BerandaHits
Jumat, 20 Mar 2025 14:41

Unggahan 'You Pass The Law, We Start The War' dalam Aksi Tolak RUU TNI; Apa Artinya?

Istilah 'You Pass the Law, We Start the War' yang banyak muncul di media sosial sebagai protes atas RUU TNI. (X/sejutaluka)

Banyak warganet menyuarakan protes menolak pengesahan RUU TNI dengan memasang unggahan 'You Pass The Law, We Start The War'. Dari mana sih asal dari istilah ini?

Inibaru.id – RUU TNI yang jadi kontroversi akhirnya benar-benar disahkan DPR RI. Dalam RUU ini, dibahas tentang semakin meluasnya posisi sipil yang bisa diisi prajurit TNI aktif, yang dianggap banyak orang sebagai kemunduran demokrasi.

Di sejumlah media sosial, banyak yang menyebut pengesahan RUU tersebut sebagai tanda berakhirnya reformasi yang dimulai pada 1998 lalu. Banyak pihak yang kemudian menyuarakan kekecewaan ini dengan mengunggah postingan di platform tersebut.

Media sosial seperti X (dulu disebut sebagai Twitter) dan Instagram pun segera dibanjiri pelbagai unggahan yang berisikan protes, termasuk tulisan "You Pass The Law, We Start The War" yang cukup banyak mendapatkan atensi publik.

Secara harfiah, arti ungkapan tersebut adalah peringatan untuk anggota dewan; jika aturan itu jadi disahkan, masyarakat akan marah dan melakukan protes besar-besaran. Namun, melihat aksi penolakan RUU TNI yang digelar sejak Kamis (20/3/2025) dini hari tadi, sepertinya nggak banyak yang datang.

Aksi damai di depan Gedung DPR itu tampak timpang dibandingkan dengan ribuan anggota TNI dan Polri yang sudah disiagakan di lokasi, lengkap dengan pagar beton yang sepertinya sangat mustahil ditembus massa.

Melawan rakyat sipil bermodal poster protes dengan ribuan aparat bersenjata lengkap seperti akan berperang, seakan memperlihatkan bahwa aksi itu nggak akan digubris, apalagi disambut dengan tangan terbuka oleh pemangku kekuasaan.

Aksi unjuk rasa di Hong Kong pada 2019-2020 lalu. (X/tommywalkerco)

Lupakan aksi yang nggak disambut ramah itu. Mari kita bahas tentang "You Pass The Law, We Start The War". Perlu kamu tahu, ujaran ini sempat disuarakan oleh penyanyi Hindia dalam konsernya beberapa saat lalu, lo. Lalu, apa maknanya?

Usut punya usut, ungkapan tersebut rupanya berasal dari coretan demonstran dari aksi unjuk rasa besar-besaran yang digelar di Hong Kong selama 2019-2020 lalu. Yap, aksi luar biasa masif itu, yang nggak hanya digelar 1-2 kali, tapi terus-menerus dengan gelombang massa yang terus bertambah.

Aksi ini dilakukan untuk memprotes RUU Ekstradisi yang dikhawatirkan bakal berujung pada kemampuan Tiongkok daratan dengan komunismenya mengubah demokrasi di Hong Kong.

Nah, istilah itu dibuat masyarakat untuk memperingatkan para pemangku kekuasaan: Jika anggota DPR Hong Kong menyetujui RUU Ekstradisi, warga akan kompak melakukan aksi besar-besaran secara terus-menerus untuk melawannya, yang akhirnya benar-benar mereka lakukan.

Berkat aksi itu, RUU Ekstradisi akhirnya ditarik kembali oleh otoritas setempat pada 9 Juni 2020. Saat bersamaan, pandemi Covid-19 merebak, membuat demonstrasi terpaksa disudahi.

Bisa dikatakan, kemarahan warga yang kompak dan konsisten serta kemauan pemerintah dan DPR Hong Kong mendengarkan protes, meski harus menunggu untuk sekian lama, menjadi alasan RUU kontroversial tersebut akhirnya nggak jadi disahkan.

Hal ini tentu akan menjadi kontras dengan RUU TNI yang disahkan dalam kurun waktu supercepat, seolah-olah nggak ada calon undang-undang yang lebih mendesak untuk dibahas. Saat hukum sudah disahkan begini, apakah ini waktunya frasa kedua "we start the war" berlaku? (Arie Widodo/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Cantiknya Pemandangan Pantai Dasun Lasem, Kabupaten Rembang

3 Mar 2026

Saat Takjil War, Waspada dengan Sejumlah Pembungkus Takjil Nggak Sehat Ini

3 Mar 2026

OTT Edisi Ramadan, KPK Bawa Bupati Pekalongan Fadia Arafiq ke Jakarta

3 Mar 2026

Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto, Jemaah Maiyah yang Lantang Kritik Program MBG

3 Mar 2026

Tren 'Grading Card', Autentifikasi Kartu Koleksi agar Nilai Jual Lebih Tinggi

3 Mar 2026

Mulai Maret Ini, Anak di Bawah 16 Tahun Dibatasi Main Medsos

3 Mar 2026

Kartu Mebel Jepara, 'Tiket Emas' biar UKM Ukir Naik Kelas

3 Mar 2026

Sejuk dan Alami, Begini Keindahan Air Terjun Kyai Buku Jepara

4 Mar 2026

Sepanjang 2025, Uang Hilang Setara Rp355 Miliar di Jepang Kembali ke Pemiliknya

4 Mar 2026

Opsi 'Sekolah Swasta Gratis' Akan Terintegrasi dengan SPMB 2026 di Kota Semarang

4 Mar 2026

Ponpes Raudhatul Qur'an; Cetak Ratusan Hafiz dengan Biaya Bulanan Murah Meriah

4 Mar 2026

Menguliti Asal Usul Nama Kurma

4 Mar 2026

Tragedi Cinta Mangir-Pembayun; Saat Asmara Jadi Senjata Penakluk Mataram

4 Mar 2026

Aneka Festival Musim Semi di Korea Selatan yang Bisa Kamu Datangi

5 Mar 2026

Benar Nggak Sih Sawit Bakal Menyelamatkan Indonesia dari Krisis Energi Global?

5 Mar 2026

Wajibkan Pencairan Maksimal H-7 Lebaran, Jateng Aktifkan Posko THR untuk Pengaduan

5 Mar 2026

Uji Coba Bus Listrik untuk Transportasi Publik yang Inklusif dan Ramah Lingkungan

5 Mar 2026

Kekerasan Seksual vs Main Hakim Sendiri; Undip Tegaskan Nggak Ada Toleransi!

5 Mar 2026

Siap-Siap Gerah! Kemarau 2026 Diprediksi Datang Lebih Cepat dan Lebih Kering

5 Mar 2026

Kok Bisa Sih Cadangan Minyak Indonesia Cuma 20 Hari?

6 Mar 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: