BerandaHits
Rabu, 17 Jun 2025 09:21

Waspadai Halusinasi AI: Ketika si Cerdas Tampilkan Realitas Palsu!

Ilustrasi: Dengan jawaban yang meyakinkan, model AI berpotensi 'menipu' dengan jawaban yang nggak faktual. (Business Reporter)

Cerdas dan seperti tahu segala hal; tapi jangan tertipu, karena kecerdasan buatan juga bisa menampilkan realitas palsu. Inilah yang dikenal sebagai 'Halusinasi AI'. Bagaimana bisa terjadi?

Inibaru.id - Steven Schwartz, seorang pengacara di New York, AS, pada 2023 lalu mengaku menggunakan platform kecerdasan buatan untuk membantu menulis sebuah gugatan hukum. Nahas, mesin AI itu menghasilkan referensi kasus palsu yang nggak pernah ada di pengadilan AS.

Kasus yang sempat diberitakan The New York Times dan BBC pada Mei 2023 itu kemudian membuat sang pengacara didenda oleh pengadilan federal AS lantaran menggunakan sumber yang nggak akurat. Inilah yang terjadi saat kecerdasan buatan "berhalusinasi".

Ya, seperti otak manusia yang kadang suka halu, AI juga acap melakukannya. Dalam banyak kasus, "penyakit" yang dikenal sebagai halusinasi AI, yakni ketika si cerdas ini menampilkan realitas palsu ini memang memicu konsekuensi hukum, penyesatan publik, bahkan reputasi buruk pada instansi.

Pada 2023, sebuah media global pernah tertangkap basah menerbitkan artikel olahraga buatan AI yang berisi kutipan dan sumber fiktif. Hal serupa juga pernah terjadi pada Februari 2024, yang melibatkan komentar palsu pejabat publik Jerman. Setelah viral, artikel ditarik dan mereka harus minta maaf.

Ketika AI berhalusinasi

Berkaca dari potensi AI melakukan halusinasi ini, beberapa kali Khalid Mohammad terpaksa menulis ulang perintah di platform teknologi AI untuk mengecek kepastian informasi yang diberikan oleh mesin berbasis kecerdasan buatan tersebut.

"Ketika punya teman yang sangat cerdas dan terbiasa mengungkapkan fakta, kita cenderung memercayai setiap perkataannya. Inilah yang terjadi ketika kita bertanya pada AI. Faktanya nggak selalu begitu. Beberapa kali saya tanya, jawaban AI tampak benar, padahal keliru," ucap copy writer asal Surabaya ini, Senin (16/6/2025).

Seperti kata Khalid, tanpa disadari mesin AI acap memunculkan sederet informasi palsu, tapi terlihat sesuai fakta. Inilah yang oleh para pengguna kecerdasan buatan sebagai halusinasi AI; yakni ketika output model fiktif atau nggak akurat, meski disajikan seolah faktual.

Dalam bahasa teknis, ini terjadi ketika AI mengada-ada informasi yang nggak ada dalam data atau kontekstual input pengguna. Perlu kamu tahu, mesin kecerdasan buatan bekerja dengan memprediksi kata berikutnya berdasarkan statistik. Itulah yang membuat jawaban AI luwes dan terkesan meyakinkan.

Meyakinkan, tapi salah

Ilustrasi: Saat data yang diinput nggak lengkap atau bias, mesin AI berpotensi memunculkan informasi palsu tapi terlihat sesuai fakta. (Medium)

Mesin AI bekerja dengan kemampuan untuk menjawab segala macam pertanyaan dengan meyakinkan melalui prediksi berdasarkan statistik. Nah, saat data yang diinput nggak lengkap atau bias, output-nya akan tetap meyakinkan, tapi mengesampingkan hal di luar pertanyaan, misalnya terkait benar-salah.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Berikut adalah tiga kemungkinan yang muncul:

  1. Data pelatihan yang bias atau nggak lengkap: saat model hanya tahu sebagian, ia akan menebak pertanyaan itu, yang kemungkinannya justru salah besar;
  2. Mesin hanya mengandalkan prediksi kata, bukan logika atau verifikasi. Secara teknis, ini dikenal dengan istilah burung beo probabilistik (stochastic parrot);
  3. Kemampuan RLHF atau reinforcement learning dengan feedback sangat manusiawi. Inilah yang memungkinkan halusinasi AI jika instruksi yang kita berikan kurang jelas.

Terhindar dari Halusinasi AI

Untuk mendeteksi adanya halusinasi AI, beberapa hal telah dikembangkan para peneliti secara global. Dikutip dari Time, algoritma seperti "semantic entropy" diyakini bisa membantu mendeteksi klaim yang nggak koheren. Ini bisa digunakan untuk menghindarkan adanya halusinasi tersebut.

Dari segi pengguna, seperti yang dilakukan Khalid, mengecek jawaban yang diberikan mesin AI adalah sebuah keharusan. Berikut adalah beberapa hal yang bisa kamu lakukan:

  • Selalu verifikasi dengan sumber terpercaya apabila membutuhkan fakta;
  • Gunakan AI sebagai pendukung, bukan pengganti. Minta referensi atau metadata untuk memastikan validitas data yang disajikan;
  • Gunakan tools atau layanan premium dengan filter fakta;
  • Waspadai prompt "sensational" yang mendorong AI melakukan rekayasa cerita, kecuali kamu memang menginginkan mesin tersebut berhalusinasi;
  • Batasi ruang improvisasi AI dengan menyertakan prompt seperti: jawab hanya dengan fakta, bukan opini atau spekulasi;
  • Minta AI untuk memuat data dengan sumber yang valid atau memberi disclaimer jika nggak memiliki data tersebut; dan
  • Prompt yang bias mendorong mesin menebak-nebak jawaban; maka tulislah permintaan secara spesifik.

Untuk diketahui, halusinasi AI nggak terjadi karena kesengajaan, tapi keterbatasan prinsip probabilitas. Maka, jika menginginkan kecerdasan buatan untuk mendukung tulisan hukum, medis, atau akademik, lakukanlah verifikasi. Cukup kita yang berhalusinasi, AI-mu jangan! Ha-ha. (Siti Khatijah/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengulik Filosofis Naga Jawa dalam Kosmologi Masyarakat Jawa Kuno

2 Jun 2026

Prabowo Copot Dadan Hindayana dari Kepala BGN, Nanik S Deyang Ditunjuk sebagai Pengganti

3 Jun 2026

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: