BerandaKulinary
Rabu, 19 Des 2017 01:19

Nasi Liwet Solo, Lebih dari Sekadar Makanan Sehari-hari

Nasi liwet Solo. (Detik Food)

Nggak hanya menjadi makanan sehari-hari, nasi liwet Solo juga hadir dalam upacara dan perayaan. Rasanya yang pulen dan gurih pun menjadikannya banyak disukai para pencinta kuliner.

Inibaru.id - Indonesia memiliki beraneka ragam olahan nasi. Dari Sabang sampai Merauke hampir semua memiliki olahan nasi yang khas daerahnya. Wajar saja, karena nasi merupakan makanan pokok Indonesia. Salah satu olahan nasi yang terkenal adalah nasi liwet Solo.

Buat kamu yang belum tahu, nasi liwet adalah nasi gurih (dimasak dengan santan kelapa) yang mirip nasi uduk dan disajikan dengan sayur labu siam, suwiran ayam,telur rebus opor, aneka lauk ayam dan areh. Merupakan endapan atau gumpalan santan, areh inilah yang menjadi ciri khas nasi liwet Solo. Nggak hanya menambah gurih, areh juga memiliki protein yang tinggi seperti daging.

Keunikan lain dari nasi liwet Solo adalah cara penyajiannya yang menggunakan pincuk atau piring beralaskan daun pisang. Memiliki tekstur yang pulen dan gurih, nasi liwet menjadi salah satu dari 30 Ikon Kuliner Tradisional Indonesia. Nggak hanya disukai pencinta kuliner dalam negeri saja, bule-bule luar negeri pun menyukainya, lo.

Tapi tahukah kamu, kenapa dinamai nasi liwet?

Baca juga:
Sensasi Unik Lempah Kuning khas Pulau Bangka
Makan Sotonya, Gunting Sendiri Lauknya

Mengutip dari Kompas.com (10/6/2017), liwet sebenarnya merupakan cara memasak, bukan sebuah produk. Jadi kalau namanya nasi liwet, berarti nasi yang menggunakan teknik liwet. Proses ngliwet sendiri merupakan teknik memasak nasi dengan cara mencampur beras dan air, bisa air putih ataupun air santan, dalam satu tempat khusus. Tempat tersebut bisa ketel, kastrol, atau dandang dan dimasak di sana hingga matang, sama seperti prinsip rice cooker di zaman modern.

Namun, ngliwet juga identik dengan memasukkan bumbu seperti daun salam dan garam ke nasi dan air yang sedang dimasak. Setelah proses ngliwet itulah, kemudian diberikan aneka lauk pauk. Selain Solo, sebenarnya banyak daerah yang mengolah nasinya dengan cara diliwet, seperti nasi lemak di Sumatera, nasi uduk di Jakarta, nasi wuduk di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Bagi orang kota Solo, nasi liwet ini sudah menjadi makanan sehari-hari. Bisa dimakan  untuk sarapan hingga makan malam. Selain itu, nasi liwet Solo juga sering menjadi bagian sakral dari rangkaian upacara dan banyak perayaan. Misalnya dalam midodareni, acara Maulid Nabi Muhammad hingga upacara nyadranan (perayaan panen).

Nah, jika kamu datang ke kota Bengawan, nggak sulit untuk menemukan penjual nasi liwet. Biasanya nasi liwet dijajakan berkeliling dengan bakul bambu yang digendong oleh ibu-ibu atau dijual di warung lesehan di pinggir jalan. Harga yang ditawarkan pun cukup terjangkau, mulai dari Rp 8 ribu untuk per porsi nasi liwet, tergantung pilihan lauknya.

Namun jika kamu merasa kesusahan menemukan penjual nasi liwet, datanglah ke area dekat Mangkunegaran atau Solo Baru yang menjadi tempat konsentrasi penjual nasi liwet. Namun jika kamu ingin merasakan nasi liwet yang “asli” datanglah ke Baki, daerah nasi liwet Solo berasal.

Baca juga:
Di sini Kuliner Ini Biasa, Di Belanda Itu Luar Biasa
Menikmati Lontong Balap dan Legendanya

Yup, tepatnya dari Desa Menuran, Kecamatan Baki, Sukoharjo, nasi liwet Solo ternyata lahir dari kalangan biasa,  Awalnya warga membuatnya dengan tujuan konsumsi pribadi dan dijual kepada masyarakat Solo sekitar tahun 1934. Sampai akhirnya Mangkunegaran tertarik dan menjadi santapan mereka juga.

Adapun saat ini, nasi liwet menjadi tren di kalangan masyarakat, termasuk di perkotaan. Mereka memakannya beramai-ramai atau biasa disebut bancakan (Jawa) yaitu mengkonsumsi nasi liwet bersama-sama dengan duduk berderet secara lesehan. Nasi dan lauk tersebut disajikan di atas daun pisang. Tertarik mencobanya? (ALE/SA)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Belajar dari Burung Dodo: Ketika Dunia Berubah, Bertahan Saja Tidak Cukup

1 Mei 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: