tabuhan rebana menggema bersahutan.

“Bismillah, mari kita berangkat,” ujar salah seorang takmir masjid setelah doa bersama dan pembacaan selawat. Serentak, iring-iringan pun bergerak menyusuri rute yang telah ditentukan: melewati Perempatan Kojan, menuju Alun-Alun Simpang Tujuh, melintasi Jalan Masjid, lalu kembali lagi ke titik awal.

Syukur, Cinta, dan Tolak Bala

Dulu, keranjang bambu dalam Kirab Golok-Golok Mentok di Desa Demaan ini berisikan nasi dan ketan, tapi kini diubah menjadi jajanan kemasan. (Inibaru.id/ Imam Khanafi)

Kirab golok-golok mentok bukan sekadar arak-arakan meriah. Di setiap gunungan, masyarakat menata ribuan golok kayu berisi aneka jajanan kemasan dan makanan ringan.

Ketua panitia kirab, Ubaidillah Andoko mengatakan, dulu golok-golok ini berisi nasi dan ketan; santapan sederhana yang melambangkan rezeki serta kebersamaan. Namun, sekarang isinya sudah banyak dimodifikasi menyesuaikan zaman.

"Meski berbeda isi, misi yang diusung tetaplah sama, yakni perlambang rasa syukur, ungkapan cinta kepada Nabi Muhammad SAW, dan tolak bala," tuturnya.

Dia menyebut, meski sempat beberapa tahun vakum, tradisi ini sejatinya sudah dilangsungkan sejak lama. Untuk tahun ini, tercatat ada sekitar 1.300 golok mentok yang dibuat oleh masyarakat. Nggak kurang dari 400 warga berpartisipasi dalam kegiatan ini.

"Kirab tahun ini menjadi penyelenggaraan keempat setelah dihidupkan kembali," tuturnya di sela-sela acara. “Pada masa awal, para tokoh agama setempat mengumpulkan santri untuk membuat golok-golok mentok sebagai simbol kebersamaan dan kesatuan."

Dipenuhi Doa dan Harapan

Meski sebagian besar golok-golok mentok sudah dimodifikasi, masih ada yang melestarikan tradisi dengan menyajikan ketan. (Inibaru.id/ Imam Khanafi)

Sepanjang rute kirab, warga yang berdiri di pinggir jalan nggak henti melantunkan selawat. Anak-anak menatap takjub pada gunungan yang dikirab, sementara para orang tua menebar senyum dan salam. Sementara, terbang papat mengiringi langkah rombongan.

Rombongan yang merambat pelan menciptakan irama yang membuat setiap detik terasa sakral sekaligus meriah. Dari atas balkon rumah-rumah tua di sepanjang jalan, beberapa orang tampak mengibaskan kain sebagai tanda keberkahan.

Setibanya kembali di Masjid Al-Mubarok, rangkaian acara dilanjutkan dengan mahalul qiyam, momen penuh khidmat ketika seluruh jamaah berdiri sebagai bentuk penghormatan kepada Rasulullah SAW. Setelah itu, ribuan golok-golok mentok ditata di serambi masjid.

"Setelah prosesi rampung, warga yang sudah menunggu sejak pagi akan bersiap menyambut puncak acara, yakni rebutan gunungan," tuturnya sebelum memberi aba-aba untuk momen paling ditunggu masyarakat tersebut.

Suasana yang Penuh Tawa

Ada ribuan keranjang yang tersedia dalam Kirab Golok-Golok Mentok di Desa Demaan tahun ini. (Inibaru.id/ Imam Khanafi)

Teriakan gembira pecah saat panitia memberi aba-aba. Anak-anak berlarian. Para remaja dan orang dewasa yang turut berebut pun nggak kalah lincah. Mereka "berseteru" dalam tawa, saling berebut jajanan yang menjadi simbol berkah.

Meski sempat riuh, suasananya tetap cair, penuh tawa dan kehangatan. “Yang penting dapat berkahnya, bukan hanya isinya,” celetuk seorang ibu yang mencoba beringsut keluar dari kerumunan sambil mengemban putrinya dengan satu tangan, sementara tangan satunya menenteng erat satu golok mentok.

Bagi masyarakat Demaan, kirab golok-golok mentok bukan hanya perayaan Maulid Nabi, melainkan juga ruang perjumpaan sosial. Di balik kemeriahan, tersimpan pesan tentang pentingnya menjaga ukhuwah islamiyah.

“Kami berharap tradisi ini tidak hanya menjadi simbol meriah peringatan Maulid Nabi, tetapi juga memperkuat silaturahmi antarwarga. Semoga tahun-tahun berikutnya bisa lebih semarak dan memberi manfaat,” kata Ubaidillah penuh harap.

Budaya dan Agama yang Berjalan Beriringan

Golok-golok mentok juga bisa berisikan nasi lengkap dengan lauknya. (Inibaru.id/ Imam Khanafi)

Tradisi ini dimaknai Ubaidillah dan tentu saja para panitia lain dan warga Demaan yang turut memeriahkan tradisi ini sebagai penanda bahwa budaya dan agama dapat berjalan beriringan. Di tengah arus modernisasi, warga Demaan membuktikan bahwa warisan leluhur bisa terus lestari.

Dengan sejumlah penyesuaian, tradisi yang sempat mati suri pun bisa dihidupkan kembali. Tetap khidmat tanpa kehilangan makna. Golok-golok mentok yang dulunya berisi nasi kini berganti jajanan kemasan, tetapi semangat kebersamaan yang menyertainya tetap sama.

Menjelang sore, saat jalanan kembali lengang, sisa-sisa kegembiraan masih terasa di udara. Di sudut-sudut gang, anak-anak memamerkan hasil yang mereka kutip, sementara para orang tua berbincang santai tentang rencana tahun depan.

Kirab golok-golok mentok sekali lagi membuktikan dirinya bukan sekadar ritual tahunan, melainkan jembatan waktu yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan Desa Demaan. Mari meriahkan tradisi ini tahun depan, Gez! (Imam Khanafi/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Riset CISDI: Satu Dekade Berlalu, Harga Rokok Tetap Murah, Reformasi Cukai Diperlukan

17 Apr 2026

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: