BerandaHits
Sabtu, 6 Mar 2026 10:57

'Bom Nuklir' dan 'Perdamaian' yang Viral di Tengah Eskalasi Konfik Timur Tengah

Dua lagu lawas Nasida Ria kembali viral di tengah konflik Iran versus AS-Israel. (Instagram/Nasidariasemarang)

'Bom Nuklir' dan 'Perdamaian', dua lagu andalan grup musik kasidah legendaris Nasida Ria yang viral di medsos di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah adalah penanda bahwa dunia nggak banyak berubah dan kita nggak banyak belajar dari perang, bahkan setelah empat dekade berlalu.

Inibaru.id - Ekskalasi konflik di Timur Tengah yang terjadi karena aksi saling serang antara AS-Israel versus Iran membuat potongan lagu lawas Nasida Ria kembali berseliweran di media sosial, termasuk di antaranya lagu "Perdamaian" dan "Bom Nuklir" yang menceritakan tentang pentingnya menghindari perang.

Nggak hanya oleh kaum milenial dan sebelumnya, para gen Z yang secara usia nggak beririsan langsung dengan kedua lagu tersebut juga memakai potongan lagu-lagu ikonik ini sebagai musik latar unggahan mereka di media sosial.

Sedikit informasi, "Bom Nuklir" dirilis perdana pada 1990, sedangkan "Perdamaian" sekitar 1980-an. Kedua lagu sempat dirilis ulang setelahnya. Lagu terakhir juga pernah di-remake oleh Gigi pada 2004. Kendati begitu, tetap saja, keduanya bukanlah lagu populer yang seharusnya familiar di telinga zilenial pada umumnya.

Namun, mereka yang menjadikan "Bom Nuklir" dan "Perdamaian" sebagai musik pengiring postingan besar kemungkinan bukan sedang bernostalgia, tapi lantaran lirik-liriknya mengekspresikan kecemasan yang sama yang kita rasakan saat ini: situasi perang terbuka dan dampak besar yang ditimbulkannya.

Zuhad Mahdi, perwakilan dari pihak manajemen Nasida Ria menilai, fenomena ini menunjukkan bahwa pesan dari karya legendaris tersebut masih relevan dan mampu berbicara kepada generasi sekarang. Menurutnya, kedua lagu tersebut adalah sebuah kritik untuk para pemimpin dunia saat itu.

"Mengingat sang pencipta lagu, yakni Kiai Bukhori Masruri, telah wafat, kami dari pihak manajemen hanya bisa menyampaikan makna dari kedua lagu tersebut berdasarkan interpretasi kami," tuturnya saat dihubungi Inibaru.id, Kamis (5/3/2026).

Paradoks dalam Politik Global

Lagu "Perdamaian", Zuhad menjelaskan, sejak awal memang lahir sebagai kritik terhadap para pemimpin dunia. Liriknya menggambarkan paradoks yang kerap terjadi dalam politik global yang banyak bicara tentang perdamaian, tapi justru terlibat dalam konflik yang menimbulkan kerusakan dan penderitaan.

"Bicara perdamaian, tapi secara bersamaan justru bergerak ke arah sebaliknya. Mereka pula yang kerap melakukan kerusakan (peperangan)," ucapnya.

Salah satu konflik yang menuai perhatian publik secara luas tentu saja adalah agresi berujung genosida yang dilakukan Israel terhadap Palestina, yang selama puluhan tahun menjadi salah satu sumber ketegangan dunia, bahkan hingga sekarang.

Lagu tersebut diciptakan sebagai pengingat bahwa perdamaian nggak boleh berhenti pada slogan politik semata, tapi juga harus diwujudkan secara nyat agar manusia sipil yang nggak tahu apa-apa nggak terus-menerus menjadi korban kekerasan.

"Kami ingin semua pemimpin dunia mau mendengarkan, mengambil jalan perdamaian," ungkap Zuhad. "Kami berharap lagu 'Perdamaian' terus diputar agar pesannya benar-benar sampai, dari kalangan bawah hingga para pengambil kebijakan."

Diciptakan oleh Sosok Visioner

Menurut Zuhad, Kiai Bukhori Masruri sebagai sang pencipta lagu merupakan figur yang visioner. Meski lebih dikenal sebagai tokoh agama, kemampuannya menciptakan lirik yang menggigit dalam "Bom Nuklir" sangatlah menarik, mengingat tema tersebut masih belum lazim untuk musik kasidah pada era 1990-an.

Ketertarikan Bukhori pada berbagai bacaan ilmiah, dia melanjutkan, besar kemungkinan menjadi salah satu alasan lahirnya lagu tersebut. Dia bercerita, semasa hidup mendiang Bukhori gemar membaca jurnal dan buku tentang fisika, kimia, serta ilmu alam.

"Beliau memahami betul dampak kehancuran dari bom nuklir. Jika sampai perang berkecamuk, kehidupan manusia bisa benar-benar hancur seperti digambarkan dalam lirik lagu itu," tuturnya.

Zuhad menilai, kembali viralnya lagu-lagu tersebut di media sosial menjadi tanda bahwa pesan yang disampaikan lewat syair masih diterima masyarakat. Di tengah situasi global yang memicu kecemasan, fenomena ini mereka lihat sebagai bentuk refleksi bersama publik.

"Kami ciptakan lagu sebagai sebuah pesan. Saat di-repost atau jadi latar suara, kami senang karena berarti pesannya tersampaikan," paparnya. "Situasi sekarang membuat kita semua sedih dan cemas. Setidaknya pesan dari lagu-lagu kami masih bisa mewakili (rasa sedih dan cemas itu)," tandasnya.

Lirik lagu "Perdamaian" dan "Bom Nuklir" yang masih relevan hingga sekarang adalah pertanda bahwa situasi politik dunia nggak banyak berubah; kita masih berperang atas nama perdamaian dan merasa bahwa senjata adalah satu-satunya jalan menuju kekuasaan, bahkan setelah hampir empat dekade berlalu. (Sundara/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengenal Kalender Aboge, Sistem Penanggalan Jawa-Islam yang Masih Bertahan hingga Kini

17 Jul 2026

OSC Award 2026 Umumkan 116 Penerima Beasiswa S1 Penuh, Pendaftar Tembus 7.600 Peserta

17 Jul 2026

Ragam Upacara Adat Jawa dari Kehamilan hingga Kematian, Sarat Makna dan Nilai Kehidupan

18 Jul 2026

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: