BerandaInspirasi Indonesia
Selasa, 3 Mar 2026 13:46

Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto, Jemaah Maiyah yang Lantang Kritik Program MBG

Penulis:

Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto, Jemaah Maiyah yang Lantang Kritik Program MBGSundara
Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto, Jemaah Maiyah yang Lantang Kritik Program MBG

Sosok Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto saat menjadi salah satu pembicara di Forum Maiyah Gamblang Syafaat Kota Semarang. (Inibaru.id/ Sundara)

Dikenal lantang mengkritik program MBG, Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto yang juga merupakan jemaah Maiyah ini mengaku lulus dengan ijazah Paket C, lantaran sebelumnya menempuh jalur pendidikan non-formal, yakni PKBM Omah Dongeng Marwah di Kudus.

Inibaru.id - Nama Tiyo Ardianto belakangan ramai diperbincangkan di jagat maya. Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta itu menjadi sorotan setelah lantang mengkritik program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan nggak ragu menyuarakan sikapnya di ruang publik.

Lelaki kelahiran Kudus tersebut juga berani melabeli program unggulan Prabowo-Gibran tersebut sebagai "Maling Berkedok Gizi". Selain itu, dia juga sempat mengirim surat ke Unicef terkait kasus tragis yang menimpa seorang siswa SD di NTT. Langkah-langkah itu membuat namanya semakin melambung tinggi.

Sikap-sikap kritis tersebut rupanya nggak datang tanpa konsekuensi. Tiyo mengaku menerima berbagai teror dari pihak nggak dikenal. Bukan hanya dirinya, keluarga dan sejumlah pengurus BEM UGM pun menerima teror intimidasi serupa.

Alih-alih mundur, Tiyo justru makin aktif menyuarakan kritiknya. Dia rutin mendatangi berbagai forum diskusi, termasuk Forum Maiyah Gamblang Syafaat di Kota Semarang pada Jumat (27/2/2026) lalu; apalagi jika bukan untuk kembali mengkritisi program MBG?

MBG Rampas Anggaran Pendidikan

Tiyo dengan tegas menyimpulkan bahwa keberadaan MBG saat ini lebih kental dengan nuansa politik ketimbang substansi untuk perbaikan gizi. Kesimpulan ini didapat setelah menyoroti persoalan di lapangan, mulai kasus keracunan, kualitas menu yang kurang layak, hingga isu pemangkasan anggaran pendidikan.

"Yang harus kita ingat, MBG ini merampas anggaran pendidikan. Kita boleh pro dan kontra, tapi faktanya pendidikan kita masih punya banyak problem terutama akses masyarakat ke perguruan tinggi baru sekitar 15 persen," ujar Tiyo di hadapan jemaah Maiyah yang hadir.

Selain itu, menurutnya, ketepatan sasaran penerima MBG juga perlu dipertanyakan. Jika tujuan awalnya untuk menangani stunting dengan menyasar ibu hamil dan bayi, menurutnya distribusi kepada pelajar SD hingga SMA saat ini patut dievaluasi karena menurutnya nggak sepenuhnya relevan.

Lebih dari itu, dia juga kurang sependapat dengan dalih bahwa program MBG akan menjadi cara yang bisa memeratakan ekonomi di tingkat akar rumput, karena faktanya pembangunan SPPG di lapangan lebih realistis dijalankan oleh pihak bermodal besar saja.

"Kritik ini bukan berarti saya membenci program MBG," tutur mahasiswa Filsafat UGM itu dengan gayanya yang khas. "Sikap tersebut lahir dari kekhawatiran saya atas pemborosan anggaran negara serta dugaan politisasi program demi kepentingan kekuasaan jangka panjang."

Aktif sebagai Jemaah Maiyah

Perlu kamu tahu, Tiyo merupakan mahasiswa UGM angkatan 2021 yang dikenal telah aktif dalam berbagai gerakan mahasiswa di kampus, sebelum didapuk sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM, posisi yang cukup berpengaruh dalam struktur kemahasiswaan.

Di luar kampus, Tiyo juga aktif sebagai jemaah Maiyah, forum diskusi yang digagas budayawan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun. Ruang tersebut menjadi tempatnya menempa gagasan sekaligus memperluas perspektif sosial.

"Bagi saya, UGM itu kampus sampingan. Maiyah adalah universitas utamanya," celetuk pemuda asal Kudus tersebut, yang segera disambut ledakan tawa oleh jemaah lain.

Sebelum hijrah ke Yogyakarta, Tiyo mengenyam pendidikan di kampung halamannya, yakni di Kota Kretek. Namun, bukan di sekolah formal, melainkan jalur pendidikan alternatif di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Omah Dongeng Marwah (ODM) Kudus.

Lulus dengan Ijazah Paket C

Di Jawa Tengah, ODM Kudus termasuk salah satu pusat pendidikan alternatif yang cukup termasyhur. PKBM yang didirikan pada 2014 lebih banyak menekankan pada eksplorasi bakat dan minat melalui sanggar belajar serta pendidikan kesetaraan, salah satunya melalui dongeng yang menumbuhkan imajinasi dan daya kritis.

"Saya lulus dengan ijazah Paket C," terang Tiyo.

Dikutip dari akun Instagram pribadinya, dia sempat mengatakan bahwa memutuskan untuk menempuh pendidikan alternatif di sekolah alam ODM setelah lulus SMP bukanlah hal mudah. Keputusan itu penuh risiko batin, karena stigma terhadap lulusan Paket C cukup menyesakkan.

Dia mengaku harus berdiskusi panjang dengan orang tuanya untuk meyakinkan bahwa pilihan tersebut layak. Meski sempat diragukan, langkahnya membuahkan hasil setelah diterima di UGM, kampus yang dikenal sebagai salah satu perguruan tinggi paling bergengsi di Indonesia.

"Setiap ditanya sekolah mana, saya selalu bangga menjawab, ‘Di sekolah alam ODM’. Begitu saja. Kadang saya tidak merasa wajib menjelaskan lebih jauh, karena beberapa orang memang tak benar-benar ingin tahu apa itu," kelakarnya.

Pencapaian tinggi yang diraih Tiyo saat ini membuktikan bahwa stigma negatif bukanlah sebuah kebenaran hingga ia benar-benar terbukti. Keberaniannya mengambil keputusan sendiri serta sikapnya yang nggak gentar untuk menyuarakan apa yang dia yakini itulah jati diri Tiyo yang sebenarnya.

Panjang umur, perjuangan! Tetap berhati-hati dan semoga bisa terus konsisten mengritisi kebijakan yang buruk ya, Tiyo! (Sundara/E10)

Tags:

Inibaru Indonesia Logo

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

Sosial Media

Copyright © 2026 Inibaru Media - Media Group. All Right Reserved